
Sanggar Saraswati Dari Sekolah Dasar (SD) Hindu Adi Widyalaya Saraswati Raih Juara 1 Lomba Tarian Daerah Seluruh Kota Kupang 2025 Dalam Acara Panggung Budaya Pameran Pembangunan Menyambut Semarak HUT RI Ke 80 Tahun (14 Agustus 2025)
Hindukupang.com, NTT – Suasana Panggung Pentas Budaya NTT BAGAYA dalam Pameran Pembangunan di Lapangan Hotel Harper pada Kamis 14 Agustus 2025, jam 17:00wita sore hingga malam hari dipenuhi warna-warni kain tradisional, denting musik khas Nusa Tenggara Timur, dan semangat para pelajar. Dalam rangka memeriahkan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang menggelar Lomba Tarian Daerah Antar Pelajar tingkat SD/MI dan SMP/MTs se-Kota Kupang Tahun 2025.
Panggung megah yang Mengusung tema NTT BaGaYa : “Bangun Generasi Angkat Kreativitas Yakin Berkarya”, dan menjadi bagian dari Pameran Pembangunan ini menjadi saksi hadirnya puluhan peserta dari berbagai sekolah. Salah satunya adalah SD Adi Widyalaya Saraswati yang tampil membawakan tarian tradisional Hegong “Soka Toja” dari Kabupaten Sikka, Flores.
Tarian Hegong “Soka Toja” memiliki makna kultural yang mendalam. Dalam tradisi masyarakat Sikka, tarian ini kerap dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan sekaligus mengajak mereka turut menari bersama. Gerakannya yang dinamis dipadu dengan irama musik lokal gong waning menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan.
VIDEO PENAMPILAN TARIAN HEGONG SOKA HOJA DARI SANGGAR SARASWATI KUNJUNGI DISINI
Menurut sejarahnya, tarian ini berkembang di wilayah Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan simbol keramahan dan penghormatan masyarakat Sikka kepada para tamu. Awalan tarian biasanya diawali seruan bahasa daerah: “Eeee… Mai Sai, Mai Ita Soka Hama-Hama”, yang berarti ajakan untuk bergabung dan menari bersama.

Dalam penampilan kali ini, para penari dari "Sanggar Saraswati" asuhan SD Adi Widyalaya Saraswati tampil anggun dengan balutan busana adat Sikka. Penari perempuan mengenakan labu tengge, busana khusus anak-anak perempuan dalam tradisi setempat. Sementara penari laki-laki mengenakan labu lipa mitan, dilengkapi lensu dan semba, serta membawa ikun atau sapu tangan sebagai properti tari. Penampilan mereka kian berkesan berkat busana adat Sikka Pulau Flores NTT yang autentik.
Delapan siswa terpilih menjadi duta seni sekolah mereka. Mereka adalah Dewa Ayu Mas Suhitatridevi Dewanta, Kadek Denaya Putri Gangga Maheswari, Komang Devania Maharini Wijaya, Kadek Sabrina Putri Wicaksana, Ni Kadek Legita Ishana Maheswari, Ni Ketut Revnys Diana Gayatri, Septiera Cinthia Sukma Wati, dan satu-satunya penari laki-laki, dan I Kadek Anantawijaya Putra, satu-satunya penari laki-laki dalam tim.
Kehadiran mereka di panggung tidak hanya membawa misi menghibur penonton, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda di Provinsi NTT. Guru pendamping, Asmi Susanti Laiboys, S.Pd, mengaku bangga anak-anak didiknya dapat tampil di ajang sebesar ini. “Mereka berlatih berbulan-bulan. Bukan hanya menghafal gerakan, tapi memahami makna di balik setiap langkah tari,” ujarnya.
Dari pinggir panggung, tabuhan gong waning menggema, memandu ritme gerakan penari. Suara alat musik ini berpadu harmonis dengan tepuk tangan penonton yang mengikuti alunan lagu. Sorakan dan dukungan terdengar setiap kali penari melakukan formasi tertentu yang memukau.
Selain memamerkan keterampilan, lomba ini menjadi ruang edukasi budaya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, yang hadir langsung di lokasi, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui pelestarian budaya lokal. “Anak-anak kita harus mengenal dan bangga dengan tarian daerah. Ini adalah identitas kita,” tegasnya.
Tarian Hegong “Soka Toja” bukan hanya menyuguhkan gerak yang indah, tapi juga mencerminkan nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan keterbukaan menerima orang baru. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat kemerdekaan yang dirayakan dalam HUT RI ke-80 tahun ini.
Meski berada dalam suasana kompetisi, para peserta menunjukkan sportivitas. Sekolah-sekolah dari berbagai penjuru Kota Kupang saling memberikan dukungan. Nuansa kekeluargaan terasa, seakan panggung bukan medan persaingan, melainkan tempat berbagi kebahagiaan.
Penampilan "Sanggar Saraswati" dari Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati menjadi salah satu sorotan sore itu. Kostum yang mencolok, gerakan yang kompak, dan penghayatan yang kuat membuat penonton betah menyaksikan hingga akhir. Tak sedikit penonton yang ikut bergoyang mengikuti alunan musik.
Ketika tarian usai, tepuk tangan riuh menggema di seluruh area panggung. Bagi para penari cilik ini, pengalaman tampil di panggung besar menjadi kenangan tak terlupakan. Lebih dari sekadar lomba, mereka telah menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya, menghidupkan tradisi, dan merayakan kemerdekaan dengan cara yang paling indah menari bersama.
Guru pendamping, Asmi Susanti Laiboys, S.Pd., menyampaikan rasa bangganya. “Mereka berlatih berbulan-bulan. Bukan hanya menghafal gerakan, tapi memahami makna di balik setiap langkah tari,” ujarnya. Latihan yang intens membuat setiap detail penampilan terlihat rapi dan kompak.
Dari sisi panggung, denting gong waning berpadu dengan riuh tepuk tangan penonton. Alunan musik khas Maumere itu menjadi pengiring ritme gerakan para penari. Setiap perubahan formasi dan hentakan kaki disambut sorakan kagum dari penonton.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang yang hadir langsung menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal melalui ajang seperti ini. “Anak-anak kita harus mengenal dan bangga dengan tarian daerah. Ini adalah identitas kita,” katanya, disambut anggukan para orang tua yang hadir.
Tarian Hegong “Soka Toja” tidak sekadar menyajikan keindahan gerak, tetapi juga memancarkan pesan kebersamaan dan keramahan. Dalam tradisi Sikka, tarian ini digunakan untuk menyambut tamu dan mengajak mereka menari bersama, mencerminkan keterbukaan serta persaudaraan yang menjadi ciri masyarakat setempat.
Meski acara berlangsung dalam suasana kompetisi, nuansa persaudaraan tetap terasa. Sekolah-sekolah dari berbagai penjuru Kota Kupang saling memberi semangat dan apresiasi. Panggung terasa lebih sebagai ruang berbagi kegembiraan daripada arena persaingan semata.
Saat pengumuman pemenang, ketegangan pun pecah menjadi sorak kegembiraan. “Sanggar Saraswati” berhasil meraih Juara 1 utama kategori SD/MI. Prestasi ini menjadi buah manis dari kerja keras dan dedikasi seluruh tim.
Kepala Sekolah SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT, Ni Nyoman Suparwati,S.Pd., dalam wawancara bersama media www.Hindukupang.com menyampaikan rasa syukurnya. “Anak-anak tampil luar biasa. Kostum yang mencolok, gerakan yang kompak, dan penghayatan yang kuat membuat penonton betah menyaksikan hingga akhir,” ujarnya.
Penampilan itu bahkan membuat sebagian penonton ikut bergoyang mengikuti irama musik. Momen ini menjadi bukti bahwa seni tradisi masih mampu menjembatani generasi dan mempersatukan orang dari berbagai latar belakang.
Dengan prestasi tersebut, “Sanggar Saraswati” Sekolah Dasar (SD) Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang yang juga memiliki Akreditasi "A" ini akhirnya membawa Predikat Juara 1 dalam Lomba Tarian Daerah Antar Pelajar Sekolah Dasar SD/MI dan SMP/MTS seluruh Kota Kupang Tahun 2025, dan mengukir sejarah kecil di hati penonton dalam semarak sambut Dirgahayu ke 80 Tahun Kemerdekaan RI di Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam Semangat "Ayo Bangun NTT" Mereka Para Penari Sanggar Saraswati telah membuktikan bahwa seni budaya di Bumi FLOBAMORATA NTT, jika dilestarikan dengan cinta dan dedikasi, akan terus hidup di tengah masyarakat.(Guntara)
VIDEO PENAMPILAN TARIAN HEGONG SOKA HOJA DARI SANGGAR SARASWATI KUNJUNGI DISINI
Narasi dan editor : www.Hindukupang.com / K'Gun
Sumber Foto : Ni Nyoman Suparwati,S.Pd , Kepala Sekolah Dasar (SD) Adi Widyalaya Saraswati
Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 14 August 2025
- Hits: 558

HinduKupang.com, NTT – Parade Kirab Budaya Menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 Tahun di Provinsi Nusa Tenggara Timur dibuka secara resmi oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena,S.Si.,Apt Bersama Wakil Gubernur NTT Irjen Pol.(Purn) Drs.Johanis Asadoma,S.I.K.,M.Hum, dan Ketua DPRD NTT Ibu Ir.Emelia Julia Nomleni, pada hari rabu, 13 Agustus 2025 di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT. Hadir pula Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Franscies, S.Sos., M.Sc., jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) tingkat provinsi dan kota, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Tingkat Provinsi NTT, Brimob, POLDA NTT, TNI, Drumband Siswa Siswi SMA dan SMK , Paguyuban Berbagai Etnis Sulawesi Selatan, Minangkabau, "Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) Paguyuban Etnis Bali (Hindu) di Kupang NTT, serta Universitas di Kota Kupang, insan jurnalis pers media, dan seluruh masyarakat.


Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Kirab Budaya bertajuk "NTT Bagaya Merayakan Warisan Menyongsong Masa Depan", serta Mengusung tema NTT BaGaYa : “Bangun Generasi Angkat Kreativitas Yakin Berkarya”, kirab budaya yang diikuti oleh 80 peserta ini menjadi simbol kebangkitan semangat berkarya di tengah masyarakat. Kegiatan ini mencerminkan tekad bersama untuk membangun daerah melalui Budaya, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi antara pemerintah, swasta, serta masyarakat.
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam sambutannya menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni peringatan kemerdekaan. “Kirab budaya dan pameran ini adalah refleksi capaian pembangunan, wadah promosi potensi daerah, serta ruang bagi pelaku UMKM untuk menampilkan karya terbaik mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan NTT harus dibangun melalui penguatan kreativitas lokal, melestarikan budaya NTT, pengembangan ekonomi mikro, dan keterlibatan masyarakat akar rumput. “Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan NTT yang mandiri dan berdaya saing,” tegas Gubernur NTT Melki.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang menggelar Kirab Budaya bertajuk “NTT Bagaya Merayakan Warisan Menyongsong Masa Depan” dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebanyak 80 kelompok peserta dari instansi pemerintahan, sekolah, dan paguyuban etnis turut ambil bagian dalam pawai budaya ini. Kirab dilepas secara resmi oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, yang mengajak seluruh masyarakat untuk mengenang perjuangan para pahlawan bangsa.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki menegaskan, kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari penjajah, melainkan buah perjuangan panjang yang ditempa oleh pengorbanan rakyat dari berbagai suku, agama, dan latar belakang. “Kemerdekaan ini adalah bagian dari perjuangan seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Nusa Tenggara Timur,” ujarnya. Tahun ini, kirab budaya mengusung semangat baru dengan menghubungkan warisan budaya lokal dan konsep pariwisata berkelanjutan (eco-cultural tourism) yang kini menjadi tren global. Para peserta menampilkan keindahan kain tenun, musik tradisional, tarian daerah, kuliner khas, dan prosesi adat dari berbagai wilayah di NTT.

Pawai kirab dimulai dari depan Rumah Jabatan Gubernur NTT, melintasi Jalan El Tari, melewati Kuanino, dan berakhir di Gereja Katedral Kristus Raja Kota Kupang. Sepanjang rute, ribuan warga tumpah ruah menyaksikan suguhan budaya dari berbagai etnis dan daerah di NTT.
Berbagai tarian adat dipersembahkan berbagai peserta Parade berbagai pulau-pulau di Nua Tenggara Timur yaitu dari Pulau Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, Sabu, Lembata, dan Adonara , yang dikenal dengan sebutan FLOBAMORATA. Gerak, kostum, dan musik tradisional yang dibawakan menjadi daya tarik tersendiri, mempertegas kekayaan budaya NTT di mata publik.
Salah satu penampilan yang menyedot perhatian adalah paguyuban etnis Bali “Banjar Dharma Agung Kupang” (BDAK) yang membawakan Sendratari Ramayana. Kisah legendaris yang sering dalam Pewayangan Nusantara ini mengisahkan perjuangan Rama yang merupakan titisan Awatara Dewa Wisnu bersama pasukan kera dan Hanoman melawan Rahwana untuk menyelamatkan Dewi Sinta.

Paguyuban etnis Bali yaitu "Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) sebagai perwakilan Etnis Bali (Hindu) di Kota Kupang NTT, menampilkan Sendratari RAMAYANA, yaitu kisah Rama dan Dewi Sinta, serta Rahwana dan Hanoman. Kisah Ramayana ini menceritakan Raksasa Rahwana menculik Dewi Sinta istri dari Rama, dan akhirnya terjadi perang merebut kembali Dewi Sinta di kerajaan AlengkaPura dan Rama dengan pasukan kera dan Hanonan bertempur melawan raksasa Rahwana yang kalah berperang. Akhirnya Rama berhasil berjumpa kembali dengan istrinya Dewi Sinta dan hidup berbahagia. Sendratari Ramayana diiringi Gamelan Gong "Sekehe Demen" yang dipersembahkan di hadapan Guru Wisesa, Pemimpin Daerah Gubernur NTT, Wakil Gubernur NTT , Ketua DPRD NTT dan Wakil Walikota Kupang mendapatkan tepuk tangan meriah dan apresiasi yang memukau seluruh masyarakat.



Dengan iringan gamelan gong “Sekehe Demen”, pertunjukan tersebut berhasil menghipnotis penonton, termasuk para pejabat daerah yang hadir di panggung kehormatan. Adegan pertempuran, keanggunan gerak tari, dan musik gamelan yang ritmis memancing tepuk tangan meriah dari penonton.
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Franscies, memberikan apresiasi tinggi atas keterlibatan seluruh elemen masyarakat. “Kegiatan ini menjadi bukti bahwa keberagaman budaya adalah kekuatan NTT dalam membangun masa depan,” ujarnya.



Selain kirab, rangkaian perayaan HUT RI ke-80 di NTT juga diisi dengan pameran pembangunan yang diikuti 225 stand bertempat di lapangan Hotel Harper 11-20 Agustus 2025. Stan-stan pameran ini menampilkan capaian pembangunan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi NTT, produk UMKM, kerajinan khas, hingga inovasi layanan publik.
Ketua Panitia yang juga Kepala Dinas Kominfo Provinsi NTT, Frederik C.P. Koenunu, menjelaskan bahwa tujuan pameran ini adalah menyampaikan capaian pembangunan, mempromosikan produk lokal, serta memperkuat kecintaan pada budaya daerah. “Pameran ini adalah ruang bersama yang menghubungkan ekonomi kreatif, UMKM, dan pelestarian budaya,” katanya.
Bagi yang tidak sempat hadir langsung, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT serta Dinas Kominfo Provinsi NTT menyiarkan kirab budaya ini secara langsung melalui kanal YouTube masing-masing, Video Kunjungi Disini, agar memungkinkan masyarakat di seluruh pelosok NTT bahkan luar daerah untuk ikut merasakan kemeriahannya serta semangat Kemerdekaan "Ayo Bangun NTT".(Guntara)
Foto : Hindukupang.com / k'Gun
Editor : RyGun

Hindukupang.com : Bersama Penata Tari Sdri.Kini Kinanti Dan Kera Sakti "Hanuman" dan Rahwana Dalam Pawai Ramayana Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur , menyambut Dirgahayu Hari Kemerdekaan RI ke 80 Tahun, 13 Agustus 2025, Parade Kirab Budaya ini Dibuka Oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.


Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 13 August 2025
- Hits: 452

HinduKupang.com - NTT, Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, sukses menggelar acara Pentas Seni Perpisahan Siswa Kelas VI Angkatan III dan Kenaikan Kelas I–V. Acara bertema "Togetherness: Harmoni Kebersamaan, Melangkah Bersama, Berpisah untuk Bertumbuh" ini diselenggarakan pada Senin sore 16 Juni 2025 jam 16:30-20:00 WITA hingga malam hari bertempat di D’Art Café and Galery, Taman Dedari, Sikumana, Kota Kupang.
Acara dimulai pukul 16.30 WITA dengan registrasi undangan serta pembagian kupon oleh panitia. Para siswa dan orang tua mulai berdatangan, memenuhi lokasi acara yang telah dihias meriah dengan nuansa seni dan kebersamaan.

Pembukaan dan dipandu oleh Master of Ceremony (MC) cilik Deva, Dena, Siswi SD Hindu Adi Widyala Saraswati dan MC Ibu Ni Kadek Ary Mayastuti. Mereka membuka acara dengan penuh semangat, dengan berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia yang menciptakan suasana akrab sejak awal kegiatan.
Acara dibuka Tari Puspanjali dari siswa kelas 3 menjadi penampilan pembuka yang memukau. Tarian tradisional ini dibawakan oleh Rain, Desyta, Legita, Shinta, dan Cheril sebagai simbol penghormatan kepada para tamu undangan dan guru-guru.
Rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh dirigen Mrs. Kadek. Selanjutnya, doa dipanjatkan oleh Pinandita Bapak I Nyoman Widjana untuk memohon kelancaran acara dan keberkahan bagi seluruh peserta.

Ketua Panitia Pentas Seni SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Angkatan ke III, Ibu Dayu Kade Purwa Asti, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas partisipasi semua pihak. Ia juga menekankan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana mengasah bakat , pentas seni, dan membangun rasa percaya diri siswa. Terima Kasih kepada para donatur acara dan juga rangkaian acara dengan total dana kegiatan 9,5 juta berjalan meriah. Berbagai acara pentas seni dari siswa-siswi Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Persembahan istimewa kepada semua Bapak Ibu Guru, orang tua , tamu undangan yang hadir.


Ucapan selamat dan sambutan diberikan oleh Ketua Yayasan Adi Widyalaya Saraswati Kupang, Bapak I Made Suardana Putra,S,Ag. Beliau mengajak seluruh siswa untuk terus membawa semangat kebersamaan dalam perjalanan pendidikan mereka. Momen penuh makna terjadi ketika Ketua Yayasan Upanisada yang menaungi Adi Widyalaya Saraswati Kupang, Bapak Made Suardana, menyampaikan sekapur sirih. Beliau juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter dan nilai kebersamaan dalam membentuk pribadi siswa. Ketua yayasan Upanisada Pendidikan Hindu juga mengucapkan limpah terima kasih kepada para donatur tetap yayasan, dan juga para orang tua murid yang telah menyekolahkan anaknya dan juga para guru tenaga pendidik, serta berbagai organisasi Hindu Kupang NTT yang akan terus mendukung pendidikan baik TK Hindu Pratama Widyalaya Saraswati maupun SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati di Kota Kupang NTT.
Saat ini penerimaan siswa-siswi di TK Hindu Pratama Widyalaya Saraswati (Akreditasi B) dan SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati telah dibuka untuk periode 2025-2026, dan orang tua murid bisa untuk mendaftarkan anaknya di sekolah dengan Akreditasi A ini yang bertempat di Areal Pura Oebanantha, Kelurahan Fatubesi Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Atau bisa juga kunjungi sosial media di facebook dan instagram sekolah Adi Widyala Saraswati Kupang NTT.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang, yang diwakili oleh Koordinator Pengawas Sekolah Bapak Johnny Eduard Rihi,S.Pd, yang sangat mengapresiasi kegiatan Pentas Seni SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Angkatan ke III ini. Sekolah ini merupakan sekolah terbaik yang memiliki Akreditasi A, ungkap Johnny yang disambut tepuk tangan para tamu undangan. Koordinator Pengawas Sekolah Bapak Johnny Eduard Rihi,S.Pd juga menyampaikan Sekolah Dasar SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang NTT yang telah memiliki Akreditasi A , bisa sangat membantu dikemudian hari untuk melanjutkan ke jenjang SMP yang juga akreditasi A, dan sekolah dimanapun akan sangat senang menerima siswa-siswi yang memiliki Akreditasi terbaik dari sekolah sebelumnya, bahkan SMP dan SMA yang terbaik selalu menanti kedatangan dari sekolah dengan Akreditasi tertinggi.

Sambutan Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, Bapak I Wayan Budiantara,S.Ag.,M.Fil.H juga mengatakan hadirnya SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur ini menjadi perekat toleransi Agama dan semangat keberagaman, bahkan Kota Kupang NTT masuk menjadi 10 besar dalam indeks toleransi terbaik secara Nasional, yang disambut dengan tepuk tangan para tamu undangan. Beliau mengapresiasi kontribusi sekolah dalam mendidik Sumber Daya Manusia (SDM) generasi cilik dan remaja Hindu serta generasi muda Hindu Kupang yang berprestasi dan berkarakter.
Pembimas Hindu NTT Wayan Budiantara juga mengucapkan selamat kepada para siswa-siswi yang telah tamat dari SD Adi Widyalaya, dan bisa melanjutkan ke Madya Widyalaya (SMP Hindu) ataupun utama Widyalaya (SMA Hindu) bahkan Hingga jenjang Universitas Hindu atau Sekolah Tinggi Hindu dimanapun berada. Beliau juga memberikan apresiasi terhadap peran SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati yang bernaung melalui Yayasan Upanisada Pendidikan Hindu Kupang NTT dalam pembinaan siswa-siswi Hindu , maupun anak murid yang berprestasi, serta selalu memperhatikan kesejahteraan para guru tenaga pengajar pendidikan. Pembimas Hindu NTT Wayan Budiantara juga akan memperjuangkan PPG Guru bagi Sekolah Dasar Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang agar bisa segera meningkatkan kompetensi Guru dan juga kesejahteraan para tenaga pendidik.

Prosesi pelepasan siswa-siswi kelas VI sebanyak 5 orang menjadi momen yang membanggakan serta penuh rasa haru. Para siswa-siswi satu per satu dipanggil, diberi kenang-kenangan, dan berfoto bersama guru, Kepala Sekolah, serta tokoh-tokoh Organisasi dan Lembaga Hindu yang hadir serta tokoh pendidikan yang hadir. Nama - Nama Siswa-Siswi Kelas VI (6) yang lulus dari Sekolah Dasar SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur 2024-2025 yaitu :
1. I Made Satya Adiharsa Putra
2. I Kadek Anantawijaya Putra
3. I Wayan Rahadya Avend Kesumajaya
4. Ni Komang Vanita Juana Axwi
5. Rizky Rachman Hadi

Adapun yang memberikan selamat dan piagam serta penyerahan cinderamata kepada para Siswa-Siswi kelas VI yang lulus diantaranya adalah Kepala Sekolah Dasar (SD) Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang NTT Ibu Ni Nyoman Suparwati,S.Pd, Ketua Yayasan Upanisada Pendidikan Hindu Bapak I Made Suardana Putra,S.Ag, Ketua WHDI Kota Kupang Ibu Jero Gede dr.Dewa Ayu Putu Shinta Widari,Sp.KJ.,MARS, Koordinator Pengawas Sekolah Bapak Johnny Eduard Rihi,S.Pd, Pembimas Hindu NTT Kanwil Kementerian Agama NTT Bapak I Wayan Budiantara,S.Ag.,M.Fil.H, Penyelenggara Hindu Kota Kupang Bapak I Gusti Putu Wirata,S.Ag, Ketua Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) Bapak AKBP.Gede Arya Bawa, Sekretaris PHDI NTT Bapak Prof.Dr.Ir.I Gusti Bagus Adwita Arsa,M.P, Komite Sekolah Hindu Bapak Jero Gede Dr.dr.Dewa Putu Sahadewa,Sp.OG,Subsp.Obginsos. Suasana semakin mengharukan saat prosesi pelepasan siswa kelas VI dilakukan. Diiringi puisi dan lagu persembahan, para siswa kelas VI tampil satu per satu untuk menerima penghargaan dan berfoto bersama dengan para guru dan tamu kehormatan.



Tangis haru mewarnai suasana saat pesan dan kesan dari perwakilan siswa kelas VI dibacakan. Kemudian dilanjutkan sujud sungkem penghormatan para siswa-siswi kepada orang tua maupun guru-gurunya.
Acara berlanjut dengan persembahan puisi dan tarian dari siswa kelas 6 dan 3. Setelah itu, pengumuman peringkat tiga besar di setiap kelas 1-5 dilakukan oleh MC, disertai sesi foto bersama siswa berprestasi.

Foto Hindukupang.com : pesan dan kesan dari perwakilan siswa kelas VI dibacakan serta ucapan terima kasih kepada bapak dan ibu guru
Penampilan Pentas Seni dari Sekolah Dasar Hindu (SD) Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang, berbagai kelas turut memeriahkan acara. Kelas 1 dan 2 mempersembahkan gerak tari dan lagu dengan pianika. Kelas 3 persembahan Tarian Genjek yang memukau tamu undangan. Siswa-Siswi Kelas 4 persembahan Dance tarian, Kemudian kelas 5 mempersembahkan Drama dengan topik "Bullying" yang harus diantisipasi di sekolah dan atensi dari para tenaga pendidik dan pengajar. Mulai dari tarian, musikalisasi puisi, hingga drama siswa kelas 1-6 menunjukkan kekayaan talenta siswa-siswi SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati.

Penampilan lagu “Selalu Ada di Nadimu” yang dibawakan oleh Sweeta, Dibya, menggugah emosi para hadirin. Persembahan Pianika dari kelas 2 serta Tarian (Dance) dari siswa kelas 4, dan juga Drama dari kelas 5 menjadi penutup rangkaian pentas seni yang penuh warna dan makna dalam acara Pentas seni SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Setelah acara sesi foto bersama seluruh peserta dan tamu undangan, dilanjutkan dengan doa makan dan makan malam bersama yang disiapkan oleh bagian konsumsi. Suasana kekeluargaan sangat terasa selama jamuan makan berlangsung.
Sebelum penutupan, panitia membagikan doorprize yang menambah semarak acara. Tepat pukul 20.00 WITA, acara ditutup secara resmi dengan foto bersama di Photo booth. Panitia pentas seni menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan semua pihak dan harapan agar nilai-nilai kebersamaan yang tertanam melalui acara ini terus tumbuh dalam diri setiap siswa. Para siswa, guru, dan orang tua pulang membawa kenangan manis dan harapan akan masa depan yang cerah.(Kgun/HinduKupang)
Sumber dan Narasi : Rary Triguntara
Sumber Foto : Hindukupang.com / RyGuN
VIDEO Live Streaming POS KUPANG Bisa : Kunjungi Disini

Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 16 June 2025
- Hits: 462

Sharing Dharma (ShaDhar) berbagi Sembako oleh HinduKupang.com Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Bulan Purnama Sasih Sadha 10 Juni 2025, di Keluarga Dharmika Bapak I Gusti Bawa, berjumpa dengan Ida Bhawati I Made Suaba Aryanta, di Kebun Taebenu Baumata Kupang NTT.
HinduKupang.com, NTT — Aksi Kemanusiaan Hindu Kupang Warnai Purnama Juni 2025. Hindu Kupang menggelar aksi sosial bertajuk Sharing Dharma (ShaDhar) Pawongan bertepatan dengan Bulan Purnama Sasih Sadha pada 10 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan Dharma kemanusiaan, menyasar umat Hindu yang membutuhkan, seperti janda, keluarga disabilitas, dan para penganut Hindu Dharmika (Penganut Hindu pemula) yang hidup dalam keterbatasan.
Momentum Bulan terang "Purnama" serta Matahari (Surya) menuju "Uttarayana" Jadi Landasan Spiritualitas kegiatan kemanusiaan Hindukupang.com yang mengikuti petunjuk "Nature code" Kode AlamNYA sesuai Sastra Tattwa Pustaka Suci Hindu "Sarasamuccaya" dalam beramal sedekah.

Sumber BMKG : Garis Balik Utara (GBU) = God Bless Us (GBU), Uttarayana (Pustaka Suci Sarasamuccaya)
Kegiatan Aksi Kemanusiaan berbagi Sembako Hindukupang.com ini digelar pada masa "Uttarayana", saat matahari bergerak ke belahan bumi utara dari garis khatulistiwa. Dalam ajaran Hindu, dan Pustaka Suci Hindu Sarasamuccaya, pada Sloka 181-183 , kemudian Sloka 187-189, sangat jelas dan tegas aturan dalam beramal sedekah.
Sarasamuccaya ≈ Sa Rasa Kamu Harus Percaya
pada Sloka 183,
Bahasa Sanskerta :
ayaneșu ca yaddattarin şadacitimukhesa ca, candrasüryoparáge ca visuve ca tadakşayam
Jawa Kuno :
Nyang cubhakala, pratyekanya, hana dakainayana ngaranya, tambe sang hyang ädityängidul, hana uttarayana ngaranya, tambe sang byang adityängalor, hana sadasitimukha ngaranya, somagraha, suryagraha, wisuwakala wisu kunang, ikang wastu dānākéna ri kāla samangkana, atisaya rakwa bhärani phalanika.
Artinya :
Inilah perincian waktu yang baik ada yang disebut daksinayana, waktu matahari mulai berkisar ke arah selatan; uttarayana, waktu mulai matahari ke arah utara; ada yang bernama saat menjelang sadaciti mukha, saat gerhana bulan atau gerhana matahari; juga waktu baik yaitu ketika matahari berada di khatulistiwa (wisuwakala); sesuatu barang yang disedekahkan pada waktu itu, bukan alang kepalang besar pahalanya.




"Uttarayana Jadi Momentum Berbagi, Hindu Kupang NTT Salurkan Sembako dan Spiritualitas" , Perpaduan aspek astronomis keagamaan dengan aksi sosial.
Periode "Waktu" Beramal dalam Sloka 181-190 Pustaka Suci Hindu Sarasamuccaya oleh Bhagawan Wararuci, ini dipercaya dan diyakini umat Hindu sebagai waktu terbaik untuk berbagi, bersedekah, dan menebar kebajikan. Ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan kasih sayang sesama dalam wujud spiritualitas yang lebih dalam dan penuh makna.

"ShaDhar Purnama : Hindu Kupang Tebar Kasih di Tengah Keterbatasan" , momen Bulan Purnama dan aksi nyata kepada umat Hindu yang membutuhkan.
Bantuan Sembako serta Dupa Sebagai Wujud Kasih disalurkan melalui berbagai donatur yang turut berpartisipasi bersama Hindukupang.com. Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok seperti beras 10 kilogram, minyak goreng 2 liter, minyak goreng tambahan 1 liter, satu papan telur ayam, dan Dupa untuk sembahyang. Semua bantuan ini dimaksudkan untuk meringankan beban para keluarga Hindu yang tengah berjuang dalam keterbatasan.

Dharmika Hindu Kupang sedang "Mejejahitan" Merangkai Bunga dan Wangi Daun Pandan, Canang Sari dan Buat Kwangen untuk SembaHyang sore hari Bulan Purnama Sasih Sadha 10 Juni 2025.

"Dari Dharma untuk Sesama : Bantuan Hindu Kupang Sentuh Umat Marginal" , Kepedulian dan Semangat Pelayanan Dharma dalam bentuk bantuan nyata kepada umat kecil.
Tujuh Keluarga Penerima Bantuan terpilih melalui informasi media Hindukupang. Adapun Tercatat tujuh kepala keluarga menerima bantuan ini, antara lain keluarga Bapak Wayan Sutama di Liliba, keluarga I Gusti Bawa dan Ibu Tutut Wati di Taebenu Baumata, serta Ibu Yuliana seorang janda yang menjaga tanah Banjar Dharma Agung Kupang di Lasiana. Juga keluarga Bapak Nyongki (Tim BorBor) atau tim krematorium Hindu yang berprofesi ojek online Grab Bike, serta juga Ibu Agung Rai, janda yang seorang diri masih bertahan menjadi pemeluk Hindu di Kelapa Lima walaupun beberapa anaknya sudah menikah dan beralih keyakinan.
Kemudian Bantuan juga disalurkan kepada Disabilitas Hindu dan Pekerja Swasta di Lapangan pun Tak Dilupakan. Bantuan juga menyasar keluarga Bapak Eka Kurniawan, seorang disabilitas Hindu di Alak, serta Bapak Nyoman Simpen, ojek online Maxim Hindu yang berdomisili di Belo, Kolhua. Mereka adalah simbol perjuangan umat yang tetap teguh dalam Dharma meskipun berada dalam kondisi yang serba sulit.

"Solidaritas Tanpa Nama : Donatur Hindu Kupang Bergerak untuk Umat Dharmika" , Fokus pada nilai keikhlasan dan kerja kolektif untuk kepedulian Umat.
Kegiatan aksi kemanusiaan ini dengan dukungan para Donatur Tanpa Pamrih melalui bersama Hindukupang. Dana bantuan diperoleh dari berbagai donatur yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. Para dermawan ini percaya bahwa amal terbaik adalah yang dilakukan tanpa pamrih dan tanpa harus diketahui banyak orang apalagi para donatur juga tidak mau disebut namanya. Semangat berbagi ini mencerminkan nilai-nilai luhur dalam ajaran Hindu.
Penyaluran Berlangsung dari Pagi Hingga Petang pada 10 Juni 2025. Penyaluran bantuan dilakukan sepanjang hari, mulai pukul 09.00 hingga 18.30 WITA. Tak hanya distribusi sembako, kegiatan juga diisi dengan penguatan kerohanian dan "Sharing Dharma" untuk memberikan semangat hidup kepada para penerima bantuan.

Tanah Banjar Dharma Agung Kupang (BDAK) di Lasiana, dan Penjaga Ibu Yuliana bersama Anaknya Wayan Nurchana

ShaDhar : Berbagi Dharma dan Kasih,
Konsep "ShaDhar" atau "Sharing Dharma menjadi inti kegiatan Hindukupang.com di Ibukota Provinsi NTT ini. Tidak hanya berbagi materi, tetapi juga menyebarkan kebijaksanaan, semangat, dan dukungan spiritual kepada umat Hindu Dharma. Ini adalah bentuk sedekah spiritual yang memberi manfaat lebih luas dan mendalam.
Panggilan Kepedulian bagi Semua Organisasi dan Lembaga Hindu di Kupang maupun NTT.
Kegiatan ini menjadi panggilan moral bagi semua organisasi dan lembaga Hindu, baik di Kupang maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur, untuk lebih peka dan proaktif mendeteksi kondisi keumatan di masyarakat, agar tidak ada umat yang terabaikan dalam kesulitan hidup.

Sedekah Bukan Hanya Materi.
Penyaluran bantuan melalui Hindukupang.com menegaskan bahwa bantuan tidak selalu dalam bentuk uang. Sedekah bisa berupa bahan makanan, dukungan moral, tenaga, waktu, bahkan hanya dengan mendengarkan keluh kesah umat. Ini adalah bentuk-bentuk cinta kasih yang harus terus dijaga dan dibudayakan.
Permasalahan "Pawongan" Umat Hindu di Kupang dan NTT pun Masih Banyak, Realita di lapangan menunjukkan masih banyak permasalahan *Pawongan* (hubungan antar manusia) umat Hindu di Kupang dan sekitarnya. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan agar persoalan umat dapat diselesaikan sejak dini, langsung dari akar rumput, dan menjadi Tugas Bersama Para Pengurus Organisasi Umat Hindu di Kupang dan NTT.

Hindukupang.com : Penyaluran Sembako kepada Keluarga Dharmika Bapak Wayan Sutama di LiLiba (Foto Atas), Keluarga Dharmika Bapak Nyongki - oesapa, Tim BorBor Krematorium Hindu di Kupang (Foto Tengah), dan Keluarga Ibu Agung Rai (Janda Hindu) di Kelapa Lima Kota Kupang NTT (Foto Bawah), 10 Juni 2025.


Tanggung jawab besar ini tidak bisa hanya ditanggung satu pihak. Semua elemen Pengurus Organisasi umat Hindu, dari Lembaga, Pura, organisasi , pemuda, hingga lembaga keagamaan Hindu, memiliki peran penting untuk saling bahu membahu dalam membantu sesama, dalam sisi Pawongan, Sudah Cukup Parahyangan dengan upacara puluhan bahkan ratusan juta, namun sisi kepedulian Pawongan, hubungan sesama manusia masih banyak yang terabaikan, bahkan cenderung tak terdeteksi dan tak pernah mengetahui kondisi umat Hindu di level terbawah. Maka tak heran kondisi ekonomi terjepit, hingga berbagai permasalahan dan desakan depresi yang terakumulasi menjadi penyebab dari banyaknya kasus Ulah Pati "Bunuh Diri" terjadi dan harus segera diantisipasi berbagai pihak. Sebagai para pengurus Organisasi dan lembaga Hindu di Kupang dan NTT harus lebih sering turun melihat kondisi umat Hindu yang masih banyak sekali memerlukan bantuan dan siraman kerohanian agar mereka tidak kekeringan dan dahaga kehausan dalam memperoleh siraman Tattwa , dan etika susila dalam berupacara yadnya yang tulus dan ihklas (Lascarya).

Keluarga Dharmika Bapak Eka Kurniawan, Disabilitas Hindu, di Alak Kota Kupang NTT
Baca Juga : Hindu Kupang "PEKA Peduli Kasih" Salurkan Bantuan untuk Keluarga Disabilitas, Seimbangkan Yadnya dan Kemanusiaan Wujudkan Tri Hita Karana

Peliharaan usaha ternak Bebek, Keluarga Bapak Eka Kurniawan (Disabilitas Hindu), dan Juga Usaha Laundry Rumahan di Alak Kota Kupang NTT

Sarasamuccaya : Petunjuk Luhur dalam Beramal
Di Dalam kitab suci Sarasamuccaya, disebutkan bahwa sedekah dan beramal adalah jalan utama menuju kebahagiaan sejati. “Di dunia ini tiada tempat berbuat Dharma yang tak menghasilkan kebahagiaan.” Maka dari itu, berbagi adalah jalan menuju kebebasan rohani dan kebahagiaan sejati, baik bagi pemberi maupun penerima.(*OMTatSat/RyGuN)
Sumber dan Foto : Hindukupang.com / Guntara

Hindukupang.com : Keluarga Dharmika Bapak I Nyoman Simpen, di Belo Kolhua Kota Kupang NTT,
Kak Guntara, Bersama Ojek Online Bapak Made Wawan Grab Bike dan Bapak Nyoman Simpen Maxim Hindu Kupang NTT.

Baca Juga : Rangkaian Kegiatan Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Kota Kupang Tahun 2025
Baca Juga : Upacara Melasti 2025 Umat Hindu Kupang Gelar Ritual Penyucian Sambut Datangnya Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 10 June 2025
- Hits: 959

"Manawa Sewa , Madhawa Sewa , Melayani Sesama, Melayani Tuhan : Aksi Hindu Kupang PEKA (PeduLi Kasih) untuk Kemanusiaan" (25 Mei 2025)
HinduKupang.com - NTT, Ajaran luhur dalam Agama Hindu yang dikenal sebagai "Tri Hita Karana" kembali diwujudkan dalam bentuk nyata oleh umat Hindu di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tiga pilar kehidupan Ajaran Hindu Dharma yang mencakup "Parahyangan" yaitu hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan yang Maha Kuasa, "Pawongan" hubungan manusia dengan sesama dalam kemanusiaan, dan "Palemahan" hubungan manusia dengan lingkungan serta alam semesta, menjadi landasan utama dalam gerakan kepedulian kemanusiaan yang digelar pada 23-25 Mei 2025.
Kegiatan sosial yang dilakukan "Hindu Kupang PEKA (Peduli Kasih)" ini menggugah banyak pihak turut berpartisipasi dari berbagai organisasi keumatan seperti Pengurus Pengempon Pura Agung Giri Kertha Bhuwana, Warga Tempekan Alak dan Pengempon Pura Mandala Natha, Donasi Warga Tempekan Oebufu, dan Hindu Peduli Kemanusiaan, kemudian Donasi Penyelenggara Hindu Kota Kupang dan staf pegawai, serta Donasi yang terhimpun pada Whatsapp group Media Hindukupang.com. Mereka bersama-sama menyalurkan bantuan kepada salah satu keluarga umat Hindu yang sedang mengalami kesulitan di wilayah Alak, Kota Kupang.

"Seimbangkan Yadnya dan Kemanusiaan : Hindu Kupang Wujudkan Tri Hita Karana"
Menekankan perlunya keseimbangan antara ritual keagamaan dan kepedulian sosial.
Penerima bantuan adalah Keluarga Bapak I Putu Eka Kurniawan (39tahun), seorang penyandang disabilitas yang kehilangan kedua tangannya akibat amputasi. Ia tinggal bersama istrinya Ibu Hodijah atau Dina (seorang Dharmika asal Bogor), bersama tiga anaknya yang masih SD, SMP dan SMA yakni Gede Prana, Kadek Ghisyia Maharani, Komang Caitanya. Kondisi keluarga ini ditopang oleh usaha Laundry yang dijalankannya bersama istri, namun saat ini istrinya menjalani operasi kesehatan di Rumah Sakit Tentara (RST) Wira Sakti Kupang dan sudah pulang serta sedang dalam masa pemulihan di rumah.
Bentuk bantuan yang disalurkan Media "Hindu Kupang PEKA (Peduli Kasih)" ini berupa uang donasi, sembako seperti beras sebanyak tiga (3) karung (masing-masing 5kg dan 10kg), serta telur. Bantuan tersebut ditujukan untuk meringankan beban ekonomi keluarga yang kini masuk dalam daftar warga Tempekan (sektor) Alak, wilayah komunitas umat Hindu setempat. Hindu Peduli Kemanusiaan juga menyalurkan donasi uang sebesar 1.058.000, dan dari Pengempon Pura Agung Giri Kertha Bhuwana serta Ketua Tempekan Oepura Sikumana juga memberikan bantuan donasi uang, kepada keluarga penerima bantuan.

"Dari Donasi hingga Pustaka Suci : Wujud Aksi Hindu Kupang PeKa (PeduLi Kasih) untuk Umat Hindu"
Dukungan bantuan kemanusiaan, hingga spiritual (Jnana Yadnya).
Semangat pengabdian yang melandasi aksi ini tercermin dalam Filsafat Tattwa Ajaran Hindu Dharma : “Manawa Sewa, Madhawa Sewa” melayani sesama manusia berarti juga melayani Tuhan. Nilai ini menjadi fondasi bagi gerakan sosial insidentil yang muncul dari kepedulian terhadap kondisi umat yang membutuhkan uluran tangan.
Manawa Sewa , Madhawa Sewa , melayani sesama dalam kemanusiaan sama dengan melayani Tuhan, adalah hal yang patut dilaksanakan dalam segala kehidupan sosial kemasyarakatan. Hal ini tercermin dalam wujud aksi nyata, secara insidentil, karena melihat kondisi umat Hindu yang memerlukan bantuan kemanusiaan, seperti yang selama ini terlaksana adanya Donor Darah ke PMI, maupun membantu sesama dalam kehidupan sosial.
Media Hindukupang.com dalam wawancara singkat bersama penerima bantuan Bapak I Putu Eka Kurniawan sekeluarga, menyampaikan limpah terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan kepada Umat Hindu yang sangat memerlukan bantuan dalam bentuk sembako, serta uang donasi (dana punia) dari semua pihak yang secara ikhlas turut membantu kemanusiaan.
Selain kegiatan distribusi bantuan, tim HinduKupang.com yang turut hadir dalam kegiatan tersebut juga melakukan Sharing Dharma (ShaDhar) Hindu Kupang dengan keluarga penerima bantuan. Bapak I Putu Eka Kurniawan dan keluarga menyampaikan rasa terima kasih atas segala bantuan yang diberikan, serta berharap semangat solidaritas ini terus berlanjut dalam membantu umat Hindu lainnya yang membutuhkan.
"To Govern is To Serve" , Memimpin adalah Melayani, serta lebih Peka terhadap berbagai kondisi permasalahan keumatan umat Hindu di kota Kupang maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan berbagai Dinamika Sosial yang ada bahkan jarang terungkap ke permukaan.
Momen ini juga menjadi refleksi bagi umat Hindu di Kupang maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menyeimbangkan aspek "Parahyangan dan Pawongan". Sering kali, banyak Pihak berfokus pada pelaksanaan upacara Yadnya dengan biaya besar bisa puluhan juta bahkan ratusan juta, namun lupa akan kebutuhan dasar dan kemanusiaan sisi "Pawongan" hubungan sesama manusia dalam kemanusiaan di sekitar mereka. Kepedulian terhadap sesama adalah bagian esensial terpenting dari pelaksanaan Ajaran Hindu Dharma.
Sudah saatnya sisi Parahyangan dengan berbagai upacara yadnya puluhan bahkan ratusan juta, diseimbangkan dengan Pawongan menolong sesama yang memerlukan bantuan ekonomi, sebagai wujud membantu sesama dari sisi kemanusiaan.
Begitupun sisi Palemahan, menjaga ekosistem kebersihan lingkungan sekitar dan alam semesta agar harmoni dan seimbang.
Demikian pula, aspek "Palemahan" atau pelestarian ekosistem lingkungan tidak boleh diabaikan. Tri Hita Karana menekankan keseimbangan antara Tuhan, sesama Manusia, dan harmoni lingkungan alam semesta. Dalam praktik nyata, hal nyata ini bisa diterapkan lewat kegiatan menjaga kebersihan lingkungan, penghijauan, dan aksi ramah lingkungan lainnya.
Prinsip Guru Wisesa Kota Kupang “To Govern is To Serve” atau “Memimpin adalah Melayani” ditekankan dalam gerakan ini. Tokoh-tokoh umat Hindu, pemimpin organisasi keumatan Hindu di Kupang maupun NTT, dan pengurus lembaga keagamaan Hindu diharapkan lebih peka terhadap persoalan sosial di tengah umat, terutama yang hidup dalam kondisi sulit, namun kerap luput dari perhatian publik.
Pemimpin umat Hindu di Kupang dan NTT dihimbau untuk tidak hanya menunggu laporan, tetapi aktif turun langsung ke lapangan, mendeteksi kondisi umat yang membutuhkan, dan segera bertindak nyata. Ketepatan dan kecepatan respons menjadi kunci dalam membantu umat yang berada dalam kondisi darurat sosial ekonomi.

Setelah kegiatan penyaluran bantuan, Media HinduKupang.com , melalui admin Sdr.Guntara juga melaksanakan "Jnana Yadnya" berupa pemberian "Pustaka Suci Hindu Sarasamuccaya" (terbitan Dirjen Bimas Hindu Pusat) kepada keluarga Hindu Bapak I Putu Eka Kurniawan. Pustaka Suci Sarasamuccaya itu diterima oleh anak beliau yang masih SMP, Sdri.Ghisyia, yang menyambutnya dengan antusias, dengan tatapan matanya yang lembut dan senyum ceria, sebagai simbol semangat belajar ajaran Hindu Dharma (Masa Brahmacari) dan harapan baru dari kedua orangtuanya.
Pustaka Suci Hindu Sarasamuccaya juga diberikan kepada Pinandita (Mangku) Bapak I Ketut Nerdon, seorang pemangku agama Hindu di Kupang. Beliau menyatakan bahwa pemberian Pustaka Suci Veda "Sarasamuccaya" tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan spiritual umat, dan menjadi bagian dari pelaksanaan "Yadnya dalam bentuk ilmu pengetahuan keagamaan".
Kegiatan Hindu Kupang PEKA (Peduli Kasih) ini membuktikan bahwa berbagi tidak hanya sekadar memberikan materi, tetapi juga membawa harapan, pengetahuan, dan kasih. Seperti petunjuk Pesan Semesta (Nature Code) dalam berbagai momentum : “Berbagi kebaikan selalu membawa keberuntungan. God Bless Us (GBU), Uis Neno Nokan Kit, Tuhan Memberkati Kita Semua. Rahayu, OM Tat Sat.”(Hindukupang.com)
Sumber Narasi : Hindukupang.com / Kak Guntara
Foto : Bapak I Nengah Pustaka, Ibu Ni Nyoman Yuliani, RyGuN
Baca Juga : Rangkaian Kegiatan Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Kota Kupang Tahun 2025
Baca Juga : Upacara Melasti 2025 Umat Hindu Kupang Gelar Ritual Penyucian Sambut Datangnya Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947
- Details
- Written by Admin
- Category: Kegiatan
- Published: 25 May 2025
- Hits: 754

















.jpg)









