06

Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Nusa Tenggara Timur (PD KMHDI NTT), sehari setelah kegiatan Gerakan Menanam Sejuta Pohon, PD KMHDI NTT lanjutkan pengabdian kepada saudara – saudari Kristiani di Aula Panti Asuhan Kristen GMIT 221 sekaligus mempererat ikatan tali persaudaraan umat beragama, acara ini berlangsung pada Minggu, 20 Maret 2022.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program Nawa Cita yang digadang oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo dan K.H. Ma’ruf Amin “Membangun Indonesia dari Pinggiran”, membantu menciptakan sejarah baru KMHDI dengan melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajub KMHDI Mengajar secara serentak/dilaksanakan oleh PD dan PC KMHDI se Indonesia, dan mewujudkan program pengabdian masyarakat yang utama selaras dengan nada Mars KMHDI.

07

KMHDI sendiri memiliki peran yang sangat strategis hadir ke pinggiran Indonesia untuk melakukan pengabdian masyarakat terutama dalam hal pendidikan. Mengingat secara umum akses pendidikan di pinggiran Indonesia masih cukup terbatas selain itu tenaga pengajar juga belum memenuhi secara kebutuhan minimal.

Mengambil tema “Merdeka Belajar, Bergerak Serentak untuk Negeri” kegiatan ini disambut dengan penuh antusias oleh Ibu Alberthina Pattipeilohy selaku Kepala Panti Asuhan Kristen GMIT 221. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa hanya kebenaran yang berjaya, tanpa kebenaran dalam kegiatan ini akan sia-sia, beliau menempatkan kita atau generasi muda pada garda terdepan dan sebagai roda penggerak perjuangan pendidikan di negeri ini.

08 09

“Pintar itu baik, tetapi jika kepintaran itu didiamkan maka tidak ada manfaatnya. Pintar dan mampu membangun relasi adalah nilai – nilai yang sangat positif. Kita juga perlu menyelaraskan bahasa kita kepada lawan bicara agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik” tuturnya.

Ketua Biro Sosial Masyarakat PD KMHDI NTT I Gede Agus Parama Natha, kegiatan ini turut hadir elemen pemerintahan seperti Camat Kelapa Lima Bapak I Wayan Astawa, Lurah Fatubesi Bapak Anak Agung Gede Sayang Mega Putra, dan ada juga Forum Alumni KMHDI NTT.

“Sejatinya kota kupang adalah Indonesia mini, semua agama, kepercayaan, budaya dan suku bangsa hadir di kota kupang ini. Agama itu berbeda tetapi sejatinya kemanusiaan dan kebenaran itu adalah satu ada disetiap agama” tutur pak lurah sekaligus membuka kegiatan ini dengan resmi. (pd.kmhdintt/agus natha).

10