Prodigit1 qr-code-url Prodigit2

6161228859718700940

Upacara Hindu Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha Kupang : Wujud Bhakti dan Pelaksanaan Yadnya Umat Hindu Kupang NTT

HinduKupang.com, NTT – Umat Hindu Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur telah mempersiapkan pelaksanaan Piodalan Agung Tahun ke-10 (Nugtug Karya) Pura Oebanantha yang akan mencapai puncaknya pada Rahina Hari Suci Galungan, Buda Kliwon Dungulan, Rabu 17 Juni 2026 mendatang. Pura Oebananta yang termasuk Padma Bhuwana Nusantara wilayah Tenggara Indonesia ini berdiri sejak 1950an di areal Oeba-Fatubesi, sejarah mencatat di tahun 1979 pernah dilakukan Upacara Ngenteng Linggih, dan pada september tahun 2016 juga telah dilaksanakan Upacara Mendem Pedagingan dan Ngenteg Linggih Pura Oebananta, dan saat ini tepat 10 tahun (2016-2026) menjelang Puncak Hari Suci Galungan sekaligus dilaksanakan Perayaan Hari Piodalan Agung Pura Oebananta. Rangkaian kegiatan yang telah disusun Panitia Pelaksana PHDI Kota Kupang bersama PSN Korwil NTT dan pengempon pura Oebananta ini berlangsung hampir tiga bulan, dimulai sejak April hingga penutupan upacara pada Umanis Galungan 18 Juni 2026. Seluruh tahapan tersebut merupakan pelaksanaan Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Bhuta Yadnya yang sarat makna spiritual, pengabdian, dan kebersamaan umat dalam memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya.

Pada 30 April 2026, umat Hindu Kupang memulai persiapan alat dan bahan upacara berupa usuk, bambu, triplek, pelepah kelapa, slepan, lontar, serta berbagai kebutuhan untuk pembuatan banten dan caru. Tahapan ini menjadi fondasi awal pelaksanaan yadnya karena seluruh sarana upacara dipersiapkan dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk persembahan yang tulus dan suci kepada Tuhan. Dalam ajaran Hindu, kesucian yadnya tidak hanya terletak pada pelaksanaan ritual, tetapi juga pada niat dan proses persiapannya.

Memasuki 29–30 April 2026, umat melaksanakan kegiatan mereresik atau pembersihan pelinggih, alat-alat upacara, serta lingkungan pura. Pada kesempatan yang sama dilakukan persiapan lubang untuk pelaksanaan caru enam tempekan. Kegiatan ini melambangkan proses penyucian alam sekala dan niskala agar seluruh rangkaian karya dapat berlangsung dengan harmonis. Selanjutnya pada 1 Mei 2026, dilaksanakan prosesi Dewasa Nanceb dan Mecaru 6 Tempekan, yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan alam dan menetralisir energi negatif sebelum memasuki tahapan karya yang lebih besar.

Sejak 2 hingga 12 Mei 2026, umat Hindu bergotong royong melaksanakan ngayah membangun berbagai wewangunan upacara seperti Penegteg, Sanggah Surya, Sanggah Agung, Tetaring Pewedan, Tetaring Gedong, Sunari, hingga berbagai pawedan dan sanggah pendukung lainnya. Seluruh sarana tersebut harus selesai paling lambat 12 Mei 2026 sebagai bagian dari kesiapan fisik dan spiritual menjelang piodalan. Semangat ngayah yang ditunjukkan umat mencerminkan ajaran Hindu tentang pengabdian tanpa pamrih sebagai bentuk bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

IMG 20260615 145125

Pada periode 13 Mei hingga 10 Juni 2026, kegiatan dilanjutkan dengan proses ngulapin sarwa wewangunan atau penyempurnaan seluruh bangunan upacara. Pada saat yang sama, kaum ibu membuat berbagai jenis banten seperti Sanganan Suci, Sanganan Pule Gembal, Sanganan Bebangkit, dan Sanganan Catur, sedangkan kaum bapak mempersiapkan rak banten, katikan sate caru, serta perlengkapan lainnya. Pembagian tugas tersebut menggambarkan keseimbangan peran umat dalam mewujudkan yadnya yang sempurna.

Tahapan penting berikutnya berlangsung pada 1 Juni 2026, ketika para Serati Banten dari Bali tiba di Kupang untuk membantu persiapan upacara. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan kesakralan sarana upakara yang akan digunakan selama piodalan. Kemudian pada 6 Juni 2026, umat melaksanakan ngayah membuat bahan Upakara dan Upacara Caru (Eteh-Eteh Caru) sebagai bagian dari persiapan Bhuta Yadnya.

Pada 7 Juni 2026, panitia bersama perwakilan umat melaksanakan prosesi Nunas Toya Pekuluh di Pura Giri Suci Soe Kabupaten Timor Tengah Selatan serta Nunas Toya Anyar di Baumata Kabupaten Kupang. Tirta yang diperoleh dari prosesi ini memiliki makna sebagai simbol kehidupan dan penyucian. Dalam ajaran Hindu, air suci diyakini sebagai media anugerah Tuhan yang membersihkan lahir dan batin umat sebelum memasuki puncak karya.

Memasuki 8–9 Juni 2026, umat Hindu Kupang kembali bergotong royong membuat lima buah penjor dan berbagai kebutuhan bumbu upacara. Selanjutnya pada 10 Juni 2026, Ratu Pedanda / Sulinggih Pandita Bodha dari Bali tiba di Kupang. Pada hari yang sama dilaksanakan pemasangan wastra, pemasangan penjor, serta pembuatan ulam caru sebagai bagian dari persiapan akhir menjelang dimulainya tahapan inti karya.

6161228859718700938

6161228859718700939

Rangkaian upacara memasuki fase yang lebih sakral pada 11 Juni 2026 melalui prosesi Nuasen Karya dan Ngingsah Beras, yang menandai dimulainya pelaksanaan karya secara spiritual. Pada hari yang sama umat mulai melaksanakan Mekemit, yaitu bermalam di pura sambil berdoa, bermeditasi, dan menjalankan pelayanan spiritual. Mekemit berlangsung hingga 17 Juni 2026, memberikan kesempatan kepada umat untuk memperdalam bhakti dan kedekatan rohani dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pada 12 Juni 2026, panitia melakukan pengecekan terakhir terhadap seluruh sarana upacara dan memastikan seluruh wewalungan telah siap digunakan. Kemudian pada 13 Juni 2026, umat melaksanakan pemasangan wastra pada wewalungan, kegiatan mepepada hewan dan binatang (Wewalungan), dan pembuatan ulam caru. Seluruh tahapan ini bertujuan menyempurnakan persiapan menjelang pelaksanaan ritual utama.

61612288597187009366161228859718700937

Momentum penting berikutnya berlangsung pada 14 Juni 2026, bertepatan dengan Tilem Sadha, ketika dilaksanakan prosesi Mecaru Rsi Gana, yang dipimpin oleh Sulinggih / Pandita Bodha yaitu Ida Pedanda Istri Ratna Kania dari Nongan Karangasem Bali, dan Pandita Siwa dari Kupang NTT yaitu Ida Rsi Agung Nanda Wijaya Kusuma Manuaba. Upacara ini merupakan bagian dari Bhuta Yadnya yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan-kekuatan alam semesta. Melalui Mecaru, upacara Bhuta Yadnya kemudian dilanjutkan Upacara Dewa Yadnya yang dipimpin oleh Sulinggih Bodha dan Sulinggih Siwa, guna memohon keharmonisan Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit, serta keselamatan, ketentraman jagat bagi seluruh masyarakat dan lingkungan sekitar.

Pada 15 Juni 2026, dilaksanakan kegiatan pemotongan babi untuk keperluan upakara serta Santi Puja pada malam harinya. Selanjutnya pada 16 Juni 2026, umat melaksanakan Melasti, yaitu ritual penyucian diri dan seluruh sarana upacara dengan memohon pembersihan segala kekotoran lahir dan batin. Pada hari yang sama juga dilakukan pembuatan Bebangkit dan "Gayah" sebagai bagian dari persiapan puncak karya. Melasti menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesucian sebelum menghadap Tuhan dalam persembahyangan utama.

6161228859718700943

Puncak Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, bertepatan dengan Hari Raya Galungan, yang bermakna Kemenangan Dharma (Kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran), dimana siklus 210 hari Pawukon yang tepat istimewanya di tahun 2026 ini setahun sekali Galungan yaitu pada Rabu (Buda) Kliwon Wuku Dungulan.

6161228859718700943

Sejak pagi hari seluruh panitia dan umat Hindu Kupang melaksanakan persiapan akhir sebelum kegiatan piodalan dimulai. Pada siang hari, Tapakan Ida Bhatara dari Pura Agung dijadwalkan tiba di Pura Oebanantha, disusul kehadiran Wali Kota Kupang sebagai Guru Wisesa, Pemerintah Daerah sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya dan kehidupan keagamaan umat Hindu di Nusa Tenggara Timur. Puncak piodalan ini menjadi momentum spiritual tertinggi yang mempertemukan nilai bhakti, tradisi, dan kebersamaan umat dalam satu persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

6161228859718700939

6161228859718700942

IMG 20260615 144841

Sebagai penutup rangkaian karya, pada 18 Juni 2026 dilaksanakan prosesi Nganyarin dan Nyineb yang dipuput oleh Rsi Bojana dalam wujud Rsi Yadnya. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian yadnya sekaligus mengembalikan energi sakral yang telah dihadirkan selama upacara ke tempat dan kedudukannya masing-masing sesuai tata ritual Hindu. Dengan demikian, Piodalan Agung Tahun ke-10 Pura Oebanantha tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun pura, tetapi juga manifestasi nyata ajaran Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.(Guntara)

Editor : Rygun
Sumber dan Foto : www.hindukupang.com, grup whatsapp Hindu Kupang, dan Dewa Putra Utama (Alumni PD.KMHDI NTT)

Kumpulan Foto-Foto Kegiatan bisa Kunjungi Disini.

6161228859718701049

Baca Juga : Kelulusan Siswa-Siswi SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kupang NTT 2026 Dalam Pentas seni "Unity Bloom" Tekankan Pendidikan Sebagai Jalan Menuju Kesuksesan

Baca juga : Wali Kota Kupang Christian Widodo Apresiasi Semangat Toleransi Dan Solidaritas Kebersamaan Umat Hindu Kupang Dalam Dharma Santi Nyepi 1948 Saka Tahun 2026

Baca Juga : Dharma Santi Nyepi Nasional 2026 Di Taman Werdhi Budaya Art Center Denpasar Bali, Tegaskan Tat Twam Asi, Tri Hita Karana Dan Persaudaraan Dalam Semangat "Vasudhaiva Kutumbakam, Satu Bumi, Satu Keluarga, Harmoni Nusantara Indonesia Maju”

Baca Juga : Umat Hindu Kupang Gelar Ritual Tawur Kasanga dan Pawai Ogoh-Ogoh Sambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948/2026

Baca Juga : Ribuan Umat Hindu Kupang NTT Gelar Prosesi Melasti Jelang Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 Dalam Semangat "Vasudaiva Kutumbakam"

Baca Juga : Donor Darah Bagi Kemanusiaan Sambut Datangnya Tahun Saka 1948/2026, Panitia Hari Suci Nyepi Kota Kupang Himpun 59 Kantong Darah Serta Perkuat Harmoni Toleransi Antarumat Beragama

Baca Juga : Simakrama Forum Alumni KMHDI Bali Teguhkan Semangat Konsolidasi Kader Dan Gagasan Masa Depan Bali

 Baca Juga : Rumah Kebangsaan Dan Kebhinnekaan “KaKek” Rayakan Tiga Tahun Pengabdian Dalam Semangat Hari Kebangkitan Nasional Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara

Baca Juga : SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Kota Kupang Raih Juara III Di Filosi Robotic Competititon 2026 Provinsi Nusa Tenggara Timur

Baca Juga : Dinas Pendidikan Kota Kupang Gelar Olimpiade Sains Nasional OSN 2026, SD Hindu Adi Widyalaya Saraswati Meraih Peringkat 6 Besar Kategori IPA Dari 158 Sekolah Dasar Dan Siap Harumkan Nama NTT

Baca Juga : Lokakarya Penguatan Empat Pilar Pembangunan Manusia Hindu Digelar Di Kupang NTT

Baca Juga : Rayakan HUT ke-38, WHDI Kota Kupang Gelar Turnamen Bulu Tangkis dan Berdayakan UMKM

Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama Dari Nusa Tenggara Timur Teguhkan Persatuan Gotong Royong Dan Komitmen Kemanusiaan

Baca Juga : Doa Bersama Lintas Agama di NTT : Pesan Damai untuk Indonesia dari Gedung Sasando

Baca Juga : "Guru Wisesa" Gubernur NTT Bersama Wakil Gubernur NTT Buka Perayaan HUT RI ke 80 Tahun Dengan Semangat Ayo Bangun NTT Dalam Acara Kirab Budaya NTT "BaGaYa" : Bangun Generasi Angkat Kreativitas Yakin Berkarya Tahun 2025

Baca Juga : Bhakti Untuk Regenerasi, MPAB ke XX Mahasiswa Hindu PD.KMHDI NTT : "Melahirkan Kader Hindu Berjiwa Pemimpin”

Baca Juga : Audiensi Bersama Gubernur NTT Melki, Mahasiswa Hindu PD KMHDI NTT Tekankan Akses Jalan Pura Oebanantha , Pemerataan Pendidikan, Penguatan UMKM Serta Jaminan Perlindungan Kesehatan Sosial Masyarakat NTT

Baca Juga : Berita dan informasi Hindu Kupang dan Hindu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), serta Hindu Dharma di Nusantara Indonesia

Baca Juga : Sharing Dharma "ShaDhar" Hindu Kupang NTT, Kemanusiaan yang Menyala di Bawah Terang Purnama

Baca Juga : Hindu Kupang "PEKA Peduli Kasih" Salurkan Bantuan untuk Keluarga Disabilitas, Seimbangkan Yadnya dan Kemanusiaan Wujudkan Tri Hita Karana