
HinduKupang.com, NTT – JAKARTA – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat meneguhkan komitmen untuk memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus memperluas kontribusi umat Hindu dalam pembangunan bangsa melalui pelaksanaan Mahasabha XIII PHDI Pusat Tahun 2026. Pembukaan Mahasabha Ke XIII PHDI Kamis (8/10/2026), Mengusung tema “Penguatan PHDI Melalui Dharma Agama dan Dharma Negara Menuju Indonesia Raya”, forum nasional ini berlangsung pada 8–11 Oktober 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, DKI Jakarta, tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat organisasi, mengevaluasi pelayanan kepada umat, serta merumuskan arah pengabdian PHDI bagi agama, masyarakat, dan negara.
Ketua Panitia Mahasabha XIII, Letnan Jenderal TNI Purnawirawan I Nyoman Cantiasa,S.E.,M.Tr.(Han), menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dihadiri sekitar 700 peserta dari berbagai unsur organisasi dan kelembagaan Hindu. Peserta meliputi Ketua Pengurus Harian PHDI Pusat Mayor Jenderal TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya,S.I.P, Ketua Sabha Walaka PHDI Kolonel Infanteri (Purn) I Nengah Dana,S.Ag, Ketua Dharma Adhyaksa Ida Pedanda Nabe Gde Bang Buruan Manuaba, kemudian jajaran pengurus PHDI Pusat, utusan PHDI tingkat provinsi dan kabupaten/kota, pimpinan organisasi Hindu nasional, Dirjen Bimas Hindu kementerian Agama Prof.Dr.Drs.I Nengah Duija,M.Si, serta perwakilan yayasan, lembaga, dan komite Hindu, insan jurnalis pers media, serta Tamu Undangan. Dalam laporan penyelenggaraan disebutkan bahwa Mahasabha ke XIII PHDI melibatkan perwakilan dari seluruh 35 PHDI provinsi serta 251 dari 303 PHDI kabupaten/kota. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperlihatkan luasnya keterlibatan organisasi dan menjadi bagian penting dalam konsolidasi kehidupan keumatan Hindu di Indonesia.

Letjen TNI (Purn) I Nyoman Cantiasa,S.E.,M.Tr.(Han) menegaskan bahwa Mahasabha Ke XIII PHDI bukan sekadar pertemuan rutin organisasi, melainkan forum pengambilan keputusan yang menentukan arah kelembagaan PHDI untuk periode berikutnya. Agenda pembahasan mencakup Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), evaluasi organisasi, serta proses pergantian kepemimpinan. Sebelum pelaksanaan Mahasabha, panitia bersama pengurus PHDI telah menyelenggarakan rangkaian pramunas dalam bentuk diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD) di berbagai daerah. Kegiatan tersebut bertujuan menyerap aspirasi umat dan mengidentifikasi persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan organisasi.
Sejumlah isu yang dihimpun melalui rangkaian diskusi tersebut meliputi transformasi kelembagaan, peningkatan kualitas pelayanan kepada umat, tata kelola aset organisasi, kesehatan, serta penguatan peran generasi muda. Aspirasi tersebut menjadi masukan penting agar keputusan Mahasabha tidak berhenti pada penataan struktur kepengurusan, tetapi juga menghasilkan langkah konkret yang menjawab kebutuhan umat. Cantiasa menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan dapat terlaksana berkat kerja sama dan semangat gotong royong berbagai pihak yang terlibat.

Mahasabha XIII PHDI Pusat turut dihadiri sejumlah pejabat negara dan tokoh nasional, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Wakil Kepala BKKBN Isyana Bagoes Oka, anggota DPR dan DPD RI dari daerah pemilihan Bali, unsur TNI dan Polri, perwakilan Kejaksaan Agung, tokoh lintas agama, pimpinan organisasi keagamaan, pimpinan perguruan tinggi Hindu, serta perwakilan PHDI dari berbagai daerah. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut memperlihatkan pentingnya dialog dan kerja sama lintas sektor dalam memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus menjaga persatuan bangsa.
Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya,S.I.P dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga persatuan umat Hindu dan tidak membiarkan perbedaan dimanfaatkan untuk memecah belah hubungan antarsesama. Ia secara khusus menyampaikan pesan kepada sahabatnya, Jenderal Putu Dunia, yang disebutnya sebagai teman sejak kecil dan rekan satu angkatan. Dengan mengingat perjalanan persahabatan serta pengabdian mereka, Wisnu mengajak seluruh elemen umat Hindu untuk menghindari upaya adu domba dan memperkuat kebersamaan. Ia menegaskan bahwa perbedaan latar belakang maupun perjalanan pengabdian tidak boleh mengalahkan persaudaraan dan tanggung jawab bersama dalam membangun umat.
Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya juga menggunakan ungkapan Bali “Raket Teket Sekadi Sampat Lidi” untuk menggambarkan pentingnya persatuan, yakni kebersamaan yang kuat seperti lidi-lidi yang terikat menjadi satu kesatuan. Pesan tersebut mencerminkan harapan agar umat Hindu tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dalam memperkuat kehidupan keagamaan, pelayanan sosial, dan ketahanan organisasi. Menurutnya, persatuan merupakan modal utama untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memastikan bahwa PHDI tetap mampu menjalankan tugas pembinaan dan pelayanan kepada umat secara berkelanjutan.

Sementara itu, Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A menekankan pentingnya mengembangkan Kurikulum Cinta sebagai pendekatan untuk membangun masyarakat yang rukun, damai, dan mampu menerima perbedaan. Menurutnya, cinta bukan hanya persoalan hubungan pribadi, melainkan nilai universal yang dapat menjadi landasan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Ketika rasa cinta, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama tumbuh dalam masyarakat, berbagai persoalan akan lebih mudah dihadapi melalui dialog, kebijaksanaan, dan semangat kebersamaan. “Semakin terasa pentingnya kita mengembangkan Kurikulum Cinta. Jika cinta sudah berbicara, maka semuanya akan ringan, semuanya akan terang, dan semuanya akan mudah,” ujar Nasaruddin.
Menteri Agama juga mengajak para tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkan nilai kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai kemajemukan Indonesia merupakan kenyataan yang harus dirawat, bukan dipandang sebagai sumber perpecahan. Keberagaman agama, suku, budaya, dan tradisi dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan sikap saling menghormati. Nasaruddin menyampaikan bahwa Indonesia memiliki pengalaman penting dalam merawat perbedaan dan menyatukannya di bawah semangat Bhinneka Tunggal Ika. Dalam sambutannya, ia juga mengungkapkan ketertarikannya terhadap kitab Bhagavad Gita, yang menurutnya memiliki sejumlah nilai dan pemikiran yang relevan untuk direnungkan dalam membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik.
Ketua MPR RI H.Ahmad Muzani yang membuka Mahasabha XIII PHDI menegaskan bahwa Dharma Agama dan Dharma Negara merupakan dua tanggung jawab yang tidak perlu dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya harus berjalan beriringan dan saling menguatkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, nilai-nilai agama semestinya menjadi landasan moral untuk membangun kehidupan masyarakat yang harmonis, sedangkan negara perlu memberikan ruang dan jaminan agar kehidupan beragama dapat tumbuh dengan baik. “Dharma Agama dan Dharma Negara tidak bisa dipisahkan,” tegas Muzani dalam sambutannya, Kamis (8/10/2026).

Muzani menjelaskan, keyakinan terhadap agama harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa. Kehidupan beragama tidak seharusnya menjadi penghalang pembangunan negara, sebagaimana negara juga tidak boleh menghalangi masyarakat menjalankan keyakinannya. Dalam pandangannya, nilai spiritualitas, kemanusiaan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan fondasi penting untuk membangun Indonesia yang kuat. Karena itu, penguatan umat Hindu tidak cukup hanya berorientasi pada kehidupan spiritual, tetapi juga perlu tercermin dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan partisipasi aktif dalam pembangunan nasional.
Ketua MPR RI tersebut turut menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi umat Hindu. Menurutnya, umat yang kuat adalah umat yang mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, sekaligus mempunyai kemampuan membantu masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Ia mengungkapkan pandangannya secara lugas dengan menyebut bahwa salah satu ciri umat Hindu yang kuat ialah ketika kondisi ekonominya semakin baik. Pesan tersebut menegaskan bahwa pengamalan Dharma juga perlu diwujudkan melalui kerja produktif, kemandirian, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama, bukan sekadar melalui pemahaman keagamaan.

Dalam konteks sejarah kebangsaan, Muzani mengingatkan bahwa umat Hindu memiliki kontribusi panjang dalam perjalanan peradaban Nusantara. Ia menyinggung kerajaan-kerajaan seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram Kuno sebagai bagian dari sejarah yang turut membentuk perkembangan kebudayaan Indonesia. Menurutnya, warisan peradaban tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari perjalanan bangsa yang kaya akan keberagaman. Nilai toleransi, gotong royong, serta penghormatan terhadap perbedaan harus terus dirawat agar menjadi kekuatan yang memperkokoh persatuan nasional di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang agama, budaya, suku, dan tradisi yang beragam.

Muzani juga memberikan penghargaan kepada para sulinggih dan pandita yang selama ini menjalankan pengabdian dalam mendampingi umat. Menurutnya, para pemuka agama hadir dalam berbagai situasi, mulai dari kebahagiaan, kesedihan, persoalan keluarga, perselisihan sosial, hingga ketika masyarakat menghadapi bencana. Peran mereka dinilai penting dalam memberikan ketenangan, bimbingan spiritual, serta membantu memulihkan hubungan antarmasyarakat ketika terjadi konflik atau kesalahpahaman. Pengabdian tersebut sering kali berlangsung tanpa sorotan publik, tetapi memiliki arti besar dalam menjaga kerukunan dan membangun solidaritas sosial.
Lebih lanjut, Muzani mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi dan infrastruktur perlu berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Kemajuan material, menurutnya, akan kehilangan makna apabila tidak diimbangi dengan kepedulian terhadap sesama, persaudaraan, dan tanggung jawab moral. Ia mengajak kepengurusan PHDI ke depan untuk terus memberikan bakti kepada agama dan negara serta memperbesar kontribusi organisasi dalam menjaga persatuan Indonesia. Ia berharap Mahasabha XIII menghasilkan keputusan yang membawa kebaikan bagi umat Hindu sekaligus memperkuat kehidupan kebangsaan.

Melalui Mahasabha XIII, PHDI diharapkan mampu memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas pelayanan keumatan, membangun kemandirian ekonomi, dan memperluas keterlibatan generasi muda dalam kehidupan Hindu. Tantangan ke depan bukan hanya menjaga keberlangsungan organisasi, tetapi juga memastikan bahwa nilai Dharma diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan menjadikan Dharma Agama dan Dharma Negara sebagai landasan pengabdian yang saling menguatkan, PHDI diharapkan terus berkontribusi dalam merawat toleransi, memperkokoh persaudaraan, dan membangun Indonesia yang damai, adil, serta sejahtera menuju Indonesia Raya.(Guntara)
Editor : Rygun
Sumber dan Foto : www.hindukupang.com , Grup Whatsapp Forum Alumni KMHDI, Hindu Nusantara Puskor Hindunesia
Dokumentasi Hari Pertama Mahasabha XIII PHDI (8-11 Oktober 2026 di DKI Jakarta) : Kunjungi Disini



Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama