Home
Piodalan Agung Tahun ke 10 Pura Oebanantha Kupang : Wujud Bhakti dan Pelaksanaan Yadnya Umat Hindu Kupang NTT

Upacara Hindu Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha Kupang : Wujud Bhakti dan Pelaksanaan Yadnya Umat Hindu Kupang NTT
HinduKupang.com, NTT – Umat Hindu Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mempersiapkan pelaksanaan Piodalan Agung Tahun ke-10 (Nugtug Karya) Pura Oebanantha yang akan mencapai puncaknya pada Rahina Hari Suci Galungan, Buda Kliwon Dungulan, Rabu 17 Juni 2026 mendatang. Pura Oebananta yang termasuk Padma Bhuwana Nusantara wilayah Tenggara Indonesia ini berdiri sejak 1950an di areal Oeba-Fatubesi, sejarah mencatat di tahun 1979 pernah dilakukan Upacara Ngenteng Linggih, dan pada september tahun 2016 juga telah dilaksanakan Upacara Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih Pura Oebananta, dan saat ini tepat 10 tahun (2016-2026) menjelang Puncak Hari Suci Galungan sekaligus dilaksanakan Perayaan Hari Piodalan Agung Pura Oebananta. Rangkaian kegiatan yang telah disusun Panitia Pelaksana PHDI Kota Kupang bersama PSN Korwil NTT dan pengempon pura Oebananta ini berlangsung hampir tiga bulan, dimulai sejak April hingga penutupan upacara pada Umanis Galungan 18 Juni 2026. Seluruh tahapan tersebut merupakan pelaksanaan Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya yang sarat makna spiritual, pengabdian, dan kebersamaan umat dalam memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya.
Pada 30 April 2026, umat Hindu Kupang memulai persiapan alat dan bahan upacara berupa usuk, bambu, triplek, pelepah kelapa, slepan, lontar, serta berbagai kebutuhan untuk pembuatan banten dan caru. Tahapan ini menjadi fondasi awal pelaksanaan yadnya karena seluruh sarana upacara dipersiapkan dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk persembahan yang tulus dan suci kepada Tuhan. Dalam ajaran Hindu, kesucian yadnya tidak hanya terletak pada pelaksanaan ritual, tetapi juga pada niat dan proses persiapannya.
Memasuki 29–30 April 2026, umat melaksanakan kegiatan mereresik atau pembersihan pelinggih, alat-alat upacara, serta lingkungan pura. Pada kesempatan yang sama dilakukan persiapan lubang untuk pelaksanaan caru enam tempekan. Kegiatan ini melambangkan proses penyucian alam sekala dan niskala agar seluruh rangkaian karya dapat berlangsung dengan harmonis. Selanjutnya pada 1 Mei 2026, dilaksanakan prosesi Dewasa Nanceb dan Mecaru 6 Tempekan, yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan alam dan menetralisir energi negatif sebelum memasuki tahapan karya yang lebih besar.
Sejak 2 hingga 12 Mei 2026, umat Hindu bergotong royong melaksanakan ngayah membangun berbagai wewangunan upacara seperti Penegteg, Sanggah Surya, Sanggah Agung, Tetaring Pewedan, Tetaring Gedong, Sunari, hingga berbagai pawedan dan sanggah pendukung lainnya. Seluruh sarana tersebut harus selesai paling lambat 12 Mei 2026 sebagai bagian dari kesiapan fisik dan spiritual menjelang piodalan. Semangat ngayah yang ditunjukkan umat mencerminkan ajaran Hindu tentang pengabdian tanpa pamrih sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada periode 13 Mei hingga 10 Juni 2026, kegiatan dilanjutkan dengan proses ngulapin sarwa wewangunan atau penyempurnaan seluruh bangunan upacara. Pada saat yang sama, kaum ibu membuat berbagai jenis banten seperti Sanganan Suci, Sanganan Pule Gembal, Sanganan Bebangkit, dan Sanganan Catur, sedangkan kaum bapak mempersiapkan rak banten, katikan sate caru, serta perlengkapan lainnya. Pembagian tugas tersebut menggambarkan keseimbangan peran umat dalam mewujudkan yadnya yang sempurna.
Tahapan penting berikutnya berlangsung pada 1 Juni 2026, ketika para Serati Banten dari Bali tiba di Kupang untuk membantu persiapan upacara. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan kesakralan sarana upakara yang akan digunakan selama piodalan. Kemudian pada 6 Juni 2026, umat melaksanakan ngayah membuat bahan Upakara dan Upacara Caru (Eteh-Eteh Caru) sebagai bagian dari persiapan Bhuta Yadnya.
Pada 7 Juni 2026, panitia bersama perwakilan umat melaksanakan prosesi Nunas Toya Pekuluh di Pura Giri Suci Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan serta Nunas Toya Anyar di Baumata Kabupaten Kupang. Tirta yang diperoleh dari prosesi ini memiliki makna sebagai simbol kehidupan dan penyucian. Dalam ajaran Hindu, air suci diyakini sebagai media anugerah Tuhan yang membersihkan lahir dan batin umat sebelum memasuki puncak karya.
Memasuki 8–9 Juni 2026, umat Hindu Kupang kembali bergotong royong membuat lima buah penjor dan berbagai kebutuhan bumbu upacara. Selanjutnya pada 10 Juni 2026, Ratu Pedanda / Sulinggih Pandita Bodha dari Bali tiba di Kupang. Pada hari yang sama dilaksanakan pemasangan wastra, pemasangan penjor, serta pembuatan ulam caru sebagai bagian dari persiapan akhir menjelang dimulainya tahapan inti karya.


Rangkaian upacara memasuki fase yang lebih sakral pada 11 Juni 2026 melalui prosesi Nuasen Karya dan Ngingsah Beras, yang menandai dimulainya pelaksanaan karya secara spiritual. Pada hari yang sama umat mulai melaksanakan Mekemit, yaitu bermalam di pura sambil berdoa, bermeditasi, dan menjalankan pelayanan spiritual. Mekemit berlangsung hingga 17 Juni 2026, memberikan kesempatan kepada umat untuk memperdalam bhakti dan kedekatan rohani dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pada 12 Juni 2026, panitia melakukan pengecekan terakhir terhadap seluruh sarana upacara dan memastikan seluruh wewalungan telah siap digunakan. Kemudian pada 13 Juni 2026, umat melaksanakan pemasangan wastra pada wewalungan, kegiatan mepepada hewan dan binatang (Wewalungan), dan pembuatan ulam caru. Seluruh tahapan ini bertujuan menyempurnakan persiapan menjelang pelaksanaan ritual utama.


Momentum penting berikutnya berlangsung pada 14 Juni 2026, bertepatan dengan Tilem Sadha, ketika dilaksanakan prosesi Mecaru Rsi Gana, yang dipimpin oleh Sulinggih / Pandita Bodha yaitu Ida Pedanda Istri Ratna Kania dari Nongan Karangasem Bali, dan Pandita Siwa dari Kupang NTT yaitu Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba. Upacara ini merupakan bagian dari Bhuta Yadnya yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan-kekuatan alam semesta. Melalui Mecaru, upacara Bhuta Yadnya kemudian dilanjutkan Upacara Dewa Yadnya yang dipimpin oleh Sulinggih Bodha dan Sulinggih Siwa, guna memohon keharmonisan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, serta keselamatan, ketentraman jagat bagi seluruh masyarakat dan lingkungan sekitar.
Pada 15 Juni 2026, dilaksanakan kegiatan pemotongan babi untuk keperluan upakara serta Santi Puja pada malam harinya. Selanjutnya pada 16 Juni 2026, umat melaksanakan Melasti, yaitu ritual penyucian diri dan seluruh sarana upacara dengan memohon pembersihan segala kekotoran lahir dan batin. Pada hari yang sama juga dilakukan pembuatan Bebangkit dan "Gayah" sebagai bagian dari persiapan puncak karya. Melasti menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesucian sebelum menghadap Tuhan dalam persembahyangan utama.

Puncak Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Raya Galungan, yang bermakna Kemenangan Dharma (Kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran), dimana siklus 210 hari Pawukon yang tepat istimewanya di tahun 2026 ini setahun sekali Galungan yaitu pada Rabu (Buda) Kliwon Wuku Dungulan.

Sejak pagi hari seluruh panitia dan umat Hindu Kupang melaksanakan persiapan akhir sebelum kegiatan piodalan dimulai. Pada siang hari, Tapakan Ida Bhatara dari Pura Agung dijadwalkan tiba di Pura Oebanantha, disusul kehadiran Wali Kota Kupang sebagai Guru Wisesa, Pemerintah Daerah sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan kehidupan keagamaan umat Hindu di Nusa Tenggara Timur. Puncak piodalan ini menjadi momentum spiritual tertinggi yang mempertemukan nilai bhakti, tradisi, dan kebersamaan umat dalam satu persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.



Sebagai penutup rangkaian karya, pada 18 Juni 2026 dilaksanakan prosesi Nganyarin dan Nyineb yang dipuput oleh Rsi Bojana dalam wujud Rsi Yadnya. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian yadnya sekaligus mengembalikan energi sakral yang telah dihadirkan selama upacara ke tempat dan kedudukannya masing-masing sesuai tata ritual Hindu. Dengan demikian, Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun pura, tetapi juga manifestasi nyata ajaran Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : www.hindukupang.com, grup whatsapp Hindu Kupang, dan Dewa Putra Utama (Alumni PD.KMHDI NTT)
Kumpulan Foto-Foto Kegiatan bisa Kunjungi Disini.

Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 15 June 2026
- Hits: 299
Kelulusan Siswa-Siswi SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT 2026 Dalam Pentas seni "Unity Bloom" Tekankan Pendidikan Sebagai Jalan Menuju Kesuksesan

HinduKupang.com, NTT – Suasana penuh kebanggaan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Pentas Seni, Pelepasan Siswa Kelas VI, serta Kenaikan Kelas SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di D'Art Café & Gallery, Sikumana, Minggu (7/6/2026). Acara yang mengusung tema "Unity Bloom" tersebut menjadi momentum penting bagi sekolah dalam mengapresiasi perjalanan pendidikan siswa sekaligus mempererat hubungan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri berbagai unsur pemangku kepentingan pendidikan dan keagamaan Hindu. Pelaksanaan Pentas Seni Perpisahan dan Kenaikan Kelas Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang mendapat dukungan luas dari berbagai unsur pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi keagamaan Hindu, serta tokoh masyarakat. Hal tersebut terlihat dari daftar undangan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang selama ini berperan dalam pengembangan pendidikan dan pembinaan umat Hindu di Kota Kupang maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pembimas Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kota Kupang, Koordinator Pengawas Pendidikan, serta Pengawas Pembina sekolah. Kehadiran unsur pemerintah dan pengawas pendidikan menunjukkan adanya perhatian terhadap proses pembelajaran dan perkembangan lembaga pendidikan Hindu di daerah.
Selain unsur pemerintah, sejumlah organisasi keagamaan Hindu turut diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut. Di antaranya Ketua PHDI Provinsi NTT, Ketua PHDI Kota Kupang, Ketua WHDI Provinsi NTT, Ketua WHDI Kota Kupang, Ketua Banjar Dharma Agung Kupang, Ketua ICHI NTT, serta para tokoh agama Hindu. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap upaya pembinaan generasi muda Hindu melalui jalur pendidikan formal.

Pihak yayasan dan lembaga pendukung pendidikan juga menjadi bagian penting dalam acara tersebut. Ketua dan Wakil Yayasan Upanisada, Ketua Dewan Penyantun Sekolah, Ketua Yayasan Dewi Sri serta Ketua Komite Sekolah diundang untuk menyaksikan langsung capaian para siswa selama mengikuti proses pendidikan. Keterlibatan yayasan dan komite sekolah mencerminkan kolaborasi yang kuat dalam mendukung kemajuan pendidikan berbasis nilai-nilai keagamaan dan karakter.
Turut hadir dalam daftar undangan Kepala Sekolah Pratama Widyalaya TK Hindu Saraswati, Lurah Fatubesi, Ketua PD.KMHDI NTT, Ketua Koperasi Mahalaksmi, pembina kegiatan ekstrakurikuler sastra dan pramuka, serta insan jrunalis media. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kegiatan sekolah tidak hanya menjadi urusan internal lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang lebih luas.

Yang tidak kalah penting, para orang tua dan wali murid menjadi elemen utama dalam kegiatan perpisahan dan kenaikan kelas tersebut. Mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pendidikan anak-anak selama menempuh proses belajar di sekolah selama 6 tahun. Momentum ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap dukungan keluarga yang selama ini mendampingi tumbuh kembang peserta didik.
Melalui keterlibatan berbagai pihak, Pentas Seni Perpisahan dan Kenaikan Kelas SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang NTT tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga menjadi wadah memperkuat sinergi antara sekolah, pemerintah, organisasi keagamaan, yayasan, masyarakat, dan keluarga dalam membangun kualitas pendidikan Hindu yang semakin maju dan berdaya saing.
Baca Juga Berita Tahun 2025 : Pentas Seni Meriahkan Lulusan Angkatan III Sekolah Dasar SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT Dilepas Penuh Cinta dan Apresiasi


SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Lepas Siswa Kelas VI, Pembimas Hindu NTT Tekankan Pendidikan sebagai Jalan Menuju Kesuksesan
Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan dukungan yang kuat terhadap pengembangan pendidikan Hindu di Kota Kupang. Dalam sambutannya, Pembimas Hindu Provinsi NTT, I Ketut Suji, S.Ag., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada para siswa kelas VI yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar selama enam tahun. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan siswa semata, tetapi juga merupakan hasil sinergi antara guru, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses pembelajaran.
Ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen utama dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan masa depan generasi muda. Oleh karena itu, seluruh pihak diharapkan terus memberikan dukungan terhadap proses pendidikan agar anak-anak dapat berkembang menjadi pribadi yang unggul, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan di masa mendatang.


Pembimas Hindu NTT juga menyampaikan ucapan selamat kepada delapan siswa kelas VI yang resmi dilepas untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Pada kesempatan tersebut, ia mengajak umat Hindu untuk terus mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada SD Adi Widyalaya Saraswati yang telah memperoleh akreditasi A dan memiliki berbagai prestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik.
Lebih lanjut, I Ketut Suji menekankan bahwa SD Adi Widyalaya Saraswati merupakan lembaga pendidikan yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang agama. Menurutnya, pendidikan memiliki tujuan universal, yakni mencerdaskan kehidupan manusia dan memuliakan martabat kemanusiaan, sementara agama menjadi landasan spiritual dalam membentuk keimanan dan moralitas peserta didik.
Baca Juga Berita Tahun 2024 : Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT Angkatan II Tahun 2024 Rayakan Kenaikan Kelas dan Kelulusan dengan Pagelaran Seni dan Penghargaan, "Generasi Berkarakter, Sukses Menggapai Impian"


Dalam kesempatan yang sama, Pembimas Hindu NTT turut menyampaikan informasi mengenai komitmen Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT dalam meningkatkan mutu pendidikan keagamaan Hindu. Meski pemerintah tengah melakukan penyesuaian anggaran, pihaknya tetap berupaya memenuhi berbagai hak tenaga pendidik, termasuk pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru yang telah lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG) Tahun 2025 yang direncanakan terealisasi pada Juli 2026.

Menurut Kepala Sekolah SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati, Ni Nyoman Suparwati,S.Pd.,M.Pd.Gr mengungkapkan rangkaian acara berlangsung meriah melalui berbagai penampilan seni dan budaya yang dibawakan oleh para siswa-siswi kelas I hingga kelas VI . Mulai dari tari penyambutan, tari Bali , tari Kreasi Rote Ndao NTT, pembacaan sloka Pustaka Suci Veda, drama musikal, parade puisi, hingga hiburan yang melibatkan guru dan orang tua siswa. Penampilan tersebut menjadi wadah bagi peserta didik untuk menampilkan kreativitas, bakat, dan kepercayaan diri yang telah dibangun selama menempuh pendidikan di sekolah. Acara selanjutnya adalah sungkem dan penghormatan kepada orang tua dari 8 Siswa-Siswi kelas VI yang telah berhasil lulus di SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang tahun 2026 guna melanjutkan ke jenjang SMP.
Baca Berita 17 Juni 2023 : SD Hindu Adi Widya Pasraman Saraswati Angkatan I merayakan Kelulusan 100 Persen dengan Gelar Karya dan Pentas Seni di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kegiatan pelepasan dan kenaikan kelas ini tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi juga menjadi simbol keberhasilan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif. Semangat kebersamaan yang tercermin dalam acara tersebut diharapkan mampu memperkuat komitmen seluruh pihak dalam mendukung kemajuan pendidikan Hindu di Kota Kupang.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : www.hindukupang.com, kepala SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati / Ni Nyoman Suparwati
Foto-Foto kegiatan Acara bisa Kunjungi Disini
Baca Juga Berita Tahun 2025 : Pentas Seni Meriahkan Lulusan Angkatan III Sekolah Dasar SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT Dilepas Penuh Cinta dan Apresiasi
Baca Juga Berita Tahun 2024 : Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT Angkatan II Tahun 2024 Rayakan Kenaikan Kelas dan Kelulusan dengan Pagelaran Seni dan Penghargaan, "Generasi Berkarakter, Sukses Menggapai Impian"
Baca Berita 17 Juni 2023 : SD Hindu Adi Widya Pasraman Saraswati Angkatan I merayakan Kelulusan 100 Persen dengan Gelar Karya dan Pentas Seni di Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur
Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 08 June 2026
- Hits: 164
Wali Kota Kupang Christian Widodo Apresiasi Semangat Toleransi Dan Solidaritas Kebersamaan Umat Hindu Kupang Dalam Dharma Santi Nyepi 1948 Saka Tahun 2026

HinduKupang.com, NTT - Perayaan Dharma Santi sebagai puncak rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 Tahun 2026 di Kota Kupang berlangsung khidmat dan sarat pesan persaudaraan. Kegiatan yang digelar pada hari Selasa sore, 26 Mei 2026 bertempat di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang itu menjadi momentum penguatan nilai toleransi, kebersamaan, dan harmoni antarumat beragama di tengah masyarakat multikultural Kota Kupang. Kehadiran umat Hindu Kupang dan tamu undangan Pemerintah Daerah Kota Kupang sebagai "Guru Wisesa" dalam perayaan tersebut memperlihatkan komitmen nyata dalam merawat keberagaman sebagai fondasi pembangunan sosial di daerah.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap dedikasi umat Hindu kota Kupang yang terus menjaga nilai budaya dan spiritualitas melalui rangkaian perayaan Nyepi. Ia menilai keberagaman yang tumbuh di Kota Kupang merupakan kekuatan sosial yang harus dirawat bersama. Menurutnya, penampilan budaya yang ditampilkan umat Hindu tidak sekadar hiburan seremonial, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang memiliki nilai pemersatu masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo sebagai Guru Wisesa Pemerintah Daerah juga menyoroti makna filosofis Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 / 2026 ini sebagai momentum refleksi diri. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan dan tekanan sosial, Nyepi dinilai menghadirkan ruang kontemplasi yang penting bagi manusia untuk kembali menata batin dan mengevaluasi perjalanan hidup. Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat perkotaan yang semakin dihadapkan pada dinamika kehidupan yang cepat dan kompetitif.

Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo menegaskan bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik dan infrastruktur semata. Ia menilai pembangunan yang sejati harus menghadirkan nilai kemanusiaan melalui empati sosial, kepedulian terhadap sesama, dan penguatan hubungan antarmasyarakat. Pemerintah Kota Kupang, lanjutnya, berkomitmen membuka ruang seluas-luasnya bagi kegiatan keagamaan dan budaya yang membawa dampak positif bagi kerukunan warga.
Semangat “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi, Satu Keluarga” yang diangkat dalam Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 di Kota Kupang NTT ini menjadi simbol kuat persatuan lintas perbedaan. Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo berharap nilai tersebut dapat terus menjadi pedoman masyarakat dalam membangun interaksi sosial yang harmonis sehingga Kota Kupang tetap menjadi contoh toleransi dan kerukunan di Indonesia Timur.
Umat Hindu Sampaikan Apresiasi atas Dukungan Pemerintah Kota Kupang
Ketua PHDI Kota Kupang, dr. I Wayan Ari Wijana S.Putra,M.Si, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Kota Kupang atas dukungan yang diberikan selama rangkaian Hari Suci Nyepi berlangsung. Ia menyebut dukungan pemerintah tidak hanya berupa arahan moral dan koordinasi kelembagaan, tetapi juga dukungan anggaran melalui APBD yang memungkinkan seluruh kegiatan terlaksana secara maksimal.
Menurutnya, perhatian Pemerintah Daerah Kota Kupang yang dipimpin Wali Kota dr.Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Franscies,S.Sos.,M.,Sc terhadap kegiatan keagamaan umat Hindu menjadi bukti hadirnya negara dalam menjamin kebebasan beragama dan menjaga keharmonisan sosial. Dukungan tersebut dinilai memperkuat rasa percaya diri umat Hindu sebagai bagian integral dari masyarakat Kota Kupang yang hidup berdampingan dengan berbagai komunitas agama lainnya.

Rangkaian perayaan Nyepi di Kota Kupang melibatkan banyak unsur masyarakat, mulai dari panitia, sponsor, donatur hingga umat sedharma yang bergotong royong menyukseskan kegiatan. Tercatat sebanyak 68 panitia terlibat aktif dalam penyelenggaraan acara. Solidaritas tersebut mencerminkan kuatnya budaya kebersamaan di lingkungan umat Hindu Kota Kupang yang berjumlah sekitar 565 kepala keluarga atau sekitar 3.000 jiwa (sesuai data update banjar 10-2-2024).
Melalui tema Hari Suci Nyepi Nasional 2026 : “Vasudhaiva Kutumbakam” atau “Satu Bumi, Satu Keluarga” “Harmoni Nusantara, Indonesia Maju”, umat Hindu Kota Kupang berharap suasana toleransi yang selama ini terbangun dapat terus terjaga. Perayaan Dharma Santi bukan hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang mempererat persaudaraan lintas komunitas demi menciptakan kehidupan sosial yang damai dan inklusif.
Dharma Santi Nyepi Jadi Simbol Harmoni dan Toleransi di Kota Kupang
Pelaksanaan Dharma Santi Nyepi 1948 Saka di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang berlangsung meriah dengan nuansa budaya yang kental. Ribuan peserta hadir mengenakan kebaya Bali dan tenun khas NTT, menampilkan perpaduan identitas budaya yang harmonis. Pentas seni tari daerah, Renungan Nyepi dan Dharma wacana, dan doa bersama menjadi bagian penting dalam memperkuat nilai spiritual dan kebudayaan dalam perayaan tersebut.
Pengurus Wakil Ketua PHDI Provinsi NTT, Jero Gede Dr.dr. Dewa Putu Sahadewa, dalam dharma wacananya menjelaskan bahwa Nyepi merupakan momentum spiritual untuk “mengistirahatkan” dunia dari kebisingan aktivitas manusia. Menurutnya, keheningan bukanlah simbol berhentinya kehidupan, melainkan kesempatan bagi manusia untuk memulihkan keseimbangan batin dan membangun kesadaran spiritual di tengah tekanan kehidupan modern.
Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap pelaksanaan Dharma Santi terlihat nyata melalui penyediaan Aula Rumah Jabatan Wali Kota sebagai lokasi acara tanpa biaya sewa. Kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap penguatan toleransi dan kehidupan beragama yang sehat di tengah masyarakat. Pemerintah memandang kegiatan keagamaan bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi bagian penting dalam menjaga stabilitas sosial dan mempererat hubungan antarwarga.

Ketua Panitia Nyepi 2026, I Wayan Gede Astawa,S.Sos.,MM menegaskan bahwa aksi sosial tersebut lahir dari semangat kebersamaan dan kepedulian antarumat beragama. Praktik toleransi yang dibangun melalui aksi nyata dinilai lebih efektif memperkuat persaudaraan dibanding sekadar slogan atau seruan formal, Ungkap Wayan Astawa. Rangkaian Nyepi tahun 2026 ini juga diwarnai aksi sosial lintas agama yang memperlihatkan praktik toleransi secara konkret. Ketua Panitia Nyepi 2026 yang dibentuk PHDI Kota Kupang, I Wayan Gede Astawa,S.Sos.,MM yang juga Alumni Ketua PD.KMHDI NTT 1 merupakan Camat Kelapa Lima , menyampaikan rangkaian acara Nyepi 2026 diantaranya Melasti dan Upacara Tawur Kesanga Pawai Ogoh-Ogoh, juga sebelumnya dilaksanakan kegiatan donor darah dan aksi Saka Bhoga Sevanam, umat Hindu Kota Kupang membagikan takjil kepada umat Muslim di Masjid Al Fitrah Oesapa. Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling berbagi dan memperkuat solidaritas kemanusiaan. Alumni KMHDI yang juga generasi Hindu Kupang yaitu Rary Triguntara dalam wawancara juga menyampaikan hakikat (Tattwa) Nyepi dalam pelaksaanaan Catur Brata Penyepian merupakan jalan pengendalian diri dan meningkatkan keyakinan "Panca Sraddha" dengan mengisi pengetahuan suci (Jnana). Seperti Dalam Pustaka Suci Hindu , Upanisad sebagai Veda Sruti , tercantum
CHĀNDOGYA UPANIṢAD-VIII.5.2
अथ यत् सत्त्रायणम् इत्य् आचक्षते ब्रह्मचर्यम् एव तत् ब्रह्मचर्येण ह्य् एव सत आत्मनस् त्राणम् विन्दते अथ यन् मौनम् इत्य् आचक्षते ब्रह्मचर्यम् एव तत् ब्रह्मचर्येण ह्य् एवात्मानम् अनुविद्य मनुते
atha yat sattrāyaṇam ity ācakṣate brahmacaryam eva tat brahmacaryeṇa hy eva sata ātmanas trāṇam vindate. atha yan maunam ity ācakṣate brahmacaryam eva tat, brahmacaryeṇa hy evātmānam anuvidya manute.

Artinya : Sekarang apa yang disebut sebagai kurban yang berkepanjangan (sattr-ayanam) sebenarnya adalah hidup yang patuh dari siṣya pengetahuan suci. Hanya dengan hidup yang patuh dari siṣya pengetahuan suci sajalah seseorang memperoleh perlindungan dari ātman yang nyata. Sekarang apa yang disebut sebagai mauna-brata (tapa-diam), sesungguhnya adalah hidup yang patuh dari siṣya pengetahuan suci dengan menemukan ātman melalui hidup yang patuh sebagai siṣya dari pengetahuan suci sajalah seorang siṣya pengetahuan suci sesungguhnya samādhi.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : Www.HinduKupang.com, / Ketua Panitia Nyepi 2026 / Wayan Astawa / Umat Hindu Kupang NTT / Santi
Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 27 May 2026
- Hits: 152
Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali

HinduKupang.com, NTT - Denpasar Bali – Suasana kebersamaan dan semangat kaderisasi mewarnai kegiatan Simakrama Forum Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (FA.KMHDI) yang digelar pada 24 Mei 2026 di Rumah Kebangsaan dan Kebhinnekaan (KaKek) Pasraman Satyam Eva Jayate, Kota Denpasar, Provinsi Bali. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 14.30 hingga 18.00 WITA itu menghadirkan alumni dan kader KMHDI dari berbagai kabupaten/kota seluruh Bali, serta sejumlah peserta dari luar pulau. Forum tersebut menjadi ruang silaturahmi (simakrama) sekaligus ajang diskusi strategis mengenai arah organisasi dan kontribusi generasi muda Hindu terhadap pembangunan Bali di masa mendatang.

Acara dibuka secara formal melalui rangkaian pembukaan oleh Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya tiga stanza, Mars KMHDI, dan doa bersama sebagai simbol rasa syukur. Momentum tersebut memperlihatkan semangat nasionalisme dan nilai spiritual yang menjadi identitas organisasi mahasiswa Hindu tersebut. Kehadiran para alumni lintas generasi juga mempertegas posisi KMHDI sebagai organisasi kader yang terus menjaga kesinambungan nilai, jaringan, dan pengabdian sosial.


Ketua Forum Alumni KMHDI Provinsi Bali, I Ketut Sae Tanju,SE.,MM., dalam sambutannya, menekankan bahwa Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) harus berkembang dari sekadar ruang kaderisasi menuju ruang strategis dalam pembangunan Bali. Ia menyampaikan bahwa organisasi yang telah memasuki usia 33 tahun itu perlu membangun kapasitas kader secara serius agar mampu hadir di berbagai sektor, mulai dari UMKM, dunia usaha, hingga kepemimpinan publik. Menurutnya, topik simakrama “KMHDI Menguasai Bali” bukanlah bentuk arogansi organisasi, melainkan simbol kesiapan kader serta para alumninya dalam membangun jaringan, kualitas diri, dan daya saing untuk masa depan Bali.

Semangat regenerasi juga disampaikan oleh Komang Dia Damayanti sebagai Ketua dari Pimpinan Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC.KMHDI) Buleleng. Dalam mimbar sharing bersama di simakrama FA.KMHDI, ia sebagai mahasiswi Hindu menyampaikan apresiasi kepada para alumni yang telah membangun fondasi kaderisasi KMHDI sejak 1993-2026 hingga menjadi ruang belajar dan perjuangan bagi mahasiswa Hindu secara Nasional. Ia menilai berbagai diskusi dan pertukaran gagasan antar Pengurus Cabang KMHDI di Bali menjadi modal penting dalam memperkuat organisasi. Menurutnya, kader muda KMHDI harus mampu melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya dan menjadikan organisasi lebih progresif serta relevan dengan tantangan zaman.
Sementara itu, Ketua PC KMHDI Badung, I Made Arya Bayu Suta, menilai kegiatan simakrama seperti ini penting untuk terus dilaksanakan guna mempererat hubungan antara kader dan alumni. Ia juga memaparkan sejumlah agenda organisasi, seperti talkshow, Dharma Tula, hingga kegiatan Tirtha Yatra yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai kampus, termasuk Politeknik Negeri Bali dan Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma (FPMHD) Udayana. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi wadah pengembangan wawasan, solidaritas, dan kreativitas kader mahasiswa Hindu di Bali.

Salah satu sesi yang paling mendapat perhatian peserta adalah mimbar refleksi yang disampaikan oleh Alumni KMHDI yaitu I Nyoman Parta yang juga Anggota Komisi III DPR RI Daerah Pemilihan Bali. Ia memberi semangat bagi kaum generasi mahasiswa Hindu KMHDI agar terus mengembangkan diri dan menggapai cita-cita. Seperti Kutipan Pesan Presiden RI 1 Ir.Soekarno dalam mendirikan bangsa Indonesia ini mengatakan "Gantungkan cita-citamu setinggi langit, Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang", yang disambut tepuk tangan antusias kader KMHDI. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta Simakrama Forum Alumni dan KMHDI untuk melihat kondisi Bali secara kritis di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata. Ia menyinggung pentingnya refleksi terhadap arah pembangunan Bali dalam 25 tahun terakhir, termasuk dampak sosial dan lingkungan yang muncul akibat tingginya kunjungan wisatawan. Menurutnya, Bali perlu melakukan “moratorium” atau jeda reflektif agar pembangunan tidak mengorbankan identitas budaya, lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat lokal.

I Nyoman Parta juga menyoroti ketimpangan antara pertumbuhan ekonomi Bali dengan kesejahteraan masyarakat. Ia mempertanyakan relevansi angka pertumbuhan ekonomi yang terus positif, sementara Upah Minimum Regional (UMR) Bali masih berada di kisaran Rp3,2 juta hingga Rp3,5 juta, jauh dibandingkan beberapa daerah industri lain seperti Bekasi maupun Surabaya yang telah di angka 5-6 juta per bulan. Ia menilai tingginya jumlah wisatawan ke Bali yang mencapai sekitar 17 juta kunjungan belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan taraf hidup masyarakat Bali. Masukan tersebut menjadi sorotan penting dalam forum, terutama terkait arah kebijakan ekonomi dan distribusi manfaat pariwisata bagi warga lokal dan juga menjaga kebudayaan Bali. Nyoman Parta juga menyampaikan Bali istimewa karena merupakan daerah yang toleransi terhadap daging babi, kemudian masyarakat dalam ritual upacara juga menggunakan hewan babi, serta Bali menjadi daerah yang banyak dikunjungi wisatawan dari mancanegara dan juga wisatawan domestik, ini adalah potensi yang perlu dijaga, bahkan perlu adanya managemen terkait pelestarian indukan hewan babi (jantan dan betina), pabrikasi serta pakan babi, dengan nilai jual daging babi yang sesuai agar bisa mensejahterakan para peternak babi di Bali, yang disambut tepuk tangan para kader mahasiswa hindu, tamu undangan dan alumni KMHDI.

Foto Alumni KMHDI : Rary Triguntara Bersama I Nyoman Parta , Anggota Komisi III DPR RI Daerah Pemilihan Provinsi Bali

Dinamika internal organisasi turut menjadi perhatian dalam forum simakrama tersebut. Ketua PD KMHDI Bali, Pitriyo, menegaskan perlunya rekonsiliasi internal dan peningkatan keaktifan kader dalam organisasi. Ia mengajak seluruh anggota untuk menjaga soliditas dan memperkuat komunikasi antarstruktur organisasi. Kepengurusan PD KMHDI Bali periode 2025–2027, kata dia, berkomitmen menjaga persatuan serta terus membangun semangat kaderisasi dengan dukungan penuh dari para alumni.


Dukungan moral juga datang dari Alumni KMHDI Dr.I Wayan Jondra yang juga pengurus PHDI Pusat , ia meminta para kader KMHDI untuk tidak berkecil hati dalam menghadapi tantangan organisasi maupun kehidupan sosial. Ia menekankan pentingnya penyusunan arah dan timeline perjuangan jangka panjang, mulai dari lima hingga 50 tahun ke depan. Menurutnya, keberhasilan kader tidak hanya ditentukan oleh usaha, tetapi juga oleh doa dan nilai spiritual yang terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Doa dan berusaha harus berjalan beriringan bagi setiap kader KMHDI maupun para alumni agar tujuan bisa tercapai, ungkap Wayan Jondra.

Foto Dari atas ke Bawah : Bli I Nyoman Parta Komisi III DPR RI, Bli Anak Agung Lidartawan KPU Provinsi Bali, Bli Gede Wirakusuma Wahyudi Kepala Dinas Kominfo Kota Denpasar, I Ketut Sae Tanju Ketua Forum Alumni KMHDI Bali, I Kadek Adiawan Ketua KPU Kabupaten Bangli, Dewa Wirajaya Presidium PP KMHDI Pusat 2010-2012, Bli Prama Budarta (Jambenk) Alumni KMHDI Karangasem Bali, Bli Putu Arnata Wakil Ketua Komisi Informasi (KI) Bali, Bli Ketut Narta Bawaslu Kabupaten Tabanan, Alumni KMHDI dan Peradah.
Kegiatan Simakrama FA.KMHDI kemudian ditutup dengan sosialisasi pembangunan Gedung Creative Space KMHDI di Jakarta yang telah mencapai 75%, kemudian sesi foto bersama Alumni dan kader KMHDI seluruh Bali, menikmati suguhan loloh don cemcem dan makan bersama, hiburan karaoke, dan tari "ngibing joged bumbung" yang berlangsung penuh keakraban. Penutupan tersebut menjadi simbol bahwa Forum Alumni KMHDI bukan hanya ruang diskusi intelektual, tetapi juga ruang kebersamaan lintas generasi dalam memperkuat identitas, solidaritas, gotong royong, dan masa depan KMHDI di Bali maupun tingkat nasional.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : Forum Alumni KMHDI, Alumni KMHDI NTT dan Rygun / Hindukupang.com

Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT
Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan
Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando
Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 24 May 2026
- Hits: 411


































































.jpg)









