IMG 20171101 160713IMG 20171101 164846 1

OM Swastyastu

1 November 2017, umat Hindu merayakan hari raya Galungan, yaitu hari raya kemenangan Dharma (Kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran). Pada hari Buda Kliwon Dungulan ini pun bertepatan dengan Piodalan Pura Oebananta sekaligus Nutug Karya, karena telah dilaksanakannya Upacara Ngenteg Linggih Pura Oebananta yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Panji Sogata setahun lalu. Upacara Nutug Karya adalah sebagai wujud bhakti umat Hindu Kupang mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena semua rangkaian Upacara Ngenteg Linggih telah berjalan dengan baik dan lancar.
Rangkaian Upacara Nutug Karya pada Hari Raya Galungan ini yaitu : Melasti,  Mecaru, Mapepada, Ngelinggihan Ida Bhatara, Pewintenan, Penglukatan, Sembahyang Hari Raya Galungan, Dharma Wacana, dan Nunas Tirtha serta Bija.

nutug1

Hari raya Galungan, pagi ini jam 09.00 WITA, dimulai dengan Upacara Melasti di Pura Manik Segara Oeba, yaitu mengambil Tirtha Amertha di tengah lautan dengan menghaturkan persembahan ayam hitam dan bebek hitam sebagai Pekelem, dan Yadnya Suci sebagai banten upakara yang dihanyutkan semuanya ke tengah lautan, kemudian dilanjutkan dengan memberikan Air Tirtha yang diambil dari tengah lautan kepada Semua Pralingga Pura-Pura yang ada di Kupang dan persembahyangan bersama umat hindu kupang.

Pada Sore hari, jam 15.00 WITA, dilakukan Upacara Mecaru, dan rangkaian Piodalan Pura Oebananta. Piodalan bermakna sebagai hari merayakan berdirinya PURA sebagai suatu tempat suci umat hindu dan dilakukannya Upacara Ngenteg Linggih, sehingga seluruh umat merayakannya dengan melaksanakan Persembahyangan bersama diikuti dengan Tari-Tarian Suci (sakral) dan Tarian Hiburan kepada seluruh umat hindu kupang.Upacara Mecaru ini dilakukan bertujuan menyucikan dan menyeimbangkan Pura dari segala unsur Panca Maha Bhuta dan dari segala penjuru mata angin, agar Pura sebagai tempat yang Suci bisa memberikan vibrasi energi yang SUCI juga kepada Alam Semesta dan seluruh umat manusia.
Setelah dilakukan mecaru, dilanjutkan dengan Pementasan Tarian Rejang Dewa, dan Tarian Topeng Sidakarya, Tarian Topeng Tua, serta Mepepada/mengelilingi seluruh pelinggih yang ada di Utama Mandala Pura Oebananta. Kemudian Sang Yajamana sebagai Pemimpin Upacara Nutug Karya yaitu Ida Pedanda Gde Panji Sogata (dari Jakarta), melakukan Doa Mantra Puja segala banten Upakara yang sudah disediakan oleh umat Hindu Kupang NTT sebagai Puncak dari Rangkaian Upacara Nutug Karya Piodalan Pura Oebananta.

IMG 20171101 155139 IMG 20171101 155839e


Pada jam 17.30 WITA, dilakukan pewintenan Pinandita, dan juga penglukatan umat, serta ada yang upacara magedong-gedongan, dan juga upacara 3 bulanan yang dipimpin oleh Ida Pedanda Gde Panji Sogata. Tepat Jam 18.00 WITA, dilakukan Puncak Persembahyangan bersama seluruh umat hindu kupang, dilanjutkan dengan Dharma Wacana, pengumuman dan pemberian air suci tirtha dan bija (beras) kepada seluruh umat hindu kupang oleh para Pinandita.
Seusai persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan pementasan hiburan tari-tarian kesenian yaitu Tarian Rejang Renteng, Tarian Gopala, Tarian Sekar Jagat, tarian Margapati, dll yang disaksikan oleh seluruh umat hindu yang hadir, dengan penampilan sekehe gong dan diakhiri makan bersama persembahan yadnya suci (Nunas Prasadam). Besok 2 November 2017, jam 08.00 WITA akan dilaksanakan NYINEB dan persembahyangan bersama Ida Pedanda Gde Panji Sogata serta seluruh Pralingga Pura akan kembali ke Pura masing-masing.

Selamat Hari Raya GALUNGAN (1 November 2017) dan KUNINGAN (11 November 2017) Kepada Seluruh Umat Hindu.
Semoga selalu dalam kemenangan Dharma.
Hanya Kebenaranlah yang akan menang bukan ketidakadilan.
Satyam Eva Jayate Nanrtam

OM Santi Santi Santi OM

Photo by : Rary Triguntara
Copyright : www.hindukupang.com

IMG 20171101 155413IMG 20171101 154917

IMG 20171101 155013IMG 20171101 155022

IMG 20171101 174333IMG 20171101 174503

IMG 20171101 174523

IMG 20171101 190417IMG 20171101 193641

IMG 20171101 193208IMG 20171101 194213

 

Video NGENTEG LINGGIH PURA OEBANANTA KUPANG NTT :

 Marapu0  Marapu1 Marapu2


Konsultasi Tokoh Marapu Sumba dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) NTT dan PHDI Pusat pada tanggal 28 - 30 Agustus 2017 dilakukan di Grand Mirah Hotel Denpasar Bali. Acara yang dilaksanakan pada hari pertama adalah konsultasi, arahan dan perkenalan bersama 11 Tokoh Marapu (Rato) yang datang dari Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan Ketua PHDI Pusat, Dirjen Bimas Hindu, dan Ketua PHDI Provinsi Bali. Yang diundang pada kegiatan tersebut untuk menyaksikan adalah Ketua PHDI Kabupaten Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur dan juga hadir perwakilan PHDI NTT (sekretaris) serta Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT.

Marapu22Serah Terima Cinderamata Parang dari Rato Lado Regi Tera (Tokoh Marapu Sumba NTT) Kepada
Prof. Drs. I Ketut Widnya M.A., M.Phil., Ph.D. (Dirjen Bimas Hindu) dan Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (Ketua PHDI Pusat)

Di Hari kedua dilanjutkan dengan PHDI beserta Rato Lado Regi Tera bersama seluruh Tokoh Marapu Sumba berkunjung ke Pura Penataran Agung Besakih, di Kabupaten Karangasem Bali, dan Pura Ulundanu Batur Kabupaten Bangli, Bali. 

Di Pura Besakih dilakukan Upacara Sudi Wadani untuk 11 orang Rato yang sebelumnya sebagai penganut kepercayaan Marapu kemudian menjadi penganut agama Hindu setelah mengajukan permohonan kepada Ketua PHDI Pusat, dengan prosesi penyerahan persembahan sebagai wujud terima kasih, pada saat proses Upacara Sudi Wadani. Kemudian dilakukan penyerahan sertifikat Sudhi Wadani kepada sebelas orang Rato yang sudah di Sudikan menjadi Hindu.

Setelah selesai pelaksanaan Upacara Sudhi Wadani di Pura Besakih, dilanjutkan dengan Persembahyangan di Pura Ulundanu Batur Kabupaten Bangli. Disini para Rato bertatap muka dengan Pengempon Pura Ulundanu Batur sebelum melakukan persembahyangan. Malam harinya dilanjutkan persembahyangan di Pura Jagatnatha Denpasar Bali. Di Hari ketiga semua peserta kembali ke daerah masing-masing.

Warga asli Sumba penganut kepercayaan Marapu, yaitu percaya kepada Sang Penguasa Alam Semesta dan Para Leluhurnya.
Marapu adalah sebuah Kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Kepercayaan ini merupakan pemujaaan kepada nenek moyang dan leluhur.
Marapu adalah kepercayaan asli atau "sumbu hidup" nenek moyang penduduk Sumba, baik selama di bumi maupun di dunia lain. Sumbu hidup itu hingga kini masih diyakini oleh sebagian besar masyarakat. Ini dibuktikan dengan masih kuatnya norma Marapu menjadi acuan dalam mengatur tatanan sosial warga sehari-hari dengan kepercayaan kepada Penguasa Alam Semesta dan Leluhurnya.

Tidak ada kitab suci atau buku panduan tentang aliran marapu. Ajarannya hanya diturunkan dari mulut ke mulut. Akibatnya, keaslian ajaran tak lagi sama dalam pandangan penganut Marapu, bahkan bagi Rato atau Tokoh Marapu sekalipun. Namun ucapan yang disampaikan sang Rato ini dipercaya sebagai perkataan Tuhan yang berisi tuntunan hidup.

Pada 27 Agustus - 30 Agustus 2017 , Berbagai perwakilan Tokoh Marapu dari Kabupaten Sumba Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebanyak 11 Orang tiba di Bali dan mengikuti Konsultasi, pengenalan bersama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Acara pun ditutup dengan penyerahan sertifikat oleh PHDI kepada seluruh Tokoh Marapu yang sudah hadir di Pura.  Untuk mengetahui informasi perkembangan Marapu bersama Parisada bisa menghubungi langsung tim PHDI Pusat Jakarta.

OM Anobadrah Kratawyu Yantu Wiswatah, OM Loka Samesta Sukhino Bhawantu..
Semoga Pikiran Yang Baik Datang Dari Segala Penjuru, serta Seluruh Alam Semesta Beserta isinya selalu hidup Berbahagia.
Damai di hati, damai di dunia, damai selamanya

 Marapu3Marapu6Marapu7

Marapu4

Marapu5Marapu8Marapu9

 Marapu10Marapu11 

 Marapu12

Marapu13Marapu14

Marapu15Marapu16

Marapu18Marapu17

Marapu19Marapu21Marapu20

 

HUT RI 72

Umat Hindu di Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama unsur TNI melaksanakan Persembahyangan (Doa Bersama) dalam rangka memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 72 yang saat ini bertepatan dengan tanggal 17-17-17 , pukul 17:17 WITA.
Doa bersama yang dilakukan bertujuan untuk membuat "Indonesia Lebih Kasih Sayang" yang juga dilaksanakan serempak di seluruh Indonesia, dan di berbagai tempat ibadah masing-masing. Doa Bersama ini turut hadir pengempon Pura Oebananta, Ketua PHDI Kota Kupang, Mayor Chb I Wayan Subrata, dan Mayor Ckm I Ketut Sukresno, dan unsur TNI AL, AD dan AU, serta Polri.
Persembahyangan dipimpin oleh Pinandita Jro Gede Dwija Dewa Ketut Alit , yaitu Puja Tri Sandhya dan Kramaning Sembah serta Dharma Wacana untuk memberikan pemahaman akan pentingnya Semangat Kerukunan, Kedamaian dan Nasionalisme guna menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia dalam semangat bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

OM Anobadrah Kratawyu Yantu Wiswatah
Semoga Seluruh Alam Semesta Beserta Isinya Selalu Hidup Berbahagia
Damai di hati, damai di dunia , damai selamanya.
OM Santi Santi Santi OM.

Utsawa Dharma Gita NTT dan Peserta Dayak Kalimantan

Utsawa Dharma Gita (UDG) tingkat Nasional ke 13 yang diselenggarakan di Palembang Provinsi Sumatra Selatan, pada tanggal 6-10 juli 2017 diikuti oleh seluruh kontingen peserta umat Hindu dari berbagai Provinsi di Indonesia. Utsawa Dharma Gita (UDG) adalah Lomba Pembacaan kitab Suci Weda (Vedic) yang dilaksanakan setiap 3 tahun sekali, berbagai lomba yang dilakukan diantaranya yaitu : Pembacaan Sloka, Palawakya, Ceramah Dharma Wacana Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, Dharma Widya (Cerdas Cermat), serta Kekawin/mekidung.
Pada Utsawa Dharma Gita (UDG) ke 13 ini, kontingen Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meraih prestasi sebanyak 7 Juara.

Selamat Atas 7 Juara yang diraih oleh kontingen Provinsi NTT dalam Utsawa Dharma Gita (UDG ke13) tingkat Nasional di Palembang 6-10 juli 2017, yaitu :
a. Juara III Palawakya Dewasa Putri.
b. Juara III Sloka Dewasa Putra.
c. Juara III Dharma Wacana Bahasa Inggris Remaja Putri.
d. Juara Harapan I Palawakya Remaja Putra.
e. Juara Harapan I Palawakya Remaja Putri.
f. Juara Harapan I Dharma Wacana Bahasa Indonesia Anak Putri
g. Juara Harapan I Dharma Widya (cerdas cermat) SMA.

Semoga hasil juara yang diperoleh bisa diaplikasikan kepada seluruh masyarakat , dalam pembinaan dan pelayanan umat Hindu di wilayah masing-masing.

Satyam Eva Jayate Nanrtam
Sumber Foto Alumni KMHDI NTT : Ni Made Suni

 

27 Maret 2017, Panitia Nyepi Kota Kupang melaksanakan Pawai Ogoh-Ogoh yang baru dilaksanakan pertama kalinya sesuai Waktu yang tepat, yaitu hari Pengrupukan dan sekaligus melaksanakan Tawur Kesanga di Lapangan MAPOLDA NTT guna menyucikan segala perempatan atau catus pata yang dilewati oleh OGOH-OGOH. Ketua Panitia Nyepi 2017 Hindu Kupang yaitu Bapak I Wayan Wira Susana mengatakan Pawai Ogoh-Ogoh yang dipentaskan sebanyak 6 OGOH-OGOH yaitu 3 ukuran anak-anak dan 3 OGOH-OGOH ukuran dewasa.

Perempatan Catus Pata yang dilalui dan disucikan diantaranya :
Perempatan Patung Kirab Fatululi, Perempatan BI Kantor Gubernur NTT dan Perempatan Polda NTT.

Pawai Ogoh-Ogoh dan Tawur Kesanga oleh umat hindu kupang tahun 2017 di berbagai Perempatan atau Catus Pata bertujuan memberikan vibrasi energi keseimbangan dan penyucian Jagat antara Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (mahluk hidup) di sekitar Kota Kupang sehingga berdampak kedamaian pada Masyarakat kupang serta masyarakat di provinsi Nusa Tenggara Timur secara umum.

Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Panitia NYEPI 2017 beserta Umat Hindu Kota & Kabupaten Kupang dalam menyambut Tahun Baru Saka 1939  sesuai TRI HITA KARANA yaitu :

1. Parahyangan : Melasti (25 maret), Pawai Ogoh-Ogoh & Tawur Kesanga (27 maret 2017)
2. Pawongan : Donor Darah & Pembagian Sembako (19 maret di Taman Nostalgia) & Pengobatan Gratis di Lembaga Pemasyarakatan Dewasa Penfui Kupang (24 Maret 2017) serta Dharma Santi Nyepi di aula rumah jabatan Walikota Kupang NTT (8 April 2017).
3. Palemahan : kerja bakti, penanaman pohon di taman Nostalgia dan penghijauan di jalur 40 (19 maret 2017).

Read more: Film Ogoh-Ogoh NYEPI 1939 Saka di Kupang NTT