Sabha Walaka PHDI Pusat44


Pada tanggal 11 September 2020 sampai 17 September 2020, di Provinsi Nusa Tenggara Timur mendapatkan Kunjungan Ketua Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Bapak Kolonel Inf (Purn) I Nengah Dana, S.Ag bersama Bapak Eko Priyanto (Ketua Paguyuban Majapahit) sekaligus Sekretaris Bidang Keagamaan dan Spiritualitas PHDI (Struktur PHDI Pusat Klik Disini) . Kedua tokoh Hindu Nasional ini berkesempatan hadir dalam rangka pembinaan umat, serta melihat perkembangan tradisi leluhur di wilayah NTT, seperti di Merapu Kabupaten Sumba NTT (11 September 2020) didampingi ketua PHDI Kabupaten Sumba NTT bertemu Rato Lado Legi Tera, Kemudian Dharma Tula bersama Umat Hindu dikota Kupang (13 September 2020) berkaitan makna Upacara Entas-Entas atau Atiwa-tiwa (Ngaben) dalam Pitra Yadnya di Wantilan Pura Agung Giri Kertha Bhuwana & Wantilan Pura Oebananta.

Sabha Walaka PHDI Pusat3

Hari berikutnya berkunjung juga ke Boti Kabupaten Timor Tengah Selatan (14 September 2020) didampingi PHDI kota Kupang beserta tim kemudian malam harinya Dharma Tula di Pura Giri Suci Soe bersama umat, serta pada tanggal 16 September 2020 kedua Tokoh Hindu Nasional ini membawakan Dharma Wacana di hari raya Galungan, Piodalan Pura Oebananta Kupang NTT.

Dalam Perjalanan beberapa hari di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, banyak sharing / berbagi pengalaman berkaitan dengan Tattwa Hindu yang diberikan kedua tokoh Hindu Nasional PHDI Pusat ini kepada umat Hindu Kupang NTT, guna memperkuat Sradha (keyakinan) mengenai Sanatana Dharma, makna hari Galungan, serta pentingnya warisan leluhur di Nusantara yang harus selalu dijaga dengan berbagai tradisi kearifan lokal (local genius) yang ada sesuai Desa (tempat), Kala (waktu), Patra (keadaan).

Sabha Walaka PHDI Pusat18

Kunjungan ke Marapu Sumba NTT, 11 September 2020, memberikan kesan tersendiri dimana Rato Lado Legi Tera bersama Bapak I Nengah Dana (Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat) saling menjalin kekeluargaan dengan makan sirih pinang kapur bersama di rumah adat. Bapak Eko Priyanto yang berasal dari kejawen juga ikut serta mendengarkan penjelasan Rato mengenai bagaimana tradisi Marapu dalam penghormatan terhadap leluhur dan menjaga alam semesta serta berbagai persembahan suci dalam setiap tradisi upacaranya.

Sabha Walaka PHDI Pusat7Sabha Walaka PHDI Pusat1

12 September 2020 berangkat dari Pulau Sumba kedua tokoh Hindu Nasional ini pun tiba di Kota Kupang NTT (Pulau Timor), dan dilanjutkan sharing , konseling kepada keluarga-keluarga umat Hindu, dan juga disambut oleh Sekretaris Sabha Walaka PHDI yaitu Bapak I Nyoman Ariawan Atmaja , serta ketua PHDI Kota Kupang Bapak I Wayan Wira Susana, beserta tim panitia.

Sabha Walaka PHDI Pusat42

Sabha Walaka PHDI Pusat50

13 September 2020, Minggu Pagi dengan rincian Acara diantaranya Dharma Tula di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana diawali dengan Matur Piuning, sembahyang bersama Pemangku I made Suparta (Ketua Pinandita Sanggraha Nusantara NTT), dan dilanjutkan Sharing berbagi informasi makna Upacara Entas-Entas di wantilan Pura dan dihadiri oleh tempekan umat Hindu Pengemong Pura Agung Giri kertha Bhuwana, Kolhua Kota Kupang, NTT. Tanya Jawab berkaitan dengan makna entas-entas diulas secara lengkap bersama Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, serta dasar sastra Veda yang tertuang dalam berbagai Tattwa Hindu di Upanisad maupun Lontar yang berkaitan dengan Tirtha Pengentas dalam setiap Upacara Pitra Yadnya. Bapak Eko Priyanto yang berasal dari Kejawen pun memberikan kesaksiannya dalam melakukan penelitian S1 Agama Hindu maupun S2 Magister Agama Hindu yang Skripsi dan Thesis beliau berkaitan dengan Upacara Entas-Entas serta berbagai makna tujuan dilaksanakannya upacara tersebut.
Umat Hindu Kupang NTT pun sangat antusias dan bertanya Kepada Bapak I Nengah Dana,S.Ag (Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat) mengenai berbagai hal, dan mendapatkan jawaban yang berkaitan dengan arti dan makna Upacara Entas-Entas yang biasanya dilaksanakan oleh umat Hindu daerah Tengger Pulau Jawa ini atau Atiwa-tiwa (Upacara Ngaben) dengan syarat Tirtha Pengentas bila di Bali.

Sabha Walaka PHDI Pusat45
Seperti pertanyaan umat, dimanakah akan dilaksanakan Upacara Entas - Entas ini ? Beliau menjawab bukan di dalam Pura melainkan di sisi luar ataupun lapangan, jadi bukan di dalam areal suci Pura, serta berbagai pertanyaan lainnya berkaitan dengan rangkaian Upacara Entas-Entas serta manfaatnya bagi pemurnian alam semesta, bahkan diulas upacara untuk roh khususnya yang ulah pati (bunuh diri), salah pati (kecelakaan kendaraan), keruron/keguguran dll.

Seusai acara di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana, Kolhua, bersama para Narasumber, maka Siang Hari dilanjutkan Dharma Tula di Wantilan Pura Oebananta, Kelurahan Fatubesi Kota Kupang, NTT, yang dihadiri juga oleh Pengurus Pura (Pengempon) dan tempekan umat Hindu pengemong Pura Oebananta.
Acara sesi tanya jawab juga sangat menarik, sampai Pinandita Pekak I Wayan Kintjed (seorang Veteran Pejuang TNI AD asal NTT) pun bertanya mengenai makna kematian menurut Hindu, yang sangat jarang ada yang berani menanyakan demikian.
Acara diakhiri dengan santap siang bersama kedua narasumber di wantilan, hingga sore hari masih berlanjut tanya jawab mengenai Makna Upacara Entas-Entas serta manfaatnya bagi penyucian alam semesta.

Sabha Walaka PHDI Pusat5
14 September 2020, bersama Ketua PHDI Kota Kupang beserta tim panitia hari senin pagi kegiatan berlanjut menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan bersama kedua narasumber yaitu Ketua Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Bapak Kolonel Inf (Purn) I Nengah Dana, S.Ag bersama Bapak Eko Priyanto (Ketua Paguyuban Majapahit) sekaligus Sekretaris Bidang Keagamaan dan Spiritualitas PHDI Pusat.
Tiba di kota Soe, kedua narasumber sudah disambut oleh sekretaris pengurus PHDI Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yaitu Bapak Putu Danayasa berserta Pinandita Bapak Dewa di Pura Giri Suci Soe , narasumber pun ikut berkunjung ke dalam Gua di sisi timur Pura, kemudian menuju Utama Mandala Pura untuk melakukan Matur Piuning , sembahyang bersama serta nunas tirtha dan bija, nampak fenomena unik yakni beberapa Kupu-Kupu berterbangan mengelilingi Utama mandala Pura Giri Suci Soe TTS dalam cuaca yang cukup sejuk di siang hari.

 

Sabha Walaka PHDI Pusat6

Sabha Walaka PHDI Pusat11
Seusai Sembahyang di Pura Kota Soe, dilanjutkan makan siang bersama di Kota Soe dan tim panitia mencari paket sembako dan sirih, pinang, kapur, tembakau (okomama), untuk dibawa ke Desa Adat Boti Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Dengan menempuh perjalanan hampir kurang lebih 1 jam 30 menit dari kota Soe menuju Desa Adat Boti, dengan jalanan yang cukup extreme dan terjal, maka tiba juga ke Desa Adat yang sangat asri dan tertata rapih.
Setibanya di pintu Desa Boti, kami pun disambut oleh Cucu dari Putra Pertama Nune Benu (Nune Benu adalah Tokoh Adat Suku Boti), serah terima sirih, pinang, kapur, dan kami dipersilahkan masuk menuju teras depan rumah adat Suku Boti.
Kami semua lalu duduk dan mendengarkan penjelasan dari Penerus Suku Boti, yang sangat dihormati, dan berbahasa Dawan (bahasa adat), sehingga Cucu beliau yang menterjemahkan Dari Bahasa Dawan ke Bahasa Indonesia mengenai berbagai aktifitas dan tata cara tradisi Boti dalam bidang pertanian serta berbagai ritual pemujaan kepada leluhur dan menjaga alam semesta.

Sabha Walaka PHDI Pusat13

Nampak berbagai simbol di rumah adat diantaranya pada dindingnya terdapat gambar simbol Sapi yang diikat pada pohon (disisi kiri) serta dinding sisi kanan berupa simbol Babi, yang sangat erat maknanya dalam kehidupan pertanian dan ternak.
Bapak I Nengah Dana dan Bapak Eko Priyanto sangat kagum akan sifat kejujuran Suku Adat Boti, dimana diceritakan oleh Tokoh Adat Boti ketika ada yang mencuri di dalam desa mereka, maka sang Pencuri itu akan diberikan berkali lipat yang dicuri, misalnya mencuri pepaya, maka semua jumlah 72KK dalam desa Boti akan berikan 72 buah pepaya kepada si pencuri, karena dianggap dia berkekurangan sehingga mencuri, dan menjadi tobat untuk tidak lagi melakukan.

Sabha Walaka PHDI Pusat2
Masyarakat Adat Suku Boti di kabupaten Timor Tengah Selatan, yang terletak di Pulau Timor Provinsi Nusa Tenggara Timur ini sangat memelihara dan mempertahankan tradisi nenek moyang berupa nilai dan norma adat Suku Bangsa Dawan atau Atoni Meto. Tradisi yang masih dipegang teguh yakni Sistem Penanggalan atau kalender harian masyarakat Boti , yang dalam sepekan terdiri dari 9 (Sembilan) hari, dimana hari-hari tersebut mempunyai makna tersendiri. Inilah pengetahuan tradisional yang juga merupakan kearifan lokal masyarakat suku Boti, yang dikenal dengan 9 hari diantaranya :

1. Neon Ai (Hari Api)
hari yang dimaknai sebagai hari yang baik, terang dan cerah. Namun perlu berhati-hati dengan penggunaan api, sebab jika tidak dapat mendatangkan malapetaka berupa kebakaran.

2. Neon Oe (Hari Air)
Aktivitas yang lebih berorientasi pada air, yang berarti harus menggunakan air secara bertanggung jawab dan pada hari ini peran Dewa Air (Uis Oe) sangat besar sehingga perlu juga diwaspadai.

3. Neon Besi (Hari Besi)
Hari yang dikeramatkan bagi barang-barang yang mengandung logam besi. Jadi harus berhati-hati dalam menggunakan benda-benda tajam seperti pisau, parang, tombak dan pedang.

Sabha Walaka PHDI Pusat17

4. Neon Uis Pah ma Uis Neno (Hari Dewa Bumi dan Dewa Langit)
adalah hari yang diperuntukan bagi semua mahluk hidup untuk memuliakan Pencipta dan Pemelihara hidup serta pemangku pemberi kesuburan , yakni : Amoet Apakaet, Afafat ma Amnaifat, Manikin ma Oe'tene he Namlia ma Nasbeb.

5. Neon Suli (Hari Perselisihan)
adalah hari yang dimanfaatkan untuk menyelesaikan setiap perselisihan yang terjadi dalam komunitas. Berhati-hati pula dalam berinteraksi sosial dengan sesama karena peluang besar untuk terjadi perselisihan.

6. Neon Masikat (Hari Perebutan)
Hari ini merupakan kesempatan bagi warga untuk memanfaatkannya secara efisien dan efektif dalam berkomunikasi dan beraktifitas baik dengan sesama maupun lingkungan alam. Hari ini juga merupakan kesempatan untuk meraih sukses dalam kehidupan.

7. Neno Naek (Hari Besar)
adalah hari yang penuh nuansa kasih persaudaraan sehingga perlu dijauhi kecenderungan terjadinya sengketa baik dalam keluarga maupun dengan sesama tetangga atau dalam komunitas yang lebih luas lagi.

8. Neon Li'ana (Hari Anak-anak)
Hari yang disediakan bagi anak-anak untuk dapat mengekspresikan kebahagiaan lewat bermain dan aktifitas lainnya yang bernuansa gembira. Orang tua tidak boleh membatasi atau melarang anak-anak dalam beraktifitas.

9. Neon Tokos (Hari Istirahat)
Hari yang tenang dan teduh , sebab di balik keheningan orang suku Boti dapat merefleksikan hidupya sejauh mana hubungan dengan sesama, alam dan teristimewa sang pencipta dan pemelihara hidup. Hari ini juga dijadikan moment untuk mensyukuri setiap berkat yang diperoleh selama sepekan.

Sabha Walaka PHDI Pusat12

Masyarakat Animisme Suku Boti ini, sesungguhnya menganut kepercayaan yang pada hakekatnya juga mengenal bahkan meyakini bahwa hidup ini diatur oleh 3 kekuatan , yaitu :
Uis Pah (Penguasa Bumi), Uis Neno (Penguasa Langit), dan Nitu (Roh arwah leluhur).
Masyarakat Suku Boti juga sangat teguh dan konsisten mempertahankan aliran kepercayaan yang diwariskan oleh leluhurnya. Kepercayaan mereka diwujudnyatakan lewat berbagai Upacara Adat yang masih tumbuh, terjaga dan terpelihara secara kuat di wilayah Desa Boti, diantaranya Upacara Adat Syukuran Panen (Poit Pah). Upacara Syukuran panen Poit Pah ini dilaksanakan oleh masyarakat adat Boti dibawah pimpinan Kepala Sukunya, dengan masyarakat Boti berkumpul di sekitar rumah pimpinan Spiritual "Nune Benu (alm)" guna mendapatkan wejangan dan petunjuk. Termasuk membahas segala sesuatu yang diperlukan dalam upacara nanti, berupa hasil-hasil bumi seperti jagung dengan batang-batangnya, padi, pisang, tebu, kelapa, kemudian hewan seperti sapi, kerbau, babi, kambing, dan lainnya. Setelah barang-barang bawaan siap , kelompok masyarakat Boti khususnya pria mulai bergerak menuju ke tempat persembahyangan yang disebut "Nasi Fain Metan".

Sabha Walaka PHDI Pusat4

Setelah mendengar penjelasan dari penerus Suku Boti mengenai ritual tradisinya, kami pun dipersilahkan masuk kedalam rumah adat dengan disuguhkan minuman Teh hangat, dan makanan keripik pisang hangat yang dimasak dengan minyak kelapa asli, menambah gurih nikmat di sore hari (14 september 2020) jam 16:30WITA saat itu sambil menatap berbagai foto-foto pada dinding terlihat berbagai tamu-tamu yang pernah datang berkunjung ke Rumah Adat Suku Boti, termasuk Bupati Timor Tengah Selatan, hingga Wakapolda NTT, serta para tokoh-tokoh lainnya, para jurnalis , media televisi nasional, dan masih banyak lagi.

Sabha Walaka PHDI Pusat14

Tak terasa hampir 2 jam lebih berada dirumah adat suku Boti dan mendengarkan ritual Tradisi Leluhur Suku Boti dari para tokoh penerusnya, Bapak I Nengah Dana dan Bapak Eko Priyanto pun menerima Selendang Kain sebagai ucapan Terima Kasih dan kekeluargaan dari Tokoh Suku Boti, dan kami pun memberikan sembako, berupa beras, minyak goreng , gula dan telur. Sebelum pulang kami pun menyempatkan untuk mengucapkan syukur bersama kepada Penguasa Alam Semesta, agar selalu dilindungi dalam berbagai aktifitas Swadharma masing-masing.

Suku Boti sangat menjunjung tinggi norma kejujuran dan keramah-tamahan sangat terasa akrab, dan sebelum pulang kami menyempatkan melihat koperasi milik masyarakat Suku Boti dengan membeli pernak pernik kalung cendana, bahkan gelang tangan, yang memiliki corak warna CATUR DATU yaitu : warna putih (iswara-timur), warna merah (Brahma-selatan), Warna kuning (Mahadev-Barat), Warna Hitam (Vishnu-Utara) , bila di Hindu Bali saat ke tempat suci (Pura) ketika Sembahyang Tirtha Yatra (air suci) biasanya dari Pura akan mendapatkan gelang Tri Datu warna Merah, yaitu lambang Dewa Brahma, warna Putih yaitu lambang Dewa Iswara, dan warna Hitam yaitu lambang Dewa Vishnu.

Sabha Walaka PHDI Pusat29

Acara selanjutnya dari Desa Boti, kami kembali menuju Pura Giri Suci di kota Soe TTS, guna melakukan Dharma Tula dan Pembinaan , serta sosialisasi Entas-Entas dan Makna Ngaben dari Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, di aula serbaguna pada jam 19:00WITA-22:30WITA (14 september 2020), yang dihadiri oleh Ketua Banjar di Soe, umat hindu di soe, dan sekretaris PHDI Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sabha Walaka PHDI Pusat15

15 September 2020, Narasumber yang semalam menginap di Kota Soe, melanjutkan perjalanan balik menuju Kota Kupang guna melakukan pembekalan kepada para Pendharma Wacana di Aula Jayaphita Guesthouse jam 13:00wita, dan dihadiri juga oleh Bapak Profesor I Gusti Bagus Arjana, dan para peserta pendharma wacana yang lainnya, serta dilakukan sesi tanya jawab berkaitan dengan berbagai topik keumatan hindu di Kupang dan hindu di NTT, serta malam hari di rumah Jabatan Bank Indonesia bersama Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat dilakukan konseling Bagi Keluarga-Keluarga Hindu yang mengalami masalah rumah tangga, penguatan Sradha keyakinan Hindu, dan tanya jawab diskusi bersama Bapak I Nengah Dana.

Sabha Walaka PHDI Pusat30

Sabha Walaka PHDI Pusat31

16 September 2020, pagi Hari Suci Galungan, di hari Rabu (buda), Kliwon wuku Dungulan, jam 08:30WITA umat Hindu sembahyang dengan mengikuti protokol kesehatan di berbagai 7 pura yang ada di Kota Kupang, dan Bapak I Nengah Dana, membawakan Dharma Wacana mengenai makna Kemenangan Dharma melawan Adharma di Pura Agung Giri Kertha Bhuwana, Kolhua. Sedangkan Bapak Eko Priyanto, membawakan Dharma Wacana di Puncak Piodalan Pura Oebananta , Fatubesi pada jam 11:30 WITA, dengan topik : Menjaga Warisan Budaya leluhur Hindu di Nusantara dalam filsafat Sanatana Dharma di hari Suci Galungan, sambil Beliau melantunkan pemujaan kidung Kejawen yang sangat indah.

Sabha Walaka PHDI Pusat10
Pada siang hari, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Bapak Kolonel Inf (Purn) I Nengah Dana,S.Ag bersama tim panitia juga berkunjung ke Griya Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba , di kapadala Airnona, kecamatan Kotaraja, kota Kupang, dan Pandita sangat tertarik mendengarkan informasi berkaitan dengan Upacara Entas-Entas dan makna Penyucian Alam Semesta khususnya di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sabha Walaka PHDI Pusat53
Sore hari, jam 17:30 WITA-19:30WITA, acara Dharma Wacana oleh Bapak I Nengah Dana,S.Ag mengenai topik makna Penyadaran Sang Diri, dan Penyatuan dalam semangat Sinar Suci yang Sama untuk mencapai "Moksartham Jagadhita Ya Ca iti Dharma" dilanjutkan dengan sembahyang Hari Suci Galungan sekaligus Nyineb Piodalan Pura Oebananta yang dipimpin oleh Jero Gede Dwija I Dewa Ketut Alit Suasthama.

Sabha Walaka PHDI Pusat33

Sabha Walaka PHDI Pusat34


Sedangkan jam 20:30WITA di Ruang serbaguna Pura Oebananta, Bapak Eko Priyanto,S.Ag , mengisi acara bersama generasi Hindu yaitu PD.KMHDI NTT, para mahasiswa-mahasiswi hindu di kupang NTT, alumni KMHDI, dan bagaimana menjaga warisan leluhur Hindu di Nusantara, sesuai pengalaman beliau yang keliling ke karo di medan, dayak meratus kalimantan, Kejawen Jawa, dan berbagai tempat lainnya. Bahkan sampai topik generasi Hindu jaman Now pun diulas mendalam, seperti kata Beliau yaitu : "Jangan Sampai karena Do'i merubah cara Do'a " membuat semua yang hadir berpikir,
selain itu juga dibahas cara dan kiat guna melindungi generasi Hindu dan tips mengenali Sadulur papat kalimo pancer, dan saudara empat (Kandapat) diulas oleh Bapak Eko Priyanto hingga pentingnya makna Upawasa (Puasa) sesuai pancawara dan Saptawara.

Sabha Walaka PHDI Pusat35

Sabha Walaka PHDI Pusat36

17 September 2020, bersama Pembimas Hindu NTT Ibu Ni Wayan Sunarsih dan Ketua PHDI kota Kupang Bapak I Wayan Wira Susana, sharing bersama narasumber kedua tokoh Hindu nasional ini pun balik pagi hari jam 10:45 WITA dari Kota Kupang menuju Jakarta dan kalimantan untuk acara berikutnya yaitu pembinaan umat Hindu di daerah yang sudah terjadwal.

Semoga bermanfaat Karena Berbagi kebaikan Takkan Pernah Merugi dan Selalu Beruntung. (Guntara)
Satyam Eva Jayate Nanrtam : Hanya Kebenaranlah yang akan menang bukan ketidakbenaran (Mundaka Upanisad III.1.6).