5

 

“MENGAPA PERLU BANTEN DAN SULINGGIH”

Oleh: Ida Rsi Bhagawan Smerti

 

Seseorang mengajukan beberapa buah pertanyaan yang dikutip dari salah satu kitab suci sebagai berikut :
“Dengan api, air, bunga dan buah yang kau haturkan kepada-Ku maka Aku akan terima. Dengan cara apa pun itu kau datang kepadaku maka Aku akan terima.

Oleh karena titiang (saya) kurang mendalami ajaran-ajaran Agama Hindu maka dalam hati saya bertanya-tanya, jika demikian?”
Mengapa kita membuat banten yang sulit dan memakan biaya, katanya hanya cukup dengan api, air, bunga dan buah saja sudah diterimaNYA?”

Jawabannya ; Bhagawadgita Bab IX tentang Raja Vidyaraja Guhya Yoga, Sloka ke 26 menyatakan “ patram puspam phalam toyam yo me bhaktya prayacchati tad aham bhakty upahritam asnami prayatatmanah “ artinya: “Siapapun yang sujud bakti kepada-Ku dengan persembahan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.”

Membaca Bhagawadgita, yaitu rangkuman percakapan antara Sri Krisna sebagai awatara Wisnu dengan Arjuna di medan perang Kuruksetra, tidak bisa dengan cara pemahaman yang sepotong-sepotong justru malah akan menjadi rancu. Jangan pula diterjemahkan sesuai kehendak hati dari sudut pandang yang sempit akan menjadi sebuah pembenaran yang membikin sebuah kegaduhan dari sloka suci akibat dari pemahaman yang salah yang berbicara sesuai dengan maksud kepentingan diri.

Seluruhnya ada delapan belas Bab dan 700 sloka. Bab ke-17 adalah percakapan mengenai “Sraddhatraya Vibhaga Yoga”, di mana Arjuna mengajukan pertanyaan kepada Sri Krisna: “Bagaimana kalau seseorang mengadakan upacara dengan penuh khidmat dan kepercayaan tetapi melalaikan dari petunjuk-petunjuk kitab suci?”



Sri Krisnya menjawab bahwa ada tiga macam kepercayaan yang masing-masing tergantung kepada tiap-tiap individu dengan sifat-sifatnya, yaitu baik-mulia (sattwa), aktif bernafsu (rajas), dan gelap-bodoh (tamas). Yang bersifat sattwa pergi memuja Dewata, dia makan makanan yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan, mengadakan upacara menurut petunjuk kitab suci, bermeditasi dengan keyakinan mendalam, bersedekah tanpa mengharapkan kembali. Yang bersifat rajas pergi memuja yaksha dan raksasa makan makanan yang serba banyak rempah, mengadakan upacara dengan harapan akan pahala, suka bersamadi dengan maksud supaya dipuji dan disegani, bersedekah dengan harapan mendapat imbalan yang lebih banyak kembali. Yang bersifat tamas pergi memuja roh orang mati dan setan, makan makanan yang tidak sehat, mengadakan upacara tidak menurut peraturan, bertapa beratha dengan pengertian kurang, bersedekah pada waktu dan kesempatan yang salah. Upacara, sedekah dan tapa beratha yang tidak disertai dengan kepercayaan tidak ada artinya.

6

Segala sesuatu di dunia ini berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, apakah yang mungkin kita persembahkan kepada-Nya?

Banten beserta segala perlengkapannya semuanya milik-Nya; tanpa dipersembahkan pun sudah milik-Nya. Jadi yang kita persembahkan hanyalah rasa cinta kasih yang kita miliki sebagai wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Masalahnya, bagaimana kita mewujudkan cinta kasih kita kepada-Nya, karena manusia yang mempunyai keterbatasan pengetahuan ingin semuanya dalam wujud yang nyata. Manusia mewujudkan perasaan hatinya dengan perilaku yang dimengerti secara nalar. Demikianlah para Maha Resi atas segala wahyu-wahyu yang telah diterimanya dengan menciptakan banten sebagai “niyasa” atau simbol perwujudan cinta kasih kepada-Nya. Bhagawadgita-pun memberi peluang ke arah ini: “Demi kepuasanmu engkau memberi nama dan wujud kepada-Ku, tetapi sesungguhnya Aku sama sekali tidak bernama dan tidak berwujud.”

Kita membuat banten untuk membawa perasaan kita berjenjang setahap demi setahap sujud bhakti kepada-Nya. Mulai sejak mengumpulkan bahan-bahan, mejejahitan, metanding, menjunjung ke Pura, lalu menaruh banten di palinggih, semua dilakukan dengan penuh hidmat, hati-hati, dan dengan perasaan kasih yang melimpah kehadapan-Nya. Setelah itu banten disucikan dan diantarkan puja-nya oleh Sang Wiku untuk dihaturkan kepada-Nya. Semua prosesi itu membawa kepuasan bathin yang tiada tara kepada kita, sehingga setelah upacara selesai, perasaan kita lega karena sudah memuja-Nya.

“Apakah maknanya?”. Apakah Ida Sang Hyang Widhi Wasa mengharapkan semuanya dari persembahan material itu?” Jawabnya tentu Tidak ; karena Beliau sudah memiliki semuanya. Beliau hanya memperhatikan cinta kasih yang tulus dan suci yang keluar dari lubuk hati kita yang paling dalam untuk menghadap Beliau. “Untuk siapakah cinta kasih yang kita wujudkan itu?” Hanya untuk kita sendiri!! Tiada seorang pun yang tahu rahasia hati kita kepada-Nya. Jika kita dekat dengan-Nya maka Beliau pun akan dekat kepada kita; sebaliknya jika kita jauh dari-Nya maka Beliau pun juga akan jauh dari kita, walaupun Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu kasih kepada semua ciptaan-ciptaan-Nya.

8

Selanjutnya Bhagawadgita Bab III mengenai Karma Yoga, Sloka 12 : isthan bhogan hi vo deva, dasyante yajna bhavitah, tair dattan apradayaibhyo yo bhunkte stena eva sah. artinya: “Dengan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa maka Beliau akan memberkahi kebahagiaan bagimu, mereka yang tiada membalas rahmat ini kepada-Nya, sesungguh nya adalah pencuri.”

BG III, Sloka 13 : “ yajna sistasinah santo, muchyante sarva kilbishaih, bhujante te tv agham papa ye pachanty atma karanat “ artinya: “Yang baik makan setelah upacara bhakti akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini sesungguhnya makan dosa.”

BG III Sloka 14: “anand bhavanti bhutani, parjanyad anna sambhavah, yajnad bhavati parjayanyo, yajnah karma samudbhavah. artinya: “Karena makanan mahluk hidup, karena hujan makanan tumbuh, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir karena kerja.”

BG III, Sloka 12-13-14 ini menyimpulkan bahwa wujud bhakti kita kepada-Nya antara lain mempersembahkan “sarin tahun” atau hasil kerja kita terlebih dahulu kepada-Nya setelah itu barulah kita “ngelungsur.”

Ada dua istilah yang dikenal dalam rangkaian Yadnya, yaitu “upacara” dan “upakara”.

  1. Istilah upacara terdiri dari dua kata, yaitu “upa” artinya “berhubungan dengan” dan “cara” artinya “gerakan/ aktivitas/kegiatan” Jadi upacara artinya kegiatan/ pelaksanaan suatu yadnya dengan proses tertentu.
  2. Istilah upakara terdiri dari dua kata, yaitu “upa” artinya seperti tersebut di atas, dan “kara” artinya “perbuatan/ pekerjaan dengan tangan”. Upakara adalah segala sesuatu berbentuk materi yang dibuat dengan tangan untuk keperluan upacara. Secara visual upakara antara lain berbentuk banten.

Dalam Bhagawadgita Bab II, sloka 10 ada dijelaskan tentang landasan Yadnya. Bahwa tujuan kita mengadakan upacara sebagai landasan yadnya adalah untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara Ida Sanghyang Widhi Wasa, manusia, dan alam, dalam keterkaitan sebagai berikut:

Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Prajapati) ber-yadnya menciptakan manusia dan alam Manusia (Praja) ber-yadnya untuk Prajapati dan alam Kamadhuk (alam) memberikan kemakmuran kepada manusia Manusia yang melaksanakan upacara Yadnya disebut melaksanakan Karma Yoga.

Lontar Yadnya Prakerti menjelaskan pula bahwa banten adalah “lambang”: Ida Sanghyang Widhi Wasa, manusia, dan alam. Banten berasal dari kata “wanten” sebagai pengembangan kata “wantu” yang artinya dalam Bahasa Indonesia: bantu; jadi banten adalah alat bantu bagi manusia Hindu dalam berkonsentrasi mewujudkan bhakti dan cinta kasihnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena itu di beberapa daerah di Bali, banten juga disebut sebagai bhakti. Manusia membutuhkan alat bantu dalam berkonsentrasi ke hadapan-Nya, karena keterbatasan pengetahuan (jnana).

Bagi para Maha Resi yang tingkat jnana-nya sudah tinggi, tidak banyak menggunakan alat bantu dalam berhubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dari lontar Dwijendra Tattwa dapat dibaca bahwa Ida Dang Hyang Dwijendra (Dang Hyang Nirartha) yang tinggal di Bali di abad ke-15 Masehi mempunyai tingkat jnana yang sangat tinggi, sehingga beliau digelari pula Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.

Beliau tidak menggunakan alat bantu dalam berhubungan dengan Yang Maha Kuasa, bahkan ketika sampai waktunya Beliau MOKSA di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Pura Uluwatu.
Di zaman kini, belum ada umat Hindu di Bali yang tingkat jnana-nya tinggi, sehingga kita masih memerlukan alat bantu antara lain banten itu tadi.

Menurut fungsinya, banten dapat dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:

  1. Banten sebagai palinggih Ida Sanghyang Widhi Wasa atau manifestasi-Nya, misalnya: dewa-dewi, daksina linggih, lingga, sanggahurip, puspa, dll.
  2. Banten sebagai pensucian misalnya: banyuawang, prayascita, durmenggala, padudusan, dius kamaligi, dll.
  3. Banten sebagai pesaksi, misalnya: suci, ardenareswari, catur, cane, peras, guru, panca saraswati, gana, dll.
  4. Banten sebagai ayaban (kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa dan/ atau Manifestasi-Nya) misalnya: sesayut pengambean, dedari, pulagembal, bebangkit, tadah pawitra, tadah sukla, tadah kala, canang meraka, daksina, ajuman, saiban, byakala, caru, gana, jerimpen, sarad, dll.
  5. Banten sebagai tataban (kepada manusia) misalnya sambutan. Jenis banten untuk tataban memang sedikit, karena banten untuk ayaban bisa merangkap sebagai tataban dalam pemahaman bahwa manusia ngelungsur tataban dari ayaban Ida Bethara. Yang perlu dipikirkan sekarang adalah upaya untuk menyederhanakan jumlah dan jenis banten agar upacara dapat diselenggarakan dengan efektif dan efisien, terjangkau oleh umat yang taraf kehidupannya sederhana.

Bila memahami pengelompokan banten seperti yang diuraikan di atas, dengan mudah dapat ditentukan banten-banten apa saja yang diperlukan dalam suatu upacara.

Pertama, tetapkanlah banten pesaksi, karena ini yang dinamakan “hulu” sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menyaksikan/ mensahkan penyelenggaraan upacara. Setelah itu tetapkan pula banten pesucian yang berfungsi mensucikan upakara. Kemudian tetapkan banten palinggih Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi-Nya yang akan dihaturi persembahan. Selanjutnya tetapkan banten ayaban dan tataban sesuai dengan tujuan upacara.

Perimbangan dari jenis banten agar sepadan dan berpedoman ke “hulu”. Bila hulunya menggunakan suci, yang lain-lainnya (atau “teben”) jangan menggunakan banten yang lebih tinggi dari suci.

Demikian pula mengenai banten ayaban, gunakan hanya ayaban untuk manifestasi-Nya yang sesuai dengan tujuan upacara; misalnya dalam upacara perkawinan, kita tidak perlu memakai banten gana karena yang kita puja dalam upacara itu adalah Sang Hyang Semara-Ratih. Demikian seterusnya ke banten-banten lainnya.

Dalam menyelenggarakan upacara, konsep : Desa – Kala – Patra digunakan dengan pemahaman sebagai berikut: “Desa” adalah penggunaan upakara yang sesuai dengan bahan-bahan yang tersedia di daerah itu. “Kala” adalah penyelenggaraan upacara sesuai dengan waktu yang tersedia (misalnya lamanya cuti/ liburan yang bisa dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upacara) “Patra” adalah keadaan ekonomi atau kemampuan material yang ada untuk menunjang upacara

Dewasa ini masalah “Patra” inilah yang perlu dikaji dengan tujuan bagaimana caranya menyelenggarakan upacara sesuai dengan kemampuan material, agar tidak sampai berhutang atau menjual barang-barang berharga.

Untuk itu perlu kesadaran “Tri Manggalaning Yadnya”, yaitu :

1. Sang Yajamana, yaitu mereka yang beryadnya,

2. Sang Widia, yaitu tukang banten,

3. Sang Sadaka, yaitu Sulinggih yang muput karya.

4

Kesadaran Sang Yajamana adalah tidak memaksakan diri berupacara secara mewah di luar batas kemampuannya antara lain dengan motif-motif gengsi, demonstrasi, lebih ke rasa malu, dll.

Kesadaran Sang Widia adalah tidak menggunakan kesempatan menjual banten dengan harga yang sangat berlipat-lipat dari harga pokok; Sang Widia hendaknya mau berpikir bahwa profesinya itu adalah di jalan Dharma.

Kesadaran Sang Sadaka adalah tidak menetapkan “tarif” yang tinggi bagi jasanya muput karya.

Beliau hendaknya juga berfikir bahwa sasana Kawikon adalah tidak mengejar materi keduniawian, bahkan wajib membantu umatnya yang miskin, sebagaimana kutipan Bhagawadgita Bab XVIII, mengenai Samnyasa Yoga, sloka ke-2: sribhagavan uvaca : “kamyanam karmanam nyasam, samnyasam kavayo viduh, sarva kharmaphala tyagam vichakshanah” artinya: “Sri Bhagawan (Sri Krisna) menjawab : Para Pandita menyatakan samnyasa, tidak melaksanakan kerja yang didorong nafsu, dan menolak pahala semua kerja, oleh orang arif bijaksana dikatakan tyaga”.

Menurut jumlah dan jenis upakara, maka upacara Yadnya ada tiga tingkat, yaitu: Utama, Madya, dan Kanista. Pemilihan tingkat itulah berdasarkan konsep desa-kala-patra tadi. Tingkat upacara yang Kanista tidak berarti lebih rendah dari tingkat Madya dan Utama. Demikian pula tingkat yang Utama tidak berarti lebih super dari tingkat Madya dan Kanista.

Kembalilah pada bagian awal dari pembicaraan kita tadi bahwa diterima atau tidak diterimanya sebuah persembahan kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tergantung dari: ketulusan hati, kesucian pikiran/ perkataan/ perbuatan, dan kepasrahan kita pada kehadirat-Nya.

“Mengapa repot meminta Suliggih yang muput upacara, kan lebih mudah menyuruh orang tua kita; I Meme atau I Bapa saja dikenakan baju putih lalu muput upacara, toh dengan cara apapun kita datang kepada-Nya akan diterima?”

Jawabannya ; penjelasnya secara gamlang sebagai berikut : Bhagawadgita Bab IV, tentang Jnana Yoga, sloka ke-11 berbunyi: “ ye yatha mam prapadyante, tams tathai va bhajamy aham, mama vartma nuvartante, manusyah parth sarvasah” artinya: “jalan mana pun ditempuh manusia, kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana-mana semua mereka, menuju jalan Ku oh Parta”.

Dalam sloka ini Sri Krisna menyatakan kepada Arjuna (Parta) betapa Tuhan/ Ida Sanghyang Widhi Wasa menemui tiap orang yang mengharapkan karunia dari-Nya dan menerima mereka yang menempuh jalan-Nya. Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak ingin menghapus harapan tiap-tiap orang yang tumbuh menurut kodratnya dan tidak memihak. Hanya pada masing-masing orang yang menurut jalan dan kepercayaannya sendiri untuk mencapai Tuhanlah terletak ada perbedaan, yang bukan merupakan pilihan-Nya.

Jalan upacara, jalan sembahyang, jalan falsafah, atau jalan meditasi semuanya menuju Tuhan/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang satu. Di sini Sri Krisna tidak menyebut cara atau jalan yang tertentu untuk mencapai hubungan dengan Tuhan/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sebab semuanya menuju Tuhan Yang Maha Esa. Hanya orang yang belum tinggi tingkat spirituilnya tidak bisa mengakui cara atau jalan orang lain untuk mencapai Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kesimpulannya, sloka ini intinya memberi kebebasan tentang cara atau jalan yang dipilih manusia menuju Tuhan, dalam wujud pemahaman Agama Hindu, yaitu: Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga, dan Yogi (Raja) Marga, yang dapat dilakukan bersama-sama atau bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing individu.

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, yang menyangkut tentang tatacara nganteb banten atau muput suatu upacara, haruslah diperhatikan kesucian lahir bathin dan tingkat jnananya. Kesucian lahir adalah kebersihan fisik dan tata berpakaian yang suci.

Mengenai kesucian bathin, antara lain ada pada Bhagawadgita Bab IV tentang Jnana Yoga, sloka ke-10 berbunyi: “vita raga bhaya krodha, manmaya mam upasritah, bahavo jnana tapasa, puta mad bhavam agatah”. Artinya: “Terbebas dari hawa nafsu takut dan benci, bersatu dan berlindung pada-Ku, dibersihkan oleh kesucian budi pekerti, banyak yang telah mencapai diri-Ku”.

Selanjutnya Bhagawadgita Bab IX, tentang Raja Vidyaraja Guhya Yoga, sloka ke-34 berbunyi: “manmana bhava mad bhkato, mad yaji mam namaskuru, mam evaisyasi yuktvaivam, atmanam mat parayanah” artinya: “Pusatkan pikiranmu pada-Ku berbakti pada-Ku, bersujud pada-Ku sembahlah Aku, dan setelah engkau mendisiplinkan jiwamu, Aku jadi tujuanmu tertinggi kau akan tiba pada-Ku”.

Kemudian Bhagawadgita Bab XVII tentang Sraddhatraya Vibhaga Yoga, sloka ke-13 berbunyi: “vidhi-hinam asristannam , mantra-hinam adakshinam, sraddha-virahitam yajnam, tamasam parichakshate” . Artinya: “Upacara yang tidak menurut peraturan, di mana makanan tidak dihidangkan, tanpa ucapan mantra dan tanpa daksina, dan tanpa kepercayaan dinamakan tamasa”. (Tamasa artinya perbuatan yang bodoh dan malas).

Kesimpulannya adalah bahwa seseorang yang bertindak sebagai pemimpin upacara, yaitu “nganteb banten” bagi seorang Ekajati atau “muput karya” bagi seorang Dwijati hendaknya memperhatikan sloka-sloka tersebut di atas. Bukan hanya karena pakaian atau atribut lain yang menentukan seseorang boleh nganteb atau muput. Pakaian dan atribut yang dikenakan oleh seorang Pemangku atau seorang Pandita bukan sekedar pamer untuk ditunjukkan kepada orang lain, tetapi justru hanya untuk diri Beliau sendiri.

Misalnya seorang Pandita rambutnya di-prucut, adalah sebagai simbol “ngeret indriya”, berpakaian putih/ kuning sebagai simbol kesucian, membawa tongkat (teteken) sebagai simbol sudah lingsir yang patut menjadi suri tauladan generasi muda.
Dengan berpakaian seperti itu beliau selalu mengingatkan diri sendiri agar waspada, “eling ring raga”, menjaga ucapan pikiran dan perbuatan tidak menyimpang dari Trikaya Parisuda. Tetapi apabila orang tua kita sudah mampu mewujudkan sloka-sloka tersebut di atas, dengan teori dan praktek yang benar, boleh saja nganteb atau muput banten. Dan sudah melalui proses sakralisasi diri baik itu secara sekala niskala (mewinten atau medwi jati) semua orang berhak untuk mendharma bhaktikan rasa tulus baktinya pada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

Silahkan bantu share sebanyak-banyaknya bila like, suka dan setuju, mohon dibaca pelan-pelan dengan hati yang jernih berulang-ulang kali jangan sepotong-sepotong!!
RAHAYU…

www.hindukupang.com

Satyam Eva Jayate JAYA