Home
Dharma Santi Nyepi Nasional 2026 Di Taman Werdhi Budaya Art Center Denpasar Bali, Tegaskan Tat Twam Asi, Tri Hita Karana Dan Persaudaraan Dalam Semangat "Vasudhaiva Kutumbakam, Satu Bumi, Satu Keluarga, Harmoni Nusantara Indonesia Maju”

HinduKupang.com, NTT - Bali - Kegiatan Dharma Santi Nyepi Nasional Tahun Baru Saka 1948 / 2026 M digelar pada 17 April 2026 di Taman Werdhi Budaya Art Center, Denpasar Provinsi Bali yang berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 22.00 WITA dihadiri sekitar 5000an peserta. Acara Dharma Santi Nasional ini menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi dengan mengusung tema “Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju.” Tema tersebut menegaskan pentingnya persaudaraan universal, persatuan bangsa, serta keharmonisan budaya sebagai fondasi membangun Indonesia yang lebih maju dan inklusif.
Sebelum pembukaan resmi, rangkaian acara diawali dengan berbagai pertunjukan seni budaya seperti Tari Cendrawasih dan Sendratari Drama Gong yang mencerminkan kekayaan tradisi Bali. Penampilan musisi Bali, Arya Suarnata, turut memeriahkan suasana dengan sajian hiburan yang mendapat apresiasi peserta. Pembukaan resmi ditandai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza, pembacaan Pancasila, Tari Selat Segara, serta Pembacaan Sloka dari Pustaka Suci Veda.

Dalam prosesi acara, hadir juara peserta juara Utsawa Dharma Gita Dewasa Putri tingkat provinsi Bali, yang membawakan Alunan sloka Suci dari Atharvaveda dibacakan dalam acara Dharma Santi Nyepi Nasional sebagai pengingat nilai universal tentang keberagaman umat manusia dalam satu keluarga besar di bumi.
Atharvaveda XII.1.4.5 :
*Janam Bbhrati bahudha vivacasam, Nanadharmanam prthivi jathaukasam Sahasram dhara dravinasya me duham, Dhuruveva dhenur anapas phuranti.*
Terjemahan : Bumi Pertiwi yang memikul
beban, bagaikan sebuah keluarga, semua
orang berbicara dengan bahasa yang
berbeda-beda dan memeluk kepercayaan
yang berbeda, semoga ia melimpahkan
kekayaan kepada kita tumbuh
penghargaan diantara kita.
Pesan tersebut menekankan pentingnya toleransi dan saling menghargai antarumat beragama dan budaya. Kegiatan juga diisi dengan persembahyangan bersama Puja Tri Sandhya tepat jam 18:00 WITA yang diikuti seluruh peserta Dharma Santi Nyepi Nasional sebagai bentuk penguatan spiritual kolektif.

Acara ini dihadiri secara langsung oleh sejumlah Tokoh Nasional, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof.Dr.Pratikno,M.Soc.Sc, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI Prof.Dr.Drs. I Nengah Duija,M.Si, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI / Senator Daerah Pemilihan Bali Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik, dan Arya Wedakarna, serta Guru Wisesa / Gubernur Provinsi BaLi periode 2018-2023 dan 2025-2030, Bapak Dr.Ir. I Wayan Koster,M.M. Selain itu, hadir pula jajaran pengurus PHDI Pusat diantaranya Ketua Pengurus Harian PHDI Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Sabha Walaka Kolonel Inf.(Purn) I Nengah Dana,S.Ag , dan Dharma Adhyaksa Ketua Sabha Pandita Ida Pedanda Nabe Gde Bang Buruan Manuaba, hadir juga Ketua Prambanan Festival 2026 I Nyoman Ariawan Atmaja, serta perwakilan PHDI daerah dari seluruh Provinsi di Indonesia yang memperkuat nuansa kebangsaan dalam kegiatan tersebut.


Ucapan selamat "Dharma Santi Nyepi Nasional Tahun Saka 1948" disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Jenderal TNI (HOR)(Purn) H.Prabowo Subianto Joyohadikusumo melalui tayangan video. Presiden RI Prabowo Subianto mengajak umat Hindu di seluruh Indonesia menjadikan nilai Tat Twam Asi , Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku, sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat serta ajaran Hindu Dharma Hubungan Tri Hita Karana (Parahyangan, Pawongan dan Palemahan) sebagai landasan menjaga harmoni sosial dan persatuan nasional. Pesan tersebut mempertegas relevansi ajaran Hindu Dharma Indonesia di dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.


Hindukupang.com : RaryTriguntara bersama Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementerian Agama RI Prof.Dr.Drs. I Nengah Duija,M.Si, Dan Arkeolog Muda, Ketua Panitia Abhiseka Candi Prambanan (2019) sdri.Nur Kesawa (Nur Khotimah)

Ketua Panitia Dharma Santi Nyepi NasionaL 2026 Tahun Saka 1948, Marsekal Muda (Marsda) TNI (Purn) I Made Susila Adnyana,S.I.P.,S.H.,M.Hum Bersama Rary Triguntara (Hindukupang.com)

Sekretaris Panitia Dharma Santi Nasional 2026 I Made Sunarsa,SE bersama HinduKupang.com

Dharma Wacana disampaikan oleh Ida Pedanda Gede Made Putra Kekeran yang menekankan pentingnya persatuan dan kerja bersama dalam membangun peradaban. Laksanakan Swadharma Kewajiban tanpa mengharapkan hasil, karena Hasil itu adalah milik Hyang Maha Kuasa.
Ketua Panitia Dharma Santi Nyepi NasionaL 2026 Tahun Saka 1948, Marsekal Muda TNI (Purn.) I Made Susila Adnyana, dalam laporan panitia menyampaikan seluruh rangkaian kegiatan Nyepi telah berjalan lancar, dan ucapan terima kasih telah didukung oleh partisipasi berbagai pihak. Hal ini diperkuat oleh Sekretaris Panitia I Made Sunarsa yang menyebut kegiatan tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban publik atas pelaksanaan rangkaian acara dari menyambut Hari Suci Nyepi, bakti sosial, menjaga ekosistem lingkungan, seminar nasional Nyepi, hingga penutup yaitu dengan Dharma Santi Nyepi Nasional yang beberapa tahun lalu dilakukan di Jakarta dan Candi Prambanan Yogyakarta, dan pada tahun 2026 ini dilaksanakan di Art Center Denpasar Bali.
Sebagai penutup, rangkaian Dharma Santi diakhiri dengan sambutan dari sejumlah pejabat serta penegasan kembali komitmen untuk menjaga harmoni dalam keberagaman. Selain itu juga dilaksanakan Penandatangan Kerjasama PHDI Pusat dengan Direktur Kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan, dan pemberian perlindungan BPJS kepada Rohaniawan Hindu. Momentum ini tidak hanya menjadi refleksi spiritual umat Hindu, tetapi juga ruang penguatan nilai kebangsaan yang inklusif dan berkelanjutan.(Guntara)
Editor : RyGuN
Sumber dan Foto : Hindukupang.com / Dharma Santi Nasional 2026 / Guntara
Video Streaming Dharma Santi Nasional 2026 di Art Center Bali Kunjungi Disini
Video Ucapan Dharma Santi Nyepi Nasional dari Presiden RI Prabowo Subianto melalui ucapan Video Kunjungi Disini

Foto Hindukupang.com : Acara Dharma Santi Nyepi NasionaL, 17 ApriL 2026,
di Art Center Denpasar Bali, Rary Triguntara Bersama Bapak Letnan Jenderal TNI AD
*"Letjen TNI I Nyoman Cantiasa,S.E.,M.Tr.(Han)."*
Beliau pernah menjabat Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (Waka BIN), dan
Saat ini menjadi Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Darat (Koorsahli KSAD).
Beliau juga pernah menjadi Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III.
Kemudian Beliau adalah mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus ke-31 pada tahun 2019 dan merupakan lulusan terbaik (Adhi Makayasa) Akmil 1990 yang berpengalaman di bidang infanteri Kopassus

HinduKupang.com bersama Forum Alumni KMHDI, Para Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI)






Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 18 April 2026
- Hits: 408
Umat Hindu Kupang Gelar Ritual Tawur Kasanga dan Pawai Ogoh-Ogoh Sambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026
Umat Hindu Kupang Gelar Ritual Tawur Kasanga dan Pawai Ogoh-Ogoh Sambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 , Tanggal 18 Maret 2026 (Foto : k'gun)
HinduKupang.com, NTT – Ribuan umat Hindu di Kota Kupang memadati perempatan Catus Pata Jalan El Tari, tepat di depan Kantor Gubernur NTT, untuk melaksanakan upacara Tawur Kasanga dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948, pada hari Rabu 18 Maret 2026.
Prosesi ritual yang berlangsung khidmat sejak pukul 12.00 WITA ini dipimpin langsung oleh Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba, didampingi Ida Rsi Istri Manuaba. Turut serta dalam prosesi tersebut Ida Bhawati I Made Suaba Aryanta, para Jero Gede, serta Jero Mangku Lanang dan Istri.
Usai persembahyangan bersama dan prosesi nunas tirta serta bija, suasana berubah menjadi meriah dengan penampilan berbagai tarian persembahan. Seni tari tersebut dibawakan secara apik oleh Siswi TK Pratama Widyalaya Saraswati dan SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang, Sekolah Pasraman Upanisada Remaja Hindu, perwakilan sanggar seni, hingga ibu-ibu dari Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Kupang NTT.






Puncak acara yang paling dinantikan warga adalah Pawai Ogoh-ogoh. Sebanyak empat Ogoh-ogoh berukuran besar dan beberapa Ogoh-ogoh cilik diarak mengelilingi rute Jalan El Tari menuju Rumah Jabatan Gubernur NTT dan kembali ke titik semula. Karya seni tersebut berasal dari Umat Hindu yang tergabung dalam paguyuban Warga Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) yaitu Sektor / Tempekan Kuanino TNI, Tempekan Brimob, dan Tempekan Polda NTT, yang semuanya menampilkan wujud Asura (Raksasa) sebagai simbol Bhuta Kala, dan sisi gelap manusia yaitu amarah, dengki, iri hati dan kerakusan.

Rangkaian acara ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang, Bapak dr.Christian Widodo, didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kupang Ibu dr.Widya Cahya, Kapolresta Kupang Kota Kombes Pol. Djoko Lestari,S.I.K.,M.M., Dandim 1604 Kupang yang diwakili Danramil 1604-01/Kupang Bapak Mayor Infanteri Hendry Dunant,S.IP, Jajaran Forkompinda Kota Kupang dan Wakil ketua II Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang Bapak I Gusti Ngurah Suarnawa, serta Ketua Panitia Nyepi 2026, I Wayan Gede Astawa. Hadir juga Ketua PHDI Provinsi NTT I Wayan Darmawa, Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Korwil NTT Jero Gede I Made Suparta, Ketua Permabudhi NTT Indra Effendy, Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi NTT Theo Widodo, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang yang diwakili Kepala Tata Usaha, serta Camat dan Lurah sekota Kupang, Mahasiswa-Mahasiswi Hindu PD.KMHDI NTT, Peradah Kupang NTT, Alumni KMHDI NTT, Puskor Hindunesia, ICHI NTT, BDAK, Organisasi dan Lembaga Hindu di Kupang, serta tamu undangan lainnya.




Kegiatan Pawai Ogoh-ogoh berlangsung hingga sore hari pukul 17.30 WITA, antusiasme umat Hindu Kupang dan warga sekitar tetap tinggi menyaksikan iring-iringan budaya tersebut di jantung Kota Kupang sebagai Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Acara pawai ogoh-ogoh juga diiringi oleh Sekehe Gong TAT TWAM ASI yang terdiri dari sekehe Sentana Satya Budaya (SSB), dan Sekehe Demen dan sekehe bleganjur Tri Datu.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Pelaksana Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 PHDI Kota Kupang, I Wayan Gede Astawa,S.Sos.,M.M., menyampaikan bahwa perayaan tahun ini mengusung tema "Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju". Tema ini menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman bangsa.
"Rangkaian kegiatan telah kami mulai sejak awal Maret, yang tidak hanya menyasar internal umat Hindu, tetapi juga melibatkan saudara-saudara kita dari lintas agama," ujar Wayan Gede Astawa di hadapan jajaran Forkopimda Kota Kupang.



Aksi Sosial dan Simbol Toleransi
Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 PHDI Kota Kupang, I Wayan Gede Astawa melaporkan sejumlah agenda yang telah sukses dilaksanakan, di antaranya:
Bakti Sosial: Donor darah di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana pada 1 Maret 2026, yang berhasil mengumpulkan 59 kantong darah.
Saka Bhoga Sewanam: Aksi toleransi nyata berupa pembagian takjil dan buka puasa bersama umat islam jamaah Masjid Al-Fitrah Kampung Nelayan Oesapa.
Ritual Keagamaan: Upacara Melasti yang digelar di Pura Manik Segara Oebananta pada Senin (16/3/2026) sebagai sarana penyucian diri dan alam semesta.



Pawai Ogoh-ogoh di Tengah Libur Panjang
Tepat pada hari ini, Rabu (18/3), sebanyak empat buah Ogoh-ogoh diarak sebagai simbol penetralan kekuatan negatif sebelum umat melaksanakan Catur Brata Penyepian. I Wayan Gede Astawa mengakui adanya tantangan jumlah umat tahun ini, mengingat banyak warga yang memilih pulang ke Bali karena bertepatan dengan libur panjang nasional.
Meski demikian, dukungan dari berbagai pihak tetap mengalir kuat, termasuk bantuan dana dari Pemerintah Kota Kupang, sektor swasta, hingga kontribusi dari Klasis Kota Kupang Timur. "Dukungan dari saudara-saudara umat Kristiani melalui Klasis Kota Kupang Timur, baik secara moril maupun materiil, menunjukkan bahwa toleransi di Kota Kupang telah terjalin sangat harmonis dan menyentuh sisi emosional yang mendalam," tambahnya.
Pesan Damai Lintas Agama
Menutup laporannya, Wayan Gede Astawa juga memberikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang tengah menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Ia berharap momentum Nyepi dan Idul Fitri yang berdekatan ini dapat membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Kota Kupang.



Acara yang berlangsung khidmat dan meriah ini dipusatkan sebagai momentum penyucian diri serta alam semesta sebelum memasuki masa Catur Brata Penyepian. Wakil Ketua II Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, I Gusti Ngurah Suarnawa,SKM.,M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ritual Tawur Kesanga Nyepi Tahun Saka 1948/2026 merupakan bagian dari upacara Bhuta Yadnya. Ritual ini bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam (Bhuana Agung) dan diri sendiri (Bhuana Alit).
"Kami bersyukur pelaksanaan Tawur Kesanga yang dipimpin oleh Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba berjalan lancar. Ini adalah upaya menetralkan energi negatif dan memohon kesejahteraan bagi seluruh makhluk," ujar Gusti Ngurah Suarnawa di hadapan Wali Kota Kupang serta para undangan.
Filosofi Ogoh-Ogoh dan Pesan Perdamaian
Puncak keramaian ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh, karya seni patung raksasa yang melambangkan sifat buruk atau Bhuta Kala. I Gusti Ngurah Suarnawa menjelaskan bahwa pengarakan patung-patung Ogoh-Ogoh berwujud Raksasa ini merupakan simbol pembersihan diri manusia kalau amarah mirip raksasa yaitu berbagai sifat marah, rakus, dan iri hati yang nantinya akan disucikan, agar menjadi sifat dewata dan welas kasih.
Tahun 2026 ini, perayaan Nyepi mengusung tema "Vasudhaiva Kutumbakam", yang berarti Satu Bumi, Satu Keluarga. Tema ini menekankan harmoni nusantara dan semangat Bhinneka Tunggal Ika dalam menjaga persaudaraan dan toleransi di tengah masyarakat.

Persiapan Tapa Brata
Memasuki hari puncak Nyepi pada Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu akan melaksanakan Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh. Terdapat empat pantangan utama yang wajib dipatuhi:
Amati Geni: Tidak menyalakan api atau cahaya sebagai simbol pengendalian amarah.
Amati Karya: Tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik.
Amati Lelungaan: Tidak bepergian dan tetap berada di rumah untuk perenungan.
Amati Lelanguan: Tidak mencari hiburan demi menjaga keheningan batin.
"Keheningan ini adalah momen refleksi untuk menjaga hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta atau Tri Hita Karana," ungkap I Gusti Ngurah Suarnawa, Wakil Ketua PHDI Kota Kupang.

Apresiasi untuk Pemerintah Kupang Kota Kasih
Dalam kesempatan tersebut, PHDI Kota Kupang menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Kota Kupang atas dukungan dan fasilitas yang diberikan. Menurut I Gusti Ngurah Suarnawa, meskipun secara kuantitas umat Hindu di Kupang tergolong kecil, namun perhatian pemerintah memberikan ruang bagi kami umat Hindu Kota Kupang untuk berkontribusi dalam pembangunan kota ini.
"Kami bangga Bapak Wali Kota Kupang memberikan kesempatan bagi semua umat beragama, termasuk kami, untuk berpartisipasi di Kota Kasih ini," pungkasnya sebelum memohon kesediaan Wali Kota Kupang untuk melepas secara resmi peserta pawai Ogoh-ogoh. Rangkaian hari raya ini nantinya akan ditutup dengan prosesi Ngembak Geni pada tanggal 20 Maret 2026, di mana umat kembali simakrama / silaturahmi serta memulai aktivitas sosial dengan semangat kesucian yang baru.

Dalam sambutannya Wali Kota Kupang Bapak dr.Christian Widodo mengatakan tema Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di tahun 2026 adalah VASUDHAIVA KUTUMBAKAM, Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni Indonesia Maju. Tema pada puncak hari Suci Nyepi 19 Maret 2026 sangat bagus dan relevan dengan kota Kupang sebagai Kota Toleran dan Harmoni. Ibarat untaian nada-nada dalam lagu musik semua nada harmoni berbeda namun menjadi alunan yang indah, ungkap dr.Christian Widodo. Begitupun Nyepi sebagai hari keheningan yang bisa dimaknai untuk kita semuanya, sangat penting di era saat ini, ternyata kita memang harus perlu hening sejenak dari segala kesibukan, ibarat gadget HP saja apabila bapak ibu pakai terus tanpa restart atau hening jeda sejenak maka bisa macet error / hang, pungkas Wali Kota Kupang yang disambut tepuk tangan ribuan masyarakat.

Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo mengatakan begitupun juga kalau kalimat kata per kata disambung tanpa adanya jeda hening seperti spasi, maka kalimat akan tersambung semua dan tidak memiliki makna. Maka itulah jeda hening "Nyepi" seperti demikian, kata per kata diberikan spasi, jeda, agar menjadi makna dan bahasa yang bisa dipahami, ucap dr.Christian Widodo. Kemudian warna-warni kita perlu menjaga keragaman dalam semangat toleransi beragama di Kupang Kota KASIH, seperti warna warni dalam lukisan canvas,tidak mungkin semua satu warna saja, perlu ada warna warni lainnya di atas canvas sehingga menghasilkan lukisan yang indah dipandang, ibarat kota Kupang ini canvas Lukisan maka mari kita bersama-sama membangun kota kupang dalam Harmoni, semangat solidaritas dan toleransi. Kota Kupang NTT juga telah meraih penghargaan masuk 10 besar tingkat Nasional sebagai daerah toleransi terbaik, mari terus kita jaga, ungkap Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo. Acara Pawai Ogoh-Ogoh dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo dengan membunyikan gong gamelan disambut dengan sekehe gong Tat Twam Asi, dan parade Mepeed dari anak-anak dan ibu ibu WHDI Kota Kupang NTT kemudian dengan pawai Ogoh-Ogoh.

Pawai Ogoh-Ogoh Umat Hindu Kupang , Provinsi Nusa Tenggara Timur, Di Tilem Sasih Kesanga, dan Buda Wage Klawu , 18 Maret 2026, Alumni KMHDI NTT Bersama Ketua Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT sdr.Putu Eka Saputra.



Makna Ogoh-Ogoh dalam Ajaran Hindu Dharma
Dalam ajaran Hindu Dharma, Ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa untuk pawai, melainkan memiliki kedalaman filosofis yang berkaitan erat dengan konsep Sad Kerthi dan keharmonisan alam semesta.
1. Simbolis Bhuta Kala
Ogoh-ogoh divisualisasikan dalam wujud Asura (raksasa) yang menyeramkan sebagai representasi dari Bhuta Kala. Dalam kosmologi Hindu, Bhuta berarti kekuatan alam dan Kala berarti waktu. Wujud yang menyeramkan ini menyimbolkan sifat-sifat negatif, angkara murka, dan kekuatan destruktif yang ada di alam semesta maupun di dalam diri manusia (Microcosmos).
2. Ritual Nyomya (Netralisasi)
Tujuan utama dari pembuatan dan pengarakan Ogoh-ogoh adalah untuk proses Nyomya. Setelah diarak, Ogoh-ogoh biasanya akan dibakar (ritual Pralina). Proses ini melambangkan upaya manusia untuk menetralisir kekuatan negatif (Bhuta Kala) agar menjadi kekuatan positif (Dewa) yang mendukung kehidupan.
3. Pembersihan Diri Sebelum Catur Brata Penyepian
Secara spiritual, pawai ini dilakukan pada hari Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi). Dengan "mengeluarkan" simbol-simbol buruk dalam bentuk Ogoh-ogoh dan kemudian memusnahkannya, umat Hindu diharapkan telah membersihkan lingkungan dan batinnya dari noda-noda duniawi. Hal ini menjadi persiapan penting sebelum memasuki keheningan total saat melaksanakan Catur Brata Penyepian keesokan harinya.
4. Keseimbangan Bhuana Alit dan Bhuana Agung
Upacara ini merupakan manifestasi dari ajaran Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan alam (Palemahan). Dengan menghormati dan menyeimbangkan kekuatan alam bawah, diharapkan tercipta kedamaian di dunia (Bhuana Agung) dan di dalam jiwa manusia (Bhuana Alit).
Narasi : k'Gun / HinduKupang.com
Foto : RyGuN

Foto Hindukupang.com : Alumni KMHDI bersama Bli Dewa Putra Utama, (Alumni Ketua PD.KMHDI NTT Ke 3)


Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 18 March 2026
- Hits: 570
Ribuan Umat Hindu Kupang NTT Gelar Prosesi Melasti Jelang Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 Dalam Semangat "Vasudaiva Kutumbakam"

HinduKupang.com , NTT - Suasana religius menyelimuti pesisir Oebananta, Kelurahan Fatubesi, pada Senin (16/3/2026) sore. Nampak ribuan umat Hindu dari Kota Kupang dan Kabupaten Kupang memadati Pura Manik Segara Oebananta, untuk melaksanakan upacara Melasti (Melis) dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 , yang tepat NYEPI dirayakan nanti pada 19 Maret 2026.
Di hari Senin, 16 maret 2026, sejak pukul 15.00 WITA, iring-iringan umat Hindu yang mengusung berbagai Pralingga dan Tapakan (simbol suci Tuhan) dari berbagai Pura Hindu tiba di lokasi diiringi perpaduan sekehe gamelan gong Sentana Satya Budaya, sekehe demen dan sekehe bleganjur Tri Datu.
Deburan ombak Teluk Kupang menjadi saksi kekhusyukan umat dalam melakukan ritual penyucian, baik penyucian diri (Bhuana Alit) maupun alam semesta (Bhuana Agung), dengan sarana air suci kehidupan (Amerta) dari Tengah lautan TeLuk Kupang NTT. Perayaan Nyepi tahun 2026 ini mengusung tema nasional yang sarat makna: "Vasudaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga". Menurut Ketua Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi 2026 PHDI Kota Kupang, I Wayan Gede Astawa bahwa pesan universal ini menekankan pentingnya persaudaraan tanpa sekat, harmoni, serta tanggung jawab kolektif seluruh umat manusia dalam menjaga kelestarian bumi.


Tema "Vasudaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga" ini merupakan panggilan bagi kita semua untuk menyadari bahwa di bawah langit yang sama, kita adalah satu keluarga besar yang harus saling menjaga," ujar Rary Triguntara , Alumni KMHDI NTT dan tokoh umat HinduKupang saat wawancara bersama media di sela-sela prosesi Upacara Melasti berlangsung. Upacara melasti ini juga turut berpartisipasi keamanan dari Satpol PP kota Kupang, Karang Taruna Kota Kupang dan Kelurahan Fatubesi, para pemuda lintas agama, kemudian Dinas Perhubungan serta Pecalang Banjar Dharma Agung Kupang, sehingga jalur menuju pasar Oeba Fatubesi dalam upacara Melasti berjalan dengan lancar.
Rangkaian hari suci akan berlanjut pada 18 Maret 2026 dengan ritual Tawur Kesanga. Menurut Wakil Ketua PHDI Kota Kupang I Gusti Ngurah Suarnawa bahwa di Kota Kupang, kemeriahan akan memuncak melalui Upacara Tawur Kesanga dan kemudian Pawai Ogoh-ogoh yang dipusatkan di Jalan El Tari, tepat di depan Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT. Pawai ini bertujuan sebagai simbol netralisasi kekuatan negatif agar alam semesta kembali murni sebelum memasuki hari Sipeng atau Nyepi pada 19 Maret 2026.


Makna Filosofis Upacara Melasti dan Nyepi 1948 Saka yaitu melalui Upacara Melasti bukan sekadar ritual tahunan, melainkan memiliki esensi teologis dan ekologis yang mendalam bagi umat Hindu :
1. Melasti (Penyucian Spirit, Jiwa dan raga)
Secara harfiah, Melasti bertujuan menyucikan berbagai Pralingga (Daksina Linggih), senjata Dewata Nawa Sanga, Pajeng Kober, berbagai Pura Hindu yang ada di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, dengan tirta Amerta dari laut menyucikan , kemudian kepada umat untuk menghanyutkan kotoran batin (klesa) dan segala bentuk pencemaran melebur spiritual ke laut menyambut datangnya Tahun Baru Saka 1948. Laut dipercaya sebagai sumber air suci (Amerta) yang mampu melebur kesalahan dan memberikan energi kehidupan baru.


2. Peningkatan Kesadaran "Vasudaiva Kutumbakam"
Sesuai tema tahun 1948 Saka, Melasti menjadi momentum untuk meruntuhkan ego individu. Melalui konsep "Satu Bumi, Satu Keluarga", umat diingatkan bahwa kerukunan antar sesama manusia dan toleransi adalah fondasi utama dalam menjaga kedamaian dunia.
3. Implementasi Tri Hita Karana
Rangkaian Melasti Nyepi ini merupakan wujud nyata keseimbangan hidup:
* Parahyangan: Hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (brahman) melalui Doa SembaHyang di Pura Manik Segara , manifestasi Brahman yaitu Sang Hyang Baruna Dewa Penguasa Lautan.
* Pawongan: Hubungan harmonis antar sesama umat yang berkumpul tanpa membedakan status sosial.
* Palemahan: Hubungan harmonis dengan alam, yang disimbolkan melalui penyucian lingkungan dan pelestarian laut.

4. Refleksi dalam Keheningan
Puncak dari seluruh prosesi ini adalah hari Nyepi (19 Maret), di mana umat menjalankan Catur Brata Penyepian. Dalam keheningan total, manusia diajak untuk "pulang" ke dalam diri sendiri, mengevaluasi tindakan setahun terakhir, dan menyusun niat baru untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana di tahun yang baru. Adapun Informasi Tambahan rangkaian kegiatan Perayaan Hari Suci Nyepi tahun Saka 1948 / 2026 adalah :
* Tawur Kasanga : 18 Maret 2026 (Pembersihan alam semesta).
* Pawai Ogoh-ogoh: 18 Maret 2026 sore di Jalan El Tari, Kupang.
* Puncak Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 : 19 Maret 2026 dengan Catur Brata Nyepi (Refleksi dalam sunyi).
* Dharma Santi Nyepi Kota Kupang NTT, simakrama dan silaturahmi Nyepi Tahun Saka 1948 bersama yang akan dilaksanakan april 2026.
Editor : K'Gun
Sumber dan foto : Hindukupang.com / RyGuN

Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 16 March 2026
- Hits: 300
Donor Darah Bagi Kemanusiaan Sambut Datangnya Tahun Saka 1948/2026, Panitia Hari Suci Nyepi Kota Kupang Himpun 59 Kantong Darah Serta Perkuat Harmoni Toleransi Antarumat Beragama

HinduKupang.com, NTT – Panitia Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 Kota Kupang mengawali rangkaian perayaan dengan kegiatan bakti sosial dan donor darah yang digelar di Wantilan Pura Agung Giri Kertha Bhuwana, hari Minggu , tanggal 1 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 hingga 12.12WITA ini dihadiri umat Hindu Kupang dari berbagai sektor/tempekan Banjar Dharma Agung Kupang, serta melibatkan sejumlah organisasi keagamaan Hindu di Kota Kupang. Sejumlah lembaga turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut, antara lain Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Kupang dan NTT, Pemuda Hindu Peradah Indonesia Kupang NTT, Mahasiswa Hindu PD KMHDI NTT, Forum Alumni KMHDI, Puskor Hindunesia, serta Organisasi dan Lembaga hindu di Kupang NTT. Keterlibatan lintas organisasi ini mencerminkan soliditas internal umat Hindu dalam menyukseskan agenda keagamaan sekaligus sosial kemasyarakatan.

Dalam kegiatan donor darah yang bekerja sama dengan UPTD.Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi NTT, tercatat lebih dari 70 orang mendaftar. Namun, setelah melalui pemeriksaan kesehatan seperti tensi darah dan kadar hemoglobin (Hb), sebanyak 59 peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk mendonorkan darahnya. Adapun total 59 kantong darah yang didapatkan dalam kegiatan Donor Darah Panitia Hari Suci Nyepi Saka 1948 Tahun 2026 Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur terdiri dari : golongan darah A sebanyak 7 kantong, golongan darah B sebanyak 22 kantong, golongan darah O sebanyak 24 kantong, golongan darah AB sebanyak 6 kantong, total 59 kantong darah.

Ketua Panitia Nyepi Kota Kupang Tahun Saka 1948, I Wayan Gede Astawa,S.Sos.,MM, dalam wawancara bersama media Hindukupang.com mengatakan bahwa donor darah bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wujud nyata nilai kemanusiaan. Ia menekankan semangat “satu bumi satu keluarga” Vasudaiva Kutumbhakam, Kita Semua adalah bersaudara , atau Vasudhaiva Kutumbakam (वसुधैव कुटुम्बकम्) yang dalam frasa Sansekerta berasal dari kitab suci Hindu seperti Maha Upanishad, yang bermakna "Seluruh Dunia adalah Satu Keluarga" sebagai landasan kegiatan, di mana seluruh umat manusia dipandang sebagai satu keluarga besar yang saling membantu, khususnya kegiatan Donor Darah sambut Nyepi 2026 ini sangat penting bagi mereka yang membutuhkan transfusi darah untuk menyelamatkan jiwa.
I Wayan Gede Astawa menambahkan, dari 64 peserta yang sempat terdata ulang, hanya 59 orang yang dapat mendonorkan darahnya karena beberapa kendala kesehatan. Sementara sebagian pendaftar lainnya tidak hadir akibat kondisi cuaca hujan. Meski demikian, panitia tetap bersyukur atas capaian tersebut dan menilai partisipasi masyarakat cukup tinggi.

Pada sore harinya,Panitia Hari Suci Nyepi Saka 1948 Tahun 2026 Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur melanjutkan kegiatan dengan pembagian 200 paket takjil kepada warga di sekitar Masjid Al Fitrah, Oesapa, yang dikenal sebagai kawasan kampung nelayan dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Pemilihan lokasi ini disebut sebagai simbol harmoni dan wujud toleransi antarumat beragama di Kota Kupang.
Di sisi lain, Wantilan Pura Agung Giri Kertha Bhuwana saat Donor Darah berlangsung, dukungan terhadap perayaan Nyepi juga datang dari sektor korporasi. PT.Pegadaian (Persero) melalui Deputi Bisnis Area Kupang NTT menyalurkan dana CSR sebesar Rp30 juta kepada Panitia Nyepi Tahun Saka 1948 Kota Kupang. Bantuan tersebut diserahkan untuk mendukung kelancaran rangkaian kegiatan, mulai dari prosesi rangkaian hari Suci Nyepi Tawur Kesanga hingga pawai ogoh-ogoh.
Deputi Bisnis Pegadaian Area Kupang, I Nyoman Mas Aryana, menyatakan bahwa kontribusi ini merupakan bagian dari komitmen sosial perusahaan melalui program Pegadaian Peduli. Ia berharap dukungan tersebut tidak hanya membantu suksesnya perayaan, tetapi juga memperkuat kehadiran Pegadaian di tengah masyarakat.
Komitmen Sosial yang Berkelanjutan dengan Pemberian bantuan ini merupakan bagian dari program Pegadaian Peduli. Selain menyasar kegiatan keagamaan, Pegadaian Area Kupang secara rutin menyalurkan CSR ke berbagai sektor lainnya, seperti bantuan ke panti asuhan dan tempat ibadah lainnya di wilayah NTT.
Sebagai informasi, wilayah kerja Pegadaian Area Kupang mencakup area yang sangat luas, meliputi 9 kabupaten/kota, di antaranya: Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Belu, Malaka, Rote Ndao, Alor, hingga Sabu Raijua.
Tring by Pegadaian adalah aplikasi keuangan digital terintegrasi untuk investasi emas, gadai, dan pembiayaan dalam satu genggaman. Dengan konsep "1 User ID", aplikasi ini memudahkan pembelian/penjualan emas (Tabungan Emas), cicil emas, hingga gadai digital, serta aman berizin OJK. Aplikasi ini dapat diunduh di Google Play Store atau App Store.
Selain penyaluran CSR, Pegadaian turut memperkenalkan aplikasi digital “Tring” sebagai inovasi layanan investasi emas. Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat menabung emas mulai Rp10.000, melakukan cicilan emas, serta memiliki emas dalam bentuk digital maupun fisik tanpa harus datang ke outlet. Langkah ini dinilai sebagai strategi mendorong literasi keuangan dan budaya menabung berbasis digital di wilayah NTT.

Dalam Wawancara bersama Media Hindukupang.com, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang, dr.I Wayan Ari Wijana S.Putra,M.Si, menyampaikan rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 atau bertepatan dengan tahun 2026 Masehi yang akan dirayakan pada 19 Maret 2026. Dalam wawancara bersama media hindukupang.com, ia menegaskan bahwa rangkaian kegiatan Panitia Nyepi tingkat Kota Kupang ini dimulai sejak 1 Maret 2026 sebagai agenda perdana panitia Nyepi tahun ini.
Ketua PHDI Kota Kupang, dr. I Wayan Ari Wijana S. Putra,M.Si, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian perayaan Nyepi tahun ini. Selain donor darah, panitia juga merencanakan bakti sosial pembagian bahan pangan bersama Banjar serta kegiatan Saka Boga Sewanam berupa pembagian takjil bagi umat Muslim di bulan Ramadan. Kegiatan berbagi tersebut dilaksanakan di Masjid Al Fitrah, sekaligus dirangkaikan dengan peringatan HUT PHDI ke-67 pada 23 Februari 2026.

Kegiatan pembuka diawali dengan bakti sosial berupa donor darah, yang kemudian direncanakan dilanjutkan dengan pembagian bahan pangan hasil kolaborasi bersama Banjar. Pada sore harinya, Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 Kota Kupang juga menggelar aksi berbagi takjil di Masjid Al-Fitrah sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas antar umat beragama, sekaligus memperingati HUT ke-67 PHDI Indonesia (pada 23 Feb 2026 silam).
Pada Tahun 2025 sebelumnya, kegiatan Saka Boga Sevanam, berbagi buka puasa bersama umat islam pernah dilaksanakan di Masjid Kelapa Lima. Di Tahun 2026 ini, Panitia Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 Kota Kupang dijadwalkan berada di lokasi mulai pukul 17.00 WITA menggelar aksi berbagi takjil buka puasa bersama umat muslim di Masjid Al-Fitrah Oesapa Kota Kupang.
Memasuki rangkaian ritual keagamaan menyambut datangnya Hari Suci Nyepi, upacara Melasti akan digelar pada 16 Maret 2026 di Pura Manik Segara, kelurahan Fatubesi yang berada di belakang Pura Oebananta. Jika sebelumnya Upacara Melasti dilaksanakan di Pantai Pasir Panjang, kini lokasi dipusatkan di area Pura tersebut. Seluruh "Pralingga" Pura Hindu di Kota Kupang dijadwalkan ikut ambil bagian dalam prosesi penyucian ini.
Selanjutnya, pada 18 Maret 2026 bertepatan dengan Bulan gelap atau Tilem Sasih Kesanga, akan dilaksanakan upacara Tawur Kesanga sebagai simbol pengorbanan "Yadnya" demi keseimbangan dan kedamaian alam. Prosesi persembahyangan dimulai pukul 12.00 WITA, dilanjutkan Pawai Ogoh-Ogoh pada pukul 16.00 WITA. Rute pawai dimulai dari perempatan Catus Pata Perempatan gedung Sasando Kantor Gubernur NTT menuju Rumah Jabatan Gubernur NTT dan kembali ke Perempatan Jalan El Tari depan Kantor Gubernur NTT.
Puncak perayaan Hari Suci Nyepi tepat pada 19 Maret 2026 dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yakni tidak bekerja, tidak bepergian, tidak menikmati hiburan, dan tidak menyalakan api amarah, kendali diri dengan berpuasa (upawasa). Umat Hindu menjalankan puasa dan tapa brata selama 24 jam, dari pukul 06.00 pagi hingga 06.00 pagi keesokan harinya. Rangkaian kegiatan Nyepi Tahun Saka 1948 juga mengingatkan kembali esensi Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni (tidak menyalakan api dan mengendalikan amarah), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelunganan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak mencari hiburan). Empat pantangan ini menjadi inti refleksi spiritual umat Hindu dalam mencapai ketenangan batin dan penyucian diri.
Keesokan harinya, pada 20 Maret 2026, umat Hindu merayakan Hari Ngembak Geni sebagai momentum Simakrama (silaturahmi) yang biasanya diisi dengan tradisi open house dan saling memaafkan, ungkap Ketua PHDI Kota Kupang dr.Wayan Ari Wijana.
Rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi 1948 Saka akan ditutup dengan Dharma Santi yang direncanakan berlangsung pada April 2026. Wali Kota Kupang, dr.Christian Widodo, juga telah menyetujui penggunaan aula rumah jabatan sebagai lokasi kegiatan tersebut. Penjadwalan Dharma Santi disesuaikan april, karena masih suasana libur dengan momentum Idul Fitri yang berdekatan dengan Nyepi tahun 2026 ini.
Dalam pesannya Ketua PHDI Kota Kupang, dr.I Wayan Ari Wijana menekankan pentingnya menjaga toleransi di Kota Kupang yang dikenal sebagai “Kota Kasih” dan salah satu kota toleran di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa upacara Tawur Kesanga di Catus Pata Jalan El Tari Kantor Gubernur NTT merupakan doa bersama untuk membersihkan dan memohon keselamatan bagi Kota Kupang agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Ia juga mengapresiasi dukungan lintas agama yang selama ini terjalin erat. Menurutnya, kolaborasi antara umat Hindu, Muslim, Kristen, dan Katolik, Buddha, Khonghucu, terasa nyata dalam berbagai kegiatan keagamaan di Kupang. Sebagai pribadi yang telah 32 tahun mengabdi di Kota Kupang sebagai dokter hingga masa pensiun, ia merasakan langsung kuatnya semangat kebersamaan dan harmoni antarumat beragama di daerah Kota Kupang. "Kupang Kota Kasih" adalah julukan bagi Kota Kupang, sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang merupakan akronim dari KASIH : Karya, Aman, Sehat, Indah, dan Harmonis. Semboyan KASIH ini mencerminkan kota yang toleran, ramah, dan menjunjung tinggi solidaritas antar sesama di tengah masyarakat yang multietnis.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : HinduKupang.com / K'Gun



Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 01 March 2026
- Hits: 352





































































.jpg)









